ADAB BERZIKIR
Bila kita menyebut adab (peraturan) dan petuah-petuah berzikir maka hal ini meliputi adab dan cara-cara untuk melafazkan suatu Zikir dan aturan-aturan sebelum, ketika dan setelah berzikir..
- - - - - - - - - - - - - - -
Adapun adab sebelum, ketika dan setelah berzikir adalah :
.
1 ADAB SEBELUM BERZIKIR
- - - - - - - - - - - - - - -
(1) Orang tersebut hendaklah mem-bersih-kan dirinya dan memakai pakaian yang bersih lagi suci, seharusnya mengambil wuduh sebelum hendak berzikir.
(2) Seharusnya sebelum hendak memulai berzikir, bacalah dahulu Al-Fatihah dan Istighfar banyak-banyak sebagai pembuka jalan untuk menyucikan hati di samping memohon syafa’at dari pada Baginda Rasulullah SAW.
.
2 ADAB KETIKA BERZIKIR
- - - - - - - - - - - - - - -
(1) Duduk ditempat yang suci dengan cara bersila atau duduk seperti tahayat awal. sebaiknya hadapkan kedudukan kita ke-arah Baitullah.
(2) Letakkan kedua tangan keatas paha, yaitu tangan kanan diletakkan diatas paha kanan dan tangan kiri diletak keatas paha kiri.
(3) Pejamkan kedua belah mata kita rapat-rapat, sebisanya jangan membuka mata ketika berzikir.
(4) Hendaklah kita benar-benar menghadirkan diri kita didalam atau selama berzikir dan sesungguhnya cara untuk menghadir-kan diri selama berzikir adalah dengan kita mematikan diri kita, dimana kita harus merasai diri kita ini kosong, tiada berkuasa terhadap sesuatu apapun.
(LA HAYYUN, LA ILMUN, LA SAMIUN, LA BASHIRUN, LA KADIRUN, LA MURIDUN, LA MUTAKALLIMUN BIL HAQI ILLALLAH)
bacalah bacaan diatas ketika hendak memulai zikir.
(5) Hendaklah kita benar-benar meng-ikhlas-kanhati kepada Allah SWT.
(6) Sebaiknya memulai zikir dengan zikir
"LAA ILLAHA ILLAALLAH.
(7) Hendaklah menghadirkan diri kita pada setiap patah lafaz zikir yaitu dengan cara kita harus-lah mendengar setiap patah zikir yang di-lafaz-kan diikuti juga oleh setiap anggota zahir dan batin kita selama sedang berzikir.
(8) Hendaklah menilik diri kita (diri batin) selama melafazkan zikir disepanjang acara zikir tersebut.
- - - - - - - - - - - - - - -
3 ADAB SETELAH BER-ZIKIR
.
(1) Hendaklah berdiam diri se-saat ditempat berzikir setelah selesai dan hendaklah kita menilk diri kita (diri batin) melalui Ququssir yang terletak antara kening kanan dan kiri.
(2) Tahan-kan nafas kita se-saat dan lepaskan nafas kita itu secara perlahan-lahan dan di-ulangi sebanyak tujuh kali. Setelah itu silahkan mengucap :
(ASYAHADU ALLA ILLAHA ILLAALLAH WAASYHADU ANNA MUHAMMADDAR RASULLAH)
(3) Dan hendaklah menahan diri dari pada minum air selagi kita merasa haus selepas berzikir, ini bertujuan supaya ’"sari-pati’" khasiat zikir tersebut itu dapat masuk ke jantung dan tubuh kita seluruhnya.
- - - - - - - - - - - - - - -
Adapun cara-cara untuk melafazkan Zikir Af'al, Zikir Asma, Zikir Sifat dan Zikir Zat adalah seperti berikut, sebagaimana yang diamalkan oleh orang Hakiki dan Ma'rifat :
.
(1). CARA ZIKIR AF'AL
(LAA ILLAHA ILLAALLAH)
.
Adapun cara untuk melafazkan kalimah "LAA ILLAHA ILLALLAH"
itu adalah dengan cara kita melafazkan dengan cara perlahan (tidak nyaring), hanya sekedar untuk didengarkan oleh diri kita sendiri saja dan cara bacaannya adalah :
.
LAA ILLAHA ILLAALLAH = Dibaca panjang 3 ALIF (6 harakat)
Ketika melafazkan "LAA" itu hendak diucapkan dari pada mulut sampai ke pusat dan ketika melafazkan "ILLAAHA" itu dari pada arah pusat keubun-ubun , kemudianya dilafazkan pula "ILLA" dengan pendek dari ubun-ubun ke khulkum dan dihembukan dengan lafaz "ALLAH" dengan kuat sampai pusat menghela kejantung.
.
Setelah melafaz
"LAA ILLAHA ILLAALLAH" maka hendaklah di-teruskan didalam hati dengan kata
"LA MAUJUDU ILLALLAH.
- - - - - - - - - - - - - - -
(2) CARA ZIKIR ASMA (ALLAH)
.
Adapun cara-cara berzikir ALLAH itu hendaklah kita memulai dengan lafaz ALLAH yang pertama dengan panjang yaitu 2 ALIF (4 harakat) dari pada pusat naik ke-kepala (ubun-ubun) dan dongak-kan kepala kearah langit dan kemudian dilafazkan pula "ALLAH"
(HU ALLAH) yang kedua dengan kuat di-hembus-kan pada pusat dan mengalir kejantung kita dan melafazkan "ALLAH" yang kedua itu juga hendaklah di-panjang-kan dengan 2 ALIF (4 harakat).
Sebutkan ALLAH.. ALLAH.. itu dengan terang dan mengikuti makhraj-nya.
Silahkan tahankan Nafas sehingga kita dapat menyebutkan ALLAH.. ALLAH.. itu beberapa kali didalam satu Nafas.
Pada peringkat Awal Zikir ALLAH.. ALLAH.. itu hendaklah dibuat secara nyaring dimulut, tetapi kemudian diperlahankan sehingga tidak berbunyi pada mulut dan berzikir-lah didalam hati saja.
- - - - - - - - - - - - - - -
(3) CARA ZIKIR SIFAT (ALLAH HU)
.
Silahkan lihat cara berzikir ini didalam bab yang membahas Zikir Nafas.
- - - - - - - - - - - - - - -
(4) CARA ZIKIR ZAT (A HU)
.
Adapun zikir A HU itu hendaklah dibuat didalam hati semata-mata, dan cara me-lafaz-kan A HU dari pusat menghela ke ubun-ubun dan kemudian di-hembus-kan dengan kuat kepusat dan mengalir kejantung.
Tahan nafas ketika berzikir A HU sehingga dapat dibuat beberapa kali. ulangi zikir ini sebanyak mungkin yang dapat kita lakukan tentunya secara istiqomah.
🙏🙏🙏wasalam..
Kamis, 13 Juni 2019
CARA AGAR BERTUBUHKAN NUR
CARA AGAR BERTUBUHKAN NUR
MUSYAHADAH adalah bermesraan antara UJUD kepada DZAT-NYA seperti mesranya Cahaya dengan lampunya,
Pujinya HU-ALLAH
- - - - - - - -
SAKARATUL MAUT adalah saat RUHANI meninggalkan JASMANI, seperti kembalinya Cahaya lampu kepada lampunya,
Pujinya ALLAH-HU
Tinggallah Nyawa memuji Tuhannya dengan Pujinya AH - AH.
- - - - - - - -
Lalu.. kembalilah NYAWA kepada Empunya HAK, dengan pujinya :
"LAA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADAR RASULULLAH",
Tiada dengan huruf, Tiada dengan suara.
- - - - - - - -
Penjelasannya Tentang Syahadat Tauhid dan Syahadat Diri.. :
Syahadat Rasul + Syahadat Tauhid = Syahadat diri,
Lazimkan Syahadat diri Tanpa Suara, Naik Nafas sudah
"LAA ILLA HA ILLALLAH,
Turun nafas U..
"MUHAMMADURRASULULLAH",
Sampai Mesra.. Tidak boleh keluar, tarik perasaan sampai ke Hati.
Bunyi lagi
"LAA ILAAHA ILLA ANTA",
tahan Nafas tidak boleh keluar, langsung tarik Nafas keatas pelan-pelan
"LAA ILAAHA ILLA HUA",
berarti lebur, saat turun Nafas juga tidak boleh dikeluarkan, pelan-pelan, mesrakan ke bulu-bulu, kulit, dengan perasaan,
Maka inilah Hakekat Syahadat, Mesra Dzahir dan Batin, telah bertubuhkan Nur jua adanya.
🙏🙏🙏wasalam..
MUSYAHADAH adalah bermesraan antara UJUD kepada DZAT-NYA seperti mesranya Cahaya dengan lampunya,
Pujinya HU-ALLAH
- - - - - - - -
SAKARATUL MAUT adalah saat RUHANI meninggalkan JASMANI, seperti kembalinya Cahaya lampu kepada lampunya,
Pujinya ALLAH-HU
Tinggallah Nyawa memuji Tuhannya dengan Pujinya AH - AH.
- - - - - - - -
Lalu.. kembalilah NYAWA kepada Empunya HAK, dengan pujinya :
"LAA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADAR RASULULLAH",
Tiada dengan huruf, Tiada dengan suara.
- - - - - - - -
Penjelasannya Tentang Syahadat Tauhid dan Syahadat Diri.. :
Syahadat Rasul + Syahadat Tauhid = Syahadat diri,
Lazimkan Syahadat diri Tanpa Suara, Naik Nafas sudah
"LAA ILLA HA ILLALLAH,
Turun nafas U..
"MUHAMMADURRASULULLAH",
Sampai Mesra.. Tidak boleh keluar, tarik perasaan sampai ke Hati.
Bunyi lagi
"LAA ILAAHA ILLA ANTA",
tahan Nafas tidak boleh keluar, langsung tarik Nafas keatas pelan-pelan
"LAA ILAAHA ILLA HUA",
berarti lebur, saat turun Nafas juga tidak boleh dikeluarkan, pelan-pelan, mesrakan ke bulu-bulu, kulit, dengan perasaan,
Maka inilah Hakekat Syahadat, Mesra Dzahir dan Batin, telah bertubuhkan Nur jua adanya.
🙏🙏🙏wasalam..
MI'RAJ DALAM SHOLAT
MI'RAJ DALAM SHOLAT
Meski pun kita berbeda-beda Suku dan Bangsa dan berbeda-beda Pulau Tumpah Darah, tapi Asal kita Tetap Dari Pada Yang Satu datangnya dari Allah,
Muhammad tempat yang di lalui,
Bapak kita adalah Tarekat Zahir Tempat Pembawa Biji
Dan Ibu sebagai Tanahnya tempat Tumbuhnya Biji, tempat Pecahnya Tauhid
Awal datangnya dari Allah, Awal Kejadian Alam dan Isinya dari Nur Muhammad,
Adam Sebagai Pembawa Bibit,
Siti Hawa tempat Tumbuhnya Biji.
Bila Bibit Jagung di Tanam Maka Yang Tumbuh Akan Tetap Jagung,
Bila Bibit Adam Yang di Tanam Maka Yang berkembang biak adalah cucu Adam, keturunan Adam Yaitu laki-laki dan Siti Hawa sebagai Perempuan, Bapak dan Ibu kita,
Maka bertebarlah Manusia di Bumi Allah ini,
.
Maka Empat yang di atas adalah Awalludin Makrifatullah
"Awal Agama Mengenal Allah"..
Maka Sempurna Agama itu bertiang kan Yang Empat :
Iman, Islam, Tauhid, dan Ma'rifat
Siapa pun kita tidak boleh menyakiti orang lain
.
Karena kita Adalah Satu, Sakit Rasanya di kita Maka Sakit Juga Rasanya di Orang Lain, Inilah Yang harus kita jaga supaya kita menemukan Muara dari lautan ilmu Ahaddiyah, sebagai kitab induk yang nyata tersusun lembar demi lembar pada Diri, Disinilah kita berguru kepada Alam yang terkembang
Sedangkan Al-Qur'an yang di Wahyukan Allah Ta'ala kepada Nabi Muhammad SAW Adalah Penuntun atau Pedoman
Petunjuk bagi Manusia Dunia dan Akhirat,
WAL AWWALU WAL AKHIRU
Awalnya Muhammad yang menjadikan Alam Semesta dan Isinya dan Akhir Muhammad adalah penutup Nabi dan Rasul
.
Dengan Ilmu kita Mengenal Diri,
Dengan Ilmu kita Memagar Diri,
Dengan Ilmu kita Membenahi Diri,
Dengan Ilmu Pula kita Membela Diri
.
Jika sudah nyata terbangkitnya Muhammad dalam Diri kita sebagai Perwujudan Kelakuan yang Terpuji maka jangan di tinggalkan hukum Syari'at, kerjakan yang Fardhu dan yang Sunat
Tidak sempurna batin tanpa Syari'at dia harus seiring dan seperjalanan,
.
Adapun kecintaan kepada Sholat supaya kita tergugah hatinya untuk mengerjakan yang Fardhu maka cobalah mengamalkan Amalan ini.
Meskipun kita tidak bisa Naik Haji bagi yang tidak mampu tapi secara Batin dan Hakikat sama juga kita sudah Memi'rajkannya di Mekkah di dalam Sholat
.
Yang pertama sekali sebelum masuk Waktu Adzan Di setiap Waktu Sholat fardhu manapun Sebaliknya kita sudah mengambil Wudhu' dan duduklah di tikar Sembahyang sambil mendengarkan Adzan kita Menunggu Panggilan Allah, dan bukan Allah menunggu Panggilan kita,
Ucapkan Kalimatnya sambil menengadahkan telapak tangan seperti kita berdo'a :
"ALLAHU RABBI BAITUL ARASY NABI WALQUR'ANA IMAMI KIBLATI LILLAHI TA'ALA"
Lalu sapukan kedua telapak Tangan ke Wajah Dan dengarkan Adzan nya sampai selesai, Setelah azan selesai maka berdirilah ..
.
Sebelum kita membaca lafazd niat Sholat Usalli, Maka Ucapkanlah do'a berikut dengan suara lembut dan jangan di dengar orang..
"ASSALAMU'ALAIKUM HAI BAITULLAH WA'ALAIKUMUSSALAM KANA DZAT ALLAH, ADAM BERDIRI, NUR MUHAMMAD SEMBAHYANG"
lalu sambunglah dengan lafazd Usallinya sesuai dengan nama sholatnya setelah itu angkat lah takbir "ALLAHU..AKBAR"
.
Di saat kita sedang duduk dalam sholat pas kalimat
"ASYHADU ALLA ILLAHA ILAALLAH"
(lurus kan jari Telunjuk, Tauhid-kan Allah Ta'ala, Esa, Satu dan Tunggal)
"WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR"
(batinkan Muhammad pada rupa kelakuan Insan yang terpuji)
di kalimat RASULULLAH (genggam atau kepallah telapak tangan) lalu lanjutkan bacaan Sholatnya seperti biasa..
.
Jika Raka'at-nya masih ada maka langsunglah berdiri menurut tata cara Sholatnya Dan jika sudah Waktunya penghabisan Shalat salam kanan maka kepalan tangan tadi tidak boleh di buka
Dan setelah salam kiri maka kepalan tangan kanan tadi di angkat ke ubun-ubun sambil membuka kepalannya sedang menghujamkan sesuatu ucapkan dengan suara lembut
"BISMILLAH..KITABA INNALLAH"
.
biasanya pada saat ini kita akan menangis merasakan dalam batin ketika kita terlahir dari rahim seorang ibu kedunia ini kita menangis dan telapak tangan si bayi terbuka keduanya..
karena ilmu yang di tuntut sembilan bulan dalam rahim ibu (bersuluk) telah hilang dan lepas...
.
Dalam sholat dan penghabisan sholat kita bisa medapatkannya kembali Yang kita taburkan di ubun ubun ketika membuka kepalan adalah memasukkannya kembali
"HAYAT DAN HAYYUN" itu kedalam gambaran nya, Seperti kejadian Adam ketika malaikat jibril meminta "HAYAT DAN HAYYUN"
kepada tuhan untuk meniup kan ke ubun-ubun Adam dan menghidup kan gambaran
.
Apabila kita selalu mengamalkan ini maka Allah akan mengajarkan manusia kepada apa yang tidak kita ketahui,
.
"Allah yang mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak ia ketahui"
(Al-Alaq: 5)
.
Imam Gaib dalam Sholat, ayat-ayat sakti, berbagai Ilmu laduni, serta kekuatan kekuatan Haq Ilahi dan itulah Rahasia AmalanNya
🙏🙏🙏wasalam..
Meski pun kita berbeda-beda Suku dan Bangsa dan berbeda-beda Pulau Tumpah Darah, tapi Asal kita Tetap Dari Pada Yang Satu datangnya dari Allah,
Muhammad tempat yang di lalui,
Bapak kita adalah Tarekat Zahir Tempat Pembawa Biji
Dan Ibu sebagai Tanahnya tempat Tumbuhnya Biji, tempat Pecahnya Tauhid
Awal datangnya dari Allah, Awal Kejadian Alam dan Isinya dari Nur Muhammad,
Adam Sebagai Pembawa Bibit,
Siti Hawa tempat Tumbuhnya Biji.
Bila Bibit Jagung di Tanam Maka Yang Tumbuh Akan Tetap Jagung,
Bila Bibit Adam Yang di Tanam Maka Yang berkembang biak adalah cucu Adam, keturunan Adam Yaitu laki-laki dan Siti Hawa sebagai Perempuan, Bapak dan Ibu kita,
Maka bertebarlah Manusia di Bumi Allah ini,
.
Maka Empat yang di atas adalah Awalludin Makrifatullah
"Awal Agama Mengenal Allah"..
Maka Sempurna Agama itu bertiang kan Yang Empat :
Iman, Islam, Tauhid, dan Ma'rifat
Siapa pun kita tidak boleh menyakiti orang lain
.
Karena kita Adalah Satu, Sakit Rasanya di kita Maka Sakit Juga Rasanya di Orang Lain, Inilah Yang harus kita jaga supaya kita menemukan Muara dari lautan ilmu Ahaddiyah, sebagai kitab induk yang nyata tersusun lembar demi lembar pada Diri, Disinilah kita berguru kepada Alam yang terkembang
Sedangkan Al-Qur'an yang di Wahyukan Allah Ta'ala kepada Nabi Muhammad SAW Adalah Penuntun atau Pedoman
Petunjuk bagi Manusia Dunia dan Akhirat,
WAL AWWALU WAL AKHIRU
Awalnya Muhammad yang menjadikan Alam Semesta dan Isinya dan Akhir Muhammad adalah penutup Nabi dan Rasul
.
Dengan Ilmu kita Mengenal Diri,
Dengan Ilmu kita Memagar Diri,
Dengan Ilmu kita Membenahi Diri,
Dengan Ilmu Pula kita Membela Diri
.
Jika sudah nyata terbangkitnya Muhammad dalam Diri kita sebagai Perwujudan Kelakuan yang Terpuji maka jangan di tinggalkan hukum Syari'at, kerjakan yang Fardhu dan yang Sunat
Tidak sempurna batin tanpa Syari'at dia harus seiring dan seperjalanan,
.
Adapun kecintaan kepada Sholat supaya kita tergugah hatinya untuk mengerjakan yang Fardhu maka cobalah mengamalkan Amalan ini.
Meskipun kita tidak bisa Naik Haji bagi yang tidak mampu tapi secara Batin dan Hakikat sama juga kita sudah Memi'rajkannya di Mekkah di dalam Sholat
.
Yang pertama sekali sebelum masuk Waktu Adzan Di setiap Waktu Sholat fardhu manapun Sebaliknya kita sudah mengambil Wudhu' dan duduklah di tikar Sembahyang sambil mendengarkan Adzan kita Menunggu Panggilan Allah, dan bukan Allah menunggu Panggilan kita,
Ucapkan Kalimatnya sambil menengadahkan telapak tangan seperti kita berdo'a :
"ALLAHU RABBI BAITUL ARASY NABI WALQUR'ANA IMAMI KIBLATI LILLAHI TA'ALA"
Lalu sapukan kedua telapak Tangan ke Wajah Dan dengarkan Adzan nya sampai selesai, Setelah azan selesai maka berdirilah ..
.
Sebelum kita membaca lafazd niat Sholat Usalli, Maka Ucapkanlah do'a berikut dengan suara lembut dan jangan di dengar orang..
"ASSALAMU'ALAIKUM HAI BAITULLAH WA'ALAIKUMUSSALAM KANA DZAT ALLAH, ADAM BERDIRI, NUR MUHAMMAD SEMBAHYANG"
lalu sambunglah dengan lafazd Usallinya sesuai dengan nama sholatnya setelah itu angkat lah takbir "ALLAHU..AKBAR"
.
Di saat kita sedang duduk dalam sholat pas kalimat
"ASYHADU ALLA ILLAHA ILAALLAH"
(lurus kan jari Telunjuk, Tauhid-kan Allah Ta'ala, Esa, Satu dan Tunggal)
"WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR"
(batinkan Muhammad pada rupa kelakuan Insan yang terpuji)
di kalimat RASULULLAH (genggam atau kepallah telapak tangan) lalu lanjutkan bacaan Sholatnya seperti biasa..
.
Jika Raka'at-nya masih ada maka langsunglah berdiri menurut tata cara Sholatnya Dan jika sudah Waktunya penghabisan Shalat salam kanan maka kepalan tangan tadi tidak boleh di buka
Dan setelah salam kiri maka kepalan tangan kanan tadi di angkat ke ubun-ubun sambil membuka kepalannya sedang menghujamkan sesuatu ucapkan dengan suara lembut
"BISMILLAH..KITABA INNALLAH"
.
biasanya pada saat ini kita akan menangis merasakan dalam batin ketika kita terlahir dari rahim seorang ibu kedunia ini kita menangis dan telapak tangan si bayi terbuka keduanya..
karena ilmu yang di tuntut sembilan bulan dalam rahim ibu (bersuluk) telah hilang dan lepas...
.
Dalam sholat dan penghabisan sholat kita bisa medapatkannya kembali Yang kita taburkan di ubun ubun ketika membuka kepalan adalah memasukkannya kembali
"HAYAT DAN HAYYUN" itu kedalam gambaran nya, Seperti kejadian Adam ketika malaikat jibril meminta "HAYAT DAN HAYYUN"
kepada tuhan untuk meniup kan ke ubun-ubun Adam dan menghidup kan gambaran
.
Apabila kita selalu mengamalkan ini maka Allah akan mengajarkan manusia kepada apa yang tidak kita ketahui,
.
"Allah yang mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak ia ketahui"
(Al-Alaq: 5)
.
Imam Gaib dalam Sholat, ayat-ayat sakti, berbagai Ilmu laduni, serta kekuatan kekuatan Haq Ilahi dan itulah Rahasia AmalanNya
🙏🙏🙏wasalam..
RAHASIA DI DALAM DIRI
RAHASIA
=>DI DLM DIRI MANUSIA<=
=====================
DZATULLAH nyatanya di diri, buktinya adalah sekujur badan, yang memangku keadaan, segala hal yang menyangkut keadaan pada wujud
SIFATULLAH nyatanya adalah rupa, rupa manusia tidak ada yang sama dengan manusia lainnya, hanya satu di alam dunia, tawilnya adalah ALLAH HANYA SATU.
ASMATULLAH yang bukti di badan adalah ;
KULIT, DAGING, TULANG, SUMSUM,
menjadi lafadz Asma Allah yaitu ;
ALIF – LAM – LAM – HA.
AF’ALULLAH yaitu geraknya wujud, semuanya diringkas kepada yang empat rupa, nyatanya Dzatullahi, yaitu perkataan, sebab perkataanlah yang menjadikan semuanya, yaitu keramaian Alam dhohir, adanya kemauan manusia, sehingga menjadi bukti dengan adanya gedung, rumah, mobil dll karena adanya bibit dari Dzat.
Dari Ibn Abbas r.a., dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam.
sabdanya :
_______________________________________________
“FIKIRKANLAH MENGENAI SEGALA APA YANG DI CIPTAKAN ALLAH, TETAPI JANGANLAH KAMU MEMIKIRKAN TENTANG DZAT ALLAH..”
Abu Dzar r.a., dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. sabdanya :
“FIKIRKANLAH MENGENAI SEGALA MAKHLUK ALLAH, DAN JANGANLAH KAMU MEMIKIRKAN TENTANG DZAT ALLAH, KARENA YANG DEMIKIAN MENYEBABKAN KAMU BINASA (DALAM KESESATAN)” FIKIRKANLAH OLEHMU SIFAT ALLAH DAN JANGAN KAMU MEMIKIRKAN AKAN DZAT-NYA.ALLAH MELIPUTI SEGALA SESUATU ”
(Al-Fushilat : 54)
_______________________________________________
”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia [yang berhak disembah], yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan yang demikian. Tak ada Tuhan melainkan Dia [yang berhak disembah] Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali-Imran:18)
_______________________________________________
“Wa kawa ‘Idul Imani, wajibul wajib”
Semua umat Allah wajib marifat, harus tahu kepada iman sejati, iman yang satu yaitu kepada DZAT MAHA SUCI.
SIFAT Laisa kamishlihi syaiun adalah JAUHAR AWWAL RASULULLAH, TANDA KENYATAAN ADANYA DZAT.
JAUHAR AWWAL RASULULLAH isinya adalah RUH ILMU RASULULLAH, yang Awwal Akhir di ciptakan oleh Allah.
Ainal yakin dengan Ilmu, supaya bisa pulang, pulang kembali kepada Dzat, hakikatnya manusia berasal dari Dzat, akan tetapi manusia tidak perlu tahu kepada Dzat, tetapi carilah utusan Dzat, yang disebut Jauhar Awwal Rasulullah, inilah jalan pulang yang sempurna.
_______________________________________________
“Illa anna awalla’nafsah fardhu ‘ain”
Pertama hal ibadah adalah tahu kepada sejatinya hidup, sifat hidup harus di dapat, diri yang mana yang harus di cari? Apakah jasmani yang terlihat? Yang harus dicari adalah badan Ruhani atau Jiwa. Sejatinya syahadat adalah bibit segala rupa yaitu Jauhar Awwal [Ruh Ilmu Rasulullah] Samudra Ilmu dan Kehidupan.
_______________________________________________
“Ru’yatullahi Ta’ala fi dunya bi’ainil qolbi”
Melihat Hakikat Allah Ta’ala di Dunia oleh mata Baathin. Bila Qolbu manusia sudah dianugrahi Sifat Nur Ilmu Rasulullah, Qolbunya bisa dipakai untuk tempat melihat kepada Allah Ta’ala melalui mata Baathin karena sudah diberitahu oleh Sifat Nur Ilmu Rasulullah, sehingga bisa merasakan ni’mat dari Dunia sampai di Akhirat, sudah tidak merasakan berpisah dengan Sifat Nur Ilmu Rasulullah, lantaran wujud itu. Siang dan malam Qolbu ditempati oleh Sifat Nur Ilmu Rasulullah untuk melihat Allah Ta’ala, melalui jalan Syariat, Tharekat, Hakikat dan Ma’rifat, Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih, Ushul Fiqih dan Ilmu Tasawuf.
_______________________________________________
“Ru’yatullohi Ta’ala bil akhiroti bi’ainil arsi”
Melihat Allah di Akhirat, tentu sama mata, tidak salah lagi, sebab sudah bersatu seperti gula dan manisnya.Wajib hukumnya mencari tahu diri, diri yang sejati, diri manusia, sebenar-benarnya diri.Cahaya empat rupa adalah ;
NARUN (Merah)
HAWAUN (Kuning)
MA’UN (Putih)
TUROBUN (Hitam)
yaitu badan ruhani ([jiwa), inilah yang harus ketemu, jasmani harus hilang, tapi jangan hilang tanpa sebab, hilangnya harus terganti oleh cahaya empat rupa (Sifat Nur Ilmu Rasulullah) hilangnya badan jasmani, harus terganti oleh badan ruhani.
_______________________________________________
Jas artinya adalah baju, mani adalah badan ruhani, baju adalah bungkus, bungkusnya ruhani, manusia tidak akan mendapatkan hasil, jika hanya mengetahui badan nyata saja, harus di buka dulu bajunya, supaya bisa ketemu dengan isinya, badan jasmani adalah hijabnya kepada Yang Maha Suci, jika tidak hilang wujudnya dulu, maka isinya tidak akan ketemu, diibaratkan kucing, maksud kucing hendak ngintip tikus keluar dari liangnya, tapi kucingnya diam di depan liang tikus, akhirnya tikus malah mati karena tidak bisa keluar, tentu saja tidak akan hasil, kucing diibaratkan jasad, tikus ibarat yang Latif, tidak akan ketemu jika rasa jasad tidak hilang.
_______________________________________________
Jika kucing menginginkan agar tikusnya keluar dari liang, tentu saja kucing harus pergi menjauhi liang tikus, barulah tikusnya keluar, sama seperti di diri manusia, jika ingin ma’rifat kepada Dzat Allah Ta’ala, harus merasa pasti, merasakan bahwa manusia tidak memiliki jasad. Rasa jasmani harus hilang, terganti oleh Rasa Rasulullah (SIFAT NUR ILMU) => Ladun Qolbin Salim => Ladunni => Hati yang selamat. Rasa ni’mat yang sejati (Ni’mat Islam, Ni’mat Iman) karena saking ni’matnya melihat kepada Dzat Maha Agung, tentu merasa hilang dunia dan jasmani (Iman Akhirat, Rasa Akhirat)
_______________________________________________
Ktahuilah Shalat sejatinya adalah ketika waktu Nafi Isbat bergulung, menerapkan Muhammad af’al. Ta’udz dan Bismillah untuk berlindung kepada Yang Maha Agung, disinilah adanya kebersamaan, yang empat bersatu, hilangnya dunia dan wujud, bertemu dengan wujud Agama, barulah dikatakan Islam jika sudah ketemu kepada sejatinya Agama/Ruh Samawi (Fitrah Agama) yaitu hidup manusia, tentu wajib hukumnya, untuk tahu kepada sejatinya Agama, agar ibadah menjadi sah, tahu bibit rukun Islam, rukunnya yang empat di badan:
1. Penglihatan
2. Pendengaran
3. Penciuman
4. Perkataan.
yang ke lima adalah Rasa Rasulullah (penguasa RASA)
jadi hakikatnya shalat adalah wujud rupa diri.
“Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin“,
“Shalat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“.
barang siapa mengenal Tuhannya pastilah bodoh dirinya
IHKROM => MI’RAJ =>MUNAJAT => TUBADIL
Artinya adalah shalat sejati, syariatnya ada di Mekkah, ketika orang pergi Haji, hakikatnya ada di pulau Lombok yg bertempat Dijerowaru dn skalian tmpt tgalku.
IHKROM=> Bersiap-siap, menyiapkan tekad sebelum pergi, ibarat burung niat ingin terbang, sayapnya sudah dibentangkan tapi tidak dikepakkan.
MI’RAJ =>Jika sudah dengan terbang dan melayang, sudah meninggalkan Alam Dunia, lupa kepada Alam Dhohir.
MUNAJAT =>Sudah mau sampai ke Alam Baathin.
TUBADIL=> Sudah sampai kepada yang yang dituju, yaitu =>Baitullah suci, =>Baitullah sejati, bukan di Utara, bukan di Selatan, tidak di Timur dan di Barat (Billa haefin, Billa makanin)=> inilah yang di maksud hakikat Ka’bah atau Kubah =>rongga dada manusia Itiqod (tidak terkena rusak) kiblat nyawa yang sempurna yaitu Dzat Yang Maha Agung, sifatnya cahaya padang halus, terang benderang atau Jauhar Awwal Rasulullah, samudra ilmu dan hidup, kiblat waktu wafat. Bertemunya ASHHADU = Allah dan WA ASHHADU = Diri Manusia (Ghoib)
_______________________________________________
Sebab itu kiblat wafat wajib harus di ketemukan, jika tidak ketemu dikhawatirkan jadi gentayangan, nyawa tidak sampai kepada asalnya dahulu, pantas adanya Neraka yaitu siksaan diri, sebab tidak menemukan jalan pulang yang sempurna, mumpung di dunia harus bersungguh-sungguh mencari jalannya wafat, agar nyawa bisa pulang, BAB IBADAH sudah ada patokan yaitu Al-Qur’an dan Hadist, sudah mencukupi, tinggal bersungguh-sungguh menghafal dan prakteknya, kalau jalan mati, itu lain aturan, itu adalah penghujung, ujungnya harus wafat, yang ibadah dan yang tidak, semua manusia akan mengalami kematian, syariatnya sama, ada sekaratnya…
_______________________________________________
Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali r.a. menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan HAKIKAT KEIMANAN “.
_______________________________________________
Jika manusia yang ma’rifat, mutajilah sudah pasti, sebab menjirimkan Allah terlihat oleh mata kepala, yang berarti ada dua diri, Allah adalah NAFI ISBAT, ada Isbat hilang Nafi, ada Nafi hilang Isbat, Isbat adanya pasti, wujud jasmani, Nafi adanya Jiwa, untuk Nafi Isbat-nya harus tidak ada.
_______________________________________________
SIFAT NUR ILMU RASULULLAH adalah JAUHAR LATIF. Cahaya halus yang menghidupkan wujud manusia, matahari dalam wujud jagad shagir, yang tidak terlihat oleh mata kepala, dan hanya bisa di lihat dengan MATA BAATHIN.
_______________________________________________
AL–ILMU NURULLAH > Ilmu Sifat untuk mengabdikan diri kepada Allah dan Rasulullah, Ilmu Sifat tidak akan samar, wangi bunga rose tidak akan tertukar dengan wangi bunga melati. ‘Ain > Iliyin tempat tertinggi yang bisa di capai oleh orang berilmu. Ilmu Ladunni/Ilmu Sifat, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui proses kegiatan pengamalan, mulai dari mandi, shalat, wirid, baca Qur’an dll. Melalui jalan Syariat, Tharekat, Hakikat dan Mari’fat. Tuhan hanya bisa dikenal jika Dia sendiri berkehendak untuk dikenali. Sifat Nur Ilmu adalah kendaraan bagi baathin untuk sampai ke sisi-Nya, melalui Sifat Rasa Rasulullah. Tidak ada manusia yang bisa langsung ma’rifat kepada Allah Ta’ala, kecuali Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam melihat langsung dan berdialog dengan Allah Ta’ala ingat ini benar jgan sok bicara makin goblok nt jadinya sok pinter jadinya..
_______________________________________________
Sifat Nur Ilmu ini akan menerangi qolbu, baathin, hati dan ruh, Sirr nya berperan menyingkap tabir hakikat dan mengenal akan Allah Ta’ala. Hakikat akan diketahui apabila seseorang giat mendalami pengetahuan tentang hakikat melalui proses pengamalan, khalwat atau tirakat, muqarobah, mandi, sholat, wirid melalui bimbingan
Guru Mursyid= > Allah, Ilmu Ma’sum= > Ilmu Syafa’at yang bisa memisahkan unsur Sifat Malaikat (NURR) dan unsur Sifat Jinn (API) di dalam darah (Sifat darah ), seorang guru wajib menguasai 12 pan Ilmu, jika ilmunya tidak ma’sum, maka dikhawatirkan bangsa mahluk halus akan ikut-ikutan nyusup/masuk ke dalam pengamalan, sehingga seseorang itu tidak merasa bahwa di dalam dirinya sudah di tempati oleh Jinn, merasa berilmu padahal Jinn yang mengendalikan.
_______________________________________________
Sifat Nur Ilmu adalah cahaya yang menerangi hati dan mengeluarkannya dari kegelapan serta membawanya untuk menyaksikan sesuatu dalam keadaannya yang asli. Apabila cahaya atau latifah di diri sudah membuka tirai dan cahaya terang telah bersinar, maka mata baathin dapat memandang kebenaran dan keaslian yang selama ini disembunyikan oleh alam nyata. Semakin terang cahaya Illahi yang diterima oleh hati akan menambah jelas kebenaran yang dapat dilihatnya. Pengetahuan yang diperoleh melalui pandangan mata baathin yang bersumber dari Cahaya Awwal/Jauhar Awwal Rasulullah/Ruh Ilmu Rasulullah inilah yang dinamakan Ilmu Ladunni/Ilmu Sifat/Ilmu Syafa’at/Ilmu Shalat..sadakallahuladzim usikumbitaqwallah...
___________________
🙏🙏🙏wasalam..
=>DI DLM DIRI MANUSIA<=
=====================
DZATULLAH nyatanya di diri, buktinya adalah sekujur badan, yang memangku keadaan, segala hal yang menyangkut keadaan pada wujud
SIFATULLAH nyatanya adalah rupa, rupa manusia tidak ada yang sama dengan manusia lainnya, hanya satu di alam dunia, tawilnya adalah ALLAH HANYA SATU.
ASMATULLAH yang bukti di badan adalah ;
KULIT, DAGING, TULANG, SUMSUM,
menjadi lafadz Asma Allah yaitu ;
ALIF – LAM – LAM – HA.
AF’ALULLAH yaitu geraknya wujud, semuanya diringkas kepada yang empat rupa, nyatanya Dzatullahi, yaitu perkataan, sebab perkataanlah yang menjadikan semuanya, yaitu keramaian Alam dhohir, adanya kemauan manusia, sehingga menjadi bukti dengan adanya gedung, rumah, mobil dll karena adanya bibit dari Dzat.
Dari Ibn Abbas r.a., dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam.
sabdanya :
_______________________________________________
“FIKIRKANLAH MENGENAI SEGALA APA YANG DI CIPTAKAN ALLAH, TETAPI JANGANLAH KAMU MEMIKIRKAN TENTANG DZAT ALLAH..”
Abu Dzar r.a., dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. sabdanya :
“FIKIRKANLAH MENGENAI SEGALA MAKHLUK ALLAH, DAN JANGANLAH KAMU MEMIKIRKAN TENTANG DZAT ALLAH, KARENA YANG DEMIKIAN MENYEBABKAN KAMU BINASA (DALAM KESESATAN)” FIKIRKANLAH OLEHMU SIFAT ALLAH DAN JANGAN KAMU MEMIKIRKAN AKAN DZAT-NYA.ALLAH MELIPUTI SEGALA SESUATU ”
(Al-Fushilat : 54)
_______________________________________________
”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia [yang berhak disembah], yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan yang demikian. Tak ada Tuhan melainkan Dia [yang berhak disembah] Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Ali-Imran:18)
_______________________________________________
“Wa kawa ‘Idul Imani, wajibul wajib”
Semua umat Allah wajib marifat, harus tahu kepada iman sejati, iman yang satu yaitu kepada DZAT MAHA SUCI.
SIFAT Laisa kamishlihi syaiun adalah JAUHAR AWWAL RASULULLAH, TANDA KENYATAAN ADANYA DZAT.
JAUHAR AWWAL RASULULLAH isinya adalah RUH ILMU RASULULLAH, yang Awwal Akhir di ciptakan oleh Allah.
Ainal yakin dengan Ilmu, supaya bisa pulang, pulang kembali kepada Dzat, hakikatnya manusia berasal dari Dzat, akan tetapi manusia tidak perlu tahu kepada Dzat, tetapi carilah utusan Dzat, yang disebut Jauhar Awwal Rasulullah, inilah jalan pulang yang sempurna.
_______________________________________________
“Illa anna awalla’nafsah fardhu ‘ain”
Pertama hal ibadah adalah tahu kepada sejatinya hidup, sifat hidup harus di dapat, diri yang mana yang harus di cari? Apakah jasmani yang terlihat? Yang harus dicari adalah badan Ruhani atau Jiwa. Sejatinya syahadat adalah bibit segala rupa yaitu Jauhar Awwal [Ruh Ilmu Rasulullah] Samudra Ilmu dan Kehidupan.
_______________________________________________
“Ru’yatullahi Ta’ala fi dunya bi’ainil qolbi”
Melihat Hakikat Allah Ta’ala di Dunia oleh mata Baathin. Bila Qolbu manusia sudah dianugrahi Sifat Nur Ilmu Rasulullah, Qolbunya bisa dipakai untuk tempat melihat kepada Allah Ta’ala melalui mata Baathin karena sudah diberitahu oleh Sifat Nur Ilmu Rasulullah, sehingga bisa merasakan ni’mat dari Dunia sampai di Akhirat, sudah tidak merasakan berpisah dengan Sifat Nur Ilmu Rasulullah, lantaran wujud itu. Siang dan malam Qolbu ditempati oleh Sifat Nur Ilmu Rasulullah untuk melihat Allah Ta’ala, melalui jalan Syariat, Tharekat, Hakikat dan Ma’rifat, Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih, Ushul Fiqih dan Ilmu Tasawuf.
_______________________________________________
“Ru’yatullohi Ta’ala bil akhiroti bi’ainil arsi”
Melihat Allah di Akhirat, tentu sama mata, tidak salah lagi, sebab sudah bersatu seperti gula dan manisnya.Wajib hukumnya mencari tahu diri, diri yang sejati, diri manusia, sebenar-benarnya diri.Cahaya empat rupa adalah ;
NARUN (Merah)
HAWAUN (Kuning)
MA’UN (Putih)
TUROBUN (Hitam)
yaitu badan ruhani ([jiwa), inilah yang harus ketemu, jasmani harus hilang, tapi jangan hilang tanpa sebab, hilangnya harus terganti oleh cahaya empat rupa (Sifat Nur Ilmu Rasulullah) hilangnya badan jasmani, harus terganti oleh badan ruhani.
_______________________________________________
Jas artinya adalah baju, mani adalah badan ruhani, baju adalah bungkus, bungkusnya ruhani, manusia tidak akan mendapatkan hasil, jika hanya mengetahui badan nyata saja, harus di buka dulu bajunya, supaya bisa ketemu dengan isinya, badan jasmani adalah hijabnya kepada Yang Maha Suci, jika tidak hilang wujudnya dulu, maka isinya tidak akan ketemu, diibaratkan kucing, maksud kucing hendak ngintip tikus keluar dari liangnya, tapi kucingnya diam di depan liang tikus, akhirnya tikus malah mati karena tidak bisa keluar, tentu saja tidak akan hasil, kucing diibaratkan jasad, tikus ibarat yang Latif, tidak akan ketemu jika rasa jasad tidak hilang.
_______________________________________________
Jika kucing menginginkan agar tikusnya keluar dari liang, tentu saja kucing harus pergi menjauhi liang tikus, barulah tikusnya keluar, sama seperti di diri manusia, jika ingin ma’rifat kepada Dzat Allah Ta’ala, harus merasa pasti, merasakan bahwa manusia tidak memiliki jasad. Rasa jasmani harus hilang, terganti oleh Rasa Rasulullah (SIFAT NUR ILMU) => Ladun Qolbin Salim => Ladunni => Hati yang selamat. Rasa ni’mat yang sejati (Ni’mat Islam, Ni’mat Iman) karena saking ni’matnya melihat kepada Dzat Maha Agung, tentu merasa hilang dunia dan jasmani (Iman Akhirat, Rasa Akhirat)
_______________________________________________
Ktahuilah Shalat sejatinya adalah ketika waktu Nafi Isbat bergulung, menerapkan Muhammad af’al. Ta’udz dan Bismillah untuk berlindung kepada Yang Maha Agung, disinilah adanya kebersamaan, yang empat bersatu, hilangnya dunia dan wujud, bertemu dengan wujud Agama, barulah dikatakan Islam jika sudah ketemu kepada sejatinya Agama/Ruh Samawi (Fitrah Agama) yaitu hidup manusia, tentu wajib hukumnya, untuk tahu kepada sejatinya Agama, agar ibadah menjadi sah, tahu bibit rukun Islam, rukunnya yang empat di badan:
1. Penglihatan
2. Pendengaran
3. Penciuman
4. Perkataan.
yang ke lima adalah Rasa Rasulullah (penguasa RASA)
jadi hakikatnya shalat adalah wujud rupa diri.
“Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin“,
“Shalat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin“.
barang siapa mengenal Tuhannya pastilah bodoh dirinya
IHKROM => MI’RAJ =>MUNAJAT => TUBADIL
Artinya adalah shalat sejati, syariatnya ada di Mekkah, ketika orang pergi Haji, hakikatnya ada di pulau Lombok yg bertempat Dijerowaru dn skalian tmpt tgalku.
IHKROM=> Bersiap-siap, menyiapkan tekad sebelum pergi, ibarat burung niat ingin terbang, sayapnya sudah dibentangkan tapi tidak dikepakkan.
MI’RAJ =>Jika sudah dengan terbang dan melayang, sudah meninggalkan Alam Dunia, lupa kepada Alam Dhohir.
MUNAJAT =>Sudah mau sampai ke Alam Baathin.
TUBADIL=> Sudah sampai kepada yang yang dituju, yaitu =>Baitullah suci, =>Baitullah sejati, bukan di Utara, bukan di Selatan, tidak di Timur dan di Barat (Billa haefin, Billa makanin)=> inilah yang di maksud hakikat Ka’bah atau Kubah =>rongga dada manusia Itiqod (tidak terkena rusak) kiblat nyawa yang sempurna yaitu Dzat Yang Maha Agung, sifatnya cahaya padang halus, terang benderang atau Jauhar Awwal Rasulullah, samudra ilmu dan hidup, kiblat waktu wafat. Bertemunya ASHHADU = Allah dan WA ASHHADU = Diri Manusia (Ghoib)
_______________________________________________
Sebab itu kiblat wafat wajib harus di ketemukan, jika tidak ketemu dikhawatirkan jadi gentayangan, nyawa tidak sampai kepada asalnya dahulu, pantas adanya Neraka yaitu siksaan diri, sebab tidak menemukan jalan pulang yang sempurna, mumpung di dunia harus bersungguh-sungguh mencari jalannya wafat, agar nyawa bisa pulang, BAB IBADAH sudah ada patokan yaitu Al-Qur’an dan Hadist, sudah mencukupi, tinggal bersungguh-sungguh menghafal dan prakteknya, kalau jalan mati, itu lain aturan, itu adalah penghujung, ujungnya harus wafat, yang ibadah dan yang tidak, semua manusia akan mengalami kematian, syariatnya sama, ada sekaratnya…
_______________________________________________
Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani, “Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali r.a. menjawab, “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan HAKIKAT KEIMANAN “.
_______________________________________________
Jika manusia yang ma’rifat, mutajilah sudah pasti, sebab menjirimkan Allah terlihat oleh mata kepala, yang berarti ada dua diri, Allah adalah NAFI ISBAT, ada Isbat hilang Nafi, ada Nafi hilang Isbat, Isbat adanya pasti, wujud jasmani, Nafi adanya Jiwa, untuk Nafi Isbat-nya harus tidak ada.
_______________________________________________
SIFAT NUR ILMU RASULULLAH adalah JAUHAR LATIF. Cahaya halus yang menghidupkan wujud manusia, matahari dalam wujud jagad shagir, yang tidak terlihat oleh mata kepala, dan hanya bisa di lihat dengan MATA BAATHIN.
_______________________________________________
AL–ILMU NURULLAH > Ilmu Sifat untuk mengabdikan diri kepada Allah dan Rasulullah, Ilmu Sifat tidak akan samar, wangi bunga rose tidak akan tertukar dengan wangi bunga melati. ‘Ain > Iliyin tempat tertinggi yang bisa di capai oleh orang berilmu. Ilmu Ladunni/Ilmu Sifat, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui proses kegiatan pengamalan, mulai dari mandi, shalat, wirid, baca Qur’an dll. Melalui jalan Syariat, Tharekat, Hakikat dan Mari’fat. Tuhan hanya bisa dikenal jika Dia sendiri berkehendak untuk dikenali. Sifat Nur Ilmu adalah kendaraan bagi baathin untuk sampai ke sisi-Nya, melalui Sifat Rasa Rasulullah. Tidak ada manusia yang bisa langsung ma’rifat kepada Allah Ta’ala, kecuali Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam melihat langsung dan berdialog dengan Allah Ta’ala ingat ini benar jgan sok bicara makin goblok nt jadinya sok pinter jadinya..
_______________________________________________
Sifat Nur Ilmu ini akan menerangi qolbu, baathin, hati dan ruh, Sirr nya berperan menyingkap tabir hakikat dan mengenal akan Allah Ta’ala. Hakikat akan diketahui apabila seseorang giat mendalami pengetahuan tentang hakikat melalui proses pengamalan, khalwat atau tirakat, muqarobah, mandi, sholat, wirid melalui bimbingan
Guru Mursyid= > Allah, Ilmu Ma’sum= > Ilmu Syafa’at yang bisa memisahkan unsur Sifat Malaikat (NURR) dan unsur Sifat Jinn (API) di dalam darah (Sifat darah ), seorang guru wajib menguasai 12 pan Ilmu, jika ilmunya tidak ma’sum, maka dikhawatirkan bangsa mahluk halus akan ikut-ikutan nyusup/masuk ke dalam pengamalan, sehingga seseorang itu tidak merasa bahwa di dalam dirinya sudah di tempati oleh Jinn, merasa berilmu padahal Jinn yang mengendalikan.
_______________________________________________
Sifat Nur Ilmu adalah cahaya yang menerangi hati dan mengeluarkannya dari kegelapan serta membawanya untuk menyaksikan sesuatu dalam keadaannya yang asli. Apabila cahaya atau latifah di diri sudah membuka tirai dan cahaya terang telah bersinar, maka mata baathin dapat memandang kebenaran dan keaslian yang selama ini disembunyikan oleh alam nyata. Semakin terang cahaya Illahi yang diterima oleh hati akan menambah jelas kebenaran yang dapat dilihatnya. Pengetahuan yang diperoleh melalui pandangan mata baathin yang bersumber dari Cahaya Awwal/Jauhar Awwal Rasulullah/Ruh Ilmu Rasulullah inilah yang dinamakan Ilmu Ladunni/Ilmu Sifat/Ilmu Syafa’at/Ilmu Shalat..sadakallahuladzim usikumbitaqwallah...
___________________
🙏🙏🙏wasalam..
RAHASIA MANUSIA
ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
(RAHASIA YG DISEMBUNYIKAN)
sebagai umat muslim yg baik pasti dihati kita banyak yg ingin pergi ke mekah hanya sekedar untuk melihat ka'bah
----------------------
Berbondong-bondong manusia dari lapisan bumi ini yg berkerumun mengelilingi ka'bah, bahkan jika kita telah sampai pada pengetahuan makrifat maka kita juga bisa menyaksikan juta'an jin yg jg mengitari bangunan ka'bah ini
----------------------
berangkat dari sinilah pengetahuan ilmu haqiqat ka'bah ini dimulai, kalau kita mampu menguak tabir haqiqat kabah ini, maka dapat kita mengakses keajaiban-keajaiban serta fungsi-fungsi nya
----------------------
Diantara nya adalah raja dari raja pelarisan usaha, raja pengasihan umum maupun khusus dll.
----------------------
baiklah mungkin diantara kita ada yg tidak sabar bagaimana sih caranya, mengapa banyak jabar nya, tentu jabaran di atas sangatlah perlu, tanpa pengetahuan ilmu nya, tentu kita tidak mampu meraih karomahnya
----------------------
baiklah langsung saja kita mulai bagaimana agar kita mampu meraih karomah haqiqat ilmu ka'bah ini
----------------------
pertama-tama berwudhu lah terlebih dahulu, siapkan kamar yang bersih, lalu duduklah yg rileks dan tenang
----------------------
Lalu rasakan dan menyatulah dengan alam, masuk dan ikuti pergerakan alam tersebut tanpa melawan, kemudian bayangkan anda berada di depan pintu ka'bah dan masuklah
----------------------
Nah, pada tahap ini lupakan anda sedang berada dalam kamar tadi atau tepat dimulainya proses ini serta perjalanan-perjalanan tadi
----------------------
Benar-benar rasakan bahwa anda sedang duduk ditengah-tengah ka'bah tadi, dan rasakan dengan sebenar-benarnya
----------------------
lihatlah sekeliling anda dg visualisasi bahwa anda anda dapat melihat sekeliling anda dan haqul yaqin bahwa anda benar-benar ditengah-tengah ka'bah dan bukan ditempat lain
----------------------
(tentunya anda harus tahu dulu tentang kabah ini kan mustahil tidak tahu rupa kabah tapi membayangkan ka'bah)
----------------------
diamkan jiwa anda berlama-lama didalam ka'bah tersebut, lalu ucapkan dalam hati :
----------------------
"AL IDZATULILLAHI BI'ISMILLAHIRRAHMANNIRRAHIM jiwaku adalah wujud kebenaran Allah, sirrullah dzatullah, sukma Cahaya dan rasa bathinku, Yahu, (sebutkan kehendak) Hu Allah, dan ijabah lelaku yg kuinginkan, KUN SHOLLI ALA MUHAMMAD KUNHI MUHAMADAN"
----------------------
ini adalah bagian dari kalimat yg disembunyikan kaum makrifat yg mengetahui inti membangun kekuatan NUR muhamad.
----------------------
lalu jika sudah dirasa cukup akhirilah dengan mengucapkan rasa syukur kita kepada ALLAH swt.
----------------------
lakukan ini sesering MUngkin insya allah jika anda benar dalam melakukan nya maka karomah dari ka'bah ini akan menyatu dalam jiwa anda dan keajaiban akan anda rasakan disetiap langkah anda
----------------------
🙏🙏🙏wasalam..
(RAHASIA YG DISEMBUNYIKAN)
sebagai umat muslim yg baik pasti dihati kita banyak yg ingin pergi ke mekah hanya sekedar untuk melihat ka'bah
----------------------
Berbondong-bondong manusia dari lapisan bumi ini yg berkerumun mengelilingi ka'bah, bahkan jika kita telah sampai pada pengetahuan makrifat maka kita juga bisa menyaksikan juta'an jin yg jg mengitari bangunan ka'bah ini
----------------------
berangkat dari sinilah pengetahuan ilmu haqiqat ka'bah ini dimulai, kalau kita mampu menguak tabir haqiqat kabah ini, maka dapat kita mengakses keajaiban-keajaiban serta fungsi-fungsi nya
----------------------
Diantara nya adalah raja dari raja pelarisan usaha, raja pengasihan umum maupun khusus dll.
----------------------
baiklah mungkin diantara kita ada yg tidak sabar bagaimana sih caranya, mengapa banyak jabar nya, tentu jabaran di atas sangatlah perlu, tanpa pengetahuan ilmu nya, tentu kita tidak mampu meraih karomahnya
----------------------
baiklah langsung saja kita mulai bagaimana agar kita mampu meraih karomah haqiqat ilmu ka'bah ini
----------------------
pertama-tama berwudhu lah terlebih dahulu, siapkan kamar yang bersih, lalu duduklah yg rileks dan tenang
----------------------
Lalu rasakan dan menyatulah dengan alam, masuk dan ikuti pergerakan alam tersebut tanpa melawan, kemudian bayangkan anda berada di depan pintu ka'bah dan masuklah
----------------------
Nah, pada tahap ini lupakan anda sedang berada dalam kamar tadi atau tepat dimulainya proses ini serta perjalanan-perjalanan tadi
----------------------
Benar-benar rasakan bahwa anda sedang duduk ditengah-tengah ka'bah tadi, dan rasakan dengan sebenar-benarnya
----------------------
lihatlah sekeliling anda dg visualisasi bahwa anda anda dapat melihat sekeliling anda dan haqul yaqin bahwa anda benar-benar ditengah-tengah ka'bah dan bukan ditempat lain
----------------------
(tentunya anda harus tahu dulu tentang kabah ini kan mustahil tidak tahu rupa kabah tapi membayangkan ka'bah)
----------------------
diamkan jiwa anda berlama-lama didalam ka'bah tersebut, lalu ucapkan dalam hati :
----------------------
"AL IDZATULILLAHI BI'ISMILLAHIRRAHMANNIRRAHIM jiwaku adalah wujud kebenaran Allah, sirrullah dzatullah, sukma Cahaya dan rasa bathinku, Yahu, (sebutkan kehendak) Hu Allah, dan ijabah lelaku yg kuinginkan, KUN SHOLLI ALA MUHAMMAD KUNHI MUHAMADAN"
----------------------
ini adalah bagian dari kalimat yg disembunyikan kaum makrifat yg mengetahui inti membangun kekuatan NUR muhamad.
----------------------
lalu jika sudah dirasa cukup akhirilah dengan mengucapkan rasa syukur kita kepada ALLAH swt.
----------------------
lakukan ini sesering MUngkin insya allah jika anda benar dalam melakukan nya maka karomah dari ka'bah ini akan menyatu dalam jiwa anda dan keajaiban akan anda rasakan disetiap langkah anda
----------------------
🙏🙏🙏wasalam..
RAHASIA JATI DIRI MANUSIA
ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
(KITAB DIRI YG TERSEMBUNYI)
Inilah kitab yang membicarakan sebelum alam ini dijadikan. Bermulah Allah menjadikan Nyawa Muhammad, lalu Tuhan melihat kedepan tiada sesuatu yang dilihatnya, kemudian melihat ke belakang, kekanan, dan kekiri namun tiada melihat sesuatu pun. Sedangkan Ia ingin disembah dan dipuji, tidak ada yang memuji dan menyembahnya. Maka dijadikanlah dirinya didalam dirinya,
kemudian melihat ke atas dan dikatakannya ( ALIF ), keluarlah Nur, inilah Rahasianya Muhammad, melihat ke atas jadilah Arsy. Melihat ke bawah jadilah Rahasianya.
Kemudian Tuhan melihat ke depan dan dikatakannya ( I ), keluarlah Nur, inilah Nyawanya Muhammad, melihat ke atas jadilah Kursiyah, melihat ke bawah inilah Nyawanya.
Kemudian Tuhan melihat ke kanan dan dikatakan ( U ), keluarlah Nur menjadi hatinya Muhammad, melihat ke atas inilah syurga melihat kebawah menjadi hatinya.
Kemudian Tuhan melihat ke kirinya dikatakannya ( HA ), keluarlah suatu Nur, inilah Misalnya Muhammad, melihat ke bawah jadilah misalnya.
Kemudian Tuhan melihat ke belakang dan dikatakannya ( HU ) , keluarlah suatu Nur yang menjadi akalnya Muhammad, melihat ke atas jadilah Lauh-Mahfud, melihat ke bawah jadilah akal Muhammad.
Kemudian Tuhan melihat ke bawah dan dikatakannya ( HU ), keluarlah suatu cahaya, inilah bayang-bayangan Muhammad, melihat ke atas inilah hati kecil, melihat kebawahnya jadi Rupa.
Kemudian Tuhan melihat kedalam diri-Nya, inilah yang menjadi Hatinya Muhammad, inilah yang dinamakan Halus.
Melihat keatas inilah yang menjadi Rasa.
Melihat kebawah inilah yang menjadi Air Mani.
Kemudian Tuhan melihat ke sekeliling-Nya, dikatakan-Nya (HUA HUA)
menyebarlah cahayanya, maka jelaslah Nur Muhammad didalam cahayanya laut kenyataannya Allah Ta’ala didalam cahayanya Muhammad, dikatakannya dirinya Tuhan, maka dinampakkanlah dirinya Tuhan dihadapan Muhammad, kemudian Tuhan berkata; “Jadi adakah engkau yang menjadikan dirimu sehingga engkau melupakan Nyawamu disujudkan di Baitul Maujudi?”
Maka berkatalah Muhammad: “Engkau baru kulihat, maka sebaiknya kita masing-masing bersembunyi, barang siapa yang didapat itulah yang menjadi Hamba, yang tidak dapat diketemukan itulah yang menjadi Tuhan”.
Bersembunyilah engkau Muhammad terlebih dahulu, Aku yang mencari. Maka bersembunyilah Muhammad di Wajah, di ingatan, di akal, namun setiap persembunyiannya senantiasa diketemukan oleh Tuhan.
Berkatalah Muhammad, bersembunyilah, aku yang mencari. Maka bersembunyilah Tuhan di waktu 5 (lima), namun Nur Muhammad tidak menemukannya.
Maka berkatalah Tuhan: “Carilah aku sungguh-sungguh, kemudian Tuhan berpindah menyembunyikan dirinya di Rahasia, juga Muhammad tidak menemukannya.
Sehinga Muhammad berseru: “Dimanakah Engkau bersembunyi, sedangkan suara-Mu kedengaran tapi aku tak melihat?”
Maka Tuhan berkata: “Aku bersembunyi di Rahasia”
Lalu Muhammad mencarinya di Rahasia, namun Muhammad tidak dapat membuka matanya, dikarenakan cahaya terang yang tidak dapat ditembus, sehingga Muhammad berkata: “Sudahlah nyatakanlah diri-Mu, Engkaulah yang menjadi Tuhan”
Maka berkatalah Tuhan: “Mana tanda kepercayaan-Mu dan dimana letak berdiri kepercayaanmu?”
Maka dikatakanlah Muhammad: “ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH",
lalu Tuhan menjawab: “WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH”.
Ketahuilah olehmu Muhammad “Rupa” itu Sifat-Ku dan nama bagimu, “Waktu” itu Sifatmu.
Berkatalah Muhammad: “bagaimana sehingga Wajah itu namaku sedangkan adalah Sifat-Mu?
Berkatalah Tuhan : adalah Rupa (Wajah) itu namamu dan Sifat-Ku, karena itulah Aku ingin disembah, dipuji, dikenal, dikasihi, digembirai, sedangkan semua itu tidak dapat dilakukan-Nya. Sehingga dengan demikian kujadikan diri-Ku dalam diri-Ku.
“Waktu” itu Nama-Ku dan Sifat itu Rupa-Ku, sebab Aku jugalah yang sembah diri-Ku. Sesuai dengan dalil: Artinya: Adapun yang disembah dan menyembah itu satu.
Jadi Aku yang memuji diri-Ku, dan mengasihani diri-Ku, dan engkau kujadikan yaa Muhammad Akulah yang menjadikan diri-Ku, dalam diri-Ku, adamu itu ada-Ku-lah itu. Kenyataanmu itu kenyataan-Ku-lah itu.
Ketahuilah olehmu Muhammad Ada-mu pada Nama-Ku yang sesungguhnya di dirimu.
Adapun Sifat-Ku, ada pada DIAMMU
Adapun Rupa-Ku, ada pada I’TIKADMU
Adapun Diri-Ku, ada pada MANFAATMU
Adapun Lahir-Ku, ada pada GERAKMU
Adapun Perbuatan-Ku, ada pada PERBUATANMU
Adapun Rahmat-Ku, ada pada PERKATAANMU YG BENAR
Adapun kehendak-Ku, ada pada HAJATMU
Adapun kekekalan-Ku, ada pada HATIMU YG BAIK, TEMPATNYA MUHAMMAD.
Fungsi-Fungsi Yang Dibebankan Allah Swt.
1) Fungsi Rahasia, Kebenaran dan Alam
2) Fungsi Nyawa, Penglihatan dan Nama-Ku
3) Fungsi Hati, Niat dan Pengenalan
4) Fungsi Ingat, Angan-angan dan Kekuasaan
5) Fungsi Akal, Yang Nyata dan Kebingungan
6) Fungsi Bayang-bayang, Kepintaran dan Kebodohan
7) Fungsi Nur, Pertimbangan dan Pengetahuan.
TANYA: Apa sebabnya Engkau jadikan yang tujuh itu?
JAWAB: Aku jadikan yang tujuh itu sebab Aku ingin disembah.
TANYA: Dimanakan yang disembah dari yang tujuh itu?
JAWAB: Aku disembah Nur pada bayang-bayang
“Bayang-bayang, Ingat, Hati, Nyawa, Rahasia, di Diri-Ku, dan
Akulah yang sembah diri-Ku"
TANYA: Apa penyembahan Rahasia Pada-Mu Yaa Allah?
JAWAB: Penyembahan Rahasia itu, ketika ia mengatakan : “A”
Penyembahan Nyawa itu, ketika ia mengatakan : “I”
Penyembahan Hati itu, ketika ia mengatakan : “U”
Penyembahan Ingat itu, ketika ia mengatakan : “Ha”
Penyembahan Akal itu, ketika ia mengatakan : “Hi”
Penyembahan Bayang-bayang itu, ketika ia mengatakan : “Hu”
Penyembahan Nur itu, ketika ia mengatakan : “Engkaulah Yang Kusembah Yaa Allah”
Adapun kenyataannya Rahasia: “A”
Adapun kenyataannya Nyawa: “I”
Adapun kenyataannya Hati: “U”
Adapun kenyataannya Ingat: “Ha”
Adapun kenyataannya Akal: “Hi”
Adapun kenyataannya Bayang-bayang: “Hu”
Adapun kenyataannya Alif, Rasa, Nyawa Muhammad: "Mani"
Adapun Perbuatan Muhammad itu: “Antara”
Adapun yang dinamakan: “Nama Dirimu” artinya “Kita Berdua Berdiri, Akulah itu Muhammad.
Adapun yang dinyatakan: “Engkaulah itu Muhammad, itulah dinamakan kata “HIDUP TAK MATI” artinya yang disuruh dan yang menyuruh.
Yang mengetahui hal itu serta dibenarkannya, panjang umurnya, dan disukai oleh para penguasa, dipercaya oleh orang lain, dihindarkan dari bahaya ujian Tuhan.
Ketahuilah pula kemunculannya NUR:
Nur muncul pada bayang-bayang
Bayang-bayang muncul pada Akal
Akal muncul pada Ingat
Hati muncul pada Nyawa
Nyawa muncul pada Rahasia
Rahasia muncul pada Nur
Nur muncul pada Tuhannya.
Dari situlah kita datang dan disitu pula kita kembali.
Maka kenalilah Aku sungguh-sungguh Muhammad bahwa, “Kita tidak berpisah”
Aku jadikan segala sesuatu karenamu, sedang engkau untuk-Ku.
Muncullah engkau pada kenyataan, Ku nyatakan engkau dan Ku lindungi engkau.
Adapun kenyataan serta pengertian Alif itu bersumber dari titik atau Zarra atau Nyawa-berlindung. Yang dinamakan Nyawa berlindung yakni Rahasia atau Cahaya Zat dan Sifat itulah yang memperkenalkan Tuhan.
Adapun iman itu tempatnya Rahasia, Artinya Rahasia adalah Cahaya Hati-Nurani, ketika baris atas, bawah dan titik itu terbagi, maka jadilah 4 (empat) huruf, pertama ALIF, kedua LAM dimuka, ketiga LAM dibelakang, dan keempat HA, inilah lafasnya (Allah SWT).
Nyawa muhammad dinamai Ma'rifat
Nyawa kita dinamakan Haqiqat
Angan angan kita dinamakan Thariqat
Tubuh kita dinamakan Syariat ialah pengetahuan tentang pengenalan diri didalam Tubuh kita.
Apabila Nyawa itu melihat pada Allah SWT: Rahasia namanya.
Apabila Nyawa melihat pada Alam: Iman namanya.
Apabila Nyawa melihat pada Akhirat: Nyawa namanya.
Apabila Nyawa melihat ke dunia: Badan jasmani namanya.
Apabila Nyawa melihat kepada badan jasmaninya: hati kecil namanya.
Artinya : Adapun ilmu pada Allah, kebodohan terhadap sesuatu, Adapun ma’rifat kepada Allah, menyangkali diri,
Adapun bertauhid kepada Allah, keheran-heranan.
Nabi Muhammad SAW berkata kepada Ali: ketahuilah bahwa keluar masuknya nafas itulah yang dikatakan sembahyang bathin selamanya tidak membedakan antara siang dan malam dan diwaktu tidur dan diwaktu jaga.
Apabila nafas keluar dikatakannya "LAA"
Apabila nafas masuk dikatakannya "HU"
Itulah nama Tuhan serta nama Nabi yang tidak berpisah atau dinamakan “SYAHADAT-DUA”
Keluar nafas: "Sunnah"
Shalat dirinya Tubuh
Masuk nafas: "Fardhu"
Tanda kematiannya :
• Ada yang dilihat seperti keranjang cermin, didalamnya ada orang seperti wajahnya diwaktu ia masih muda.
• 40 (Empat puluh) malam sesudah ia melihat lalu ia meninggal, empat puluh malam didalam kubur, lalu naik ke syurga pertama.
Keluar nafas: "Ilmu"
Shalat dirinya Iman
Masuk nafas: "Pengetahuan"
Tanda kematiannya :
• Ada yang dilihat seperti lampu lilin dikepalanya, terus naik ke langit
• Tiga puluh (30) malam sesudahnya itu, ia meninggal, sekian malam didalam kubur lalu naik ke syurga yang kedua.
• Pegangannya pada Qur’an 30 juz.
Keluar nafas: "Dunia"
Shalat dirinya Akal
Masuk nafas: "Akhirat"
Tanda kematiannya :
• Ada yang dilihat dikepalanya cahaya keluar, lalu naik ke langit
• Dua puluh malam setelah itu lalu ia meninggal, sekian malam ia didalam kuburnya ia naik kelangit ketiga.
• Pegangannya “Sifat Dua Puluh”
Keluar nafas: "Hamba"
Shalat dirinya Ingat
Masuk nafas: "Tuhan"
Tanda kematiannya :
• Ia melihat sesuatu seperti telur, didalamnya ada seperti masjid, cermin didalamnya, ada orang seperti wajahnya diwaktu mudanya.
• 13 (tiga belas) malam merikutnya ia meninggal, sekian malam pula ia didalam kuburnya lalu ia naik ke syurga yang ke 4 (empat).
• Berdirinya Rukun 13.
Keluar nafas: "Sifat"
Shalat dirinya Hati Sanubari
Masuk nafas: "Zat"
Tanda kematiannya:
• Ia melihat nur yang berdiri di pusatnya, seperti terangnya bulan ke 14, didalamnya ada orang seperti wajahnya diwaktu mudanya.
• Lima malam sesudahnya ia meninggal, dan sekian lama juga dikuburnya, ia naik ke syurga yang ke lima.
Keluar nafas: "Nabi"
Shalat dirinya Hati Nurani
Masuk nafas: "Tuhan"
Tanda kematiannya:
• Ia melihat “seperti rambut” berdiri diantara kedua matanyasampai ke syurga, di dalamnya ada Nur yangmerah seperti matahari.
• 3 (tiga) malam sesudahnya ia meninggal, sekian malam juga di dalam kuburnya, ia naik ke syurga yang ke 6 (enam).
• Penerapannya dalam tafakkur : “ Mulut ditutup, nafas melalui hidung”.
Keluar nafas: "Rupa Tuhan"
Shalat dirinya Nyawa
Masuk nafas: "Wali Tuhan"
Tanda kematiannya:
• Ia melihat seperti busa-busa emas sampai di langit (bulan) berdiri diantara kedua kening seperti “rambut yang hijau” melekat di Arsy, ada juga seperti bulan 14 munculnya.
• 1 (satu) malam kemudian ia meninggal, semalam juga dikuburnya ia laik ke syurga yang ke 7 (tujuh).
• Diberikan perasaan seperti orang yang sedang bersetubuh ni’matnya. Inilah berdirinya “Jibril”.
Keluar nafas: "HU" Shalat dirinya Rahasia
Masuk nafas: "HU"
Tanda kematiannya:
• Ia melihat permata yang jernih gilang gemilang, menjadi orang seperti dimasa mudanya, bercahaya wajahnya dan dirinya. Itulah “Halus Kita” keluar, itulah juga Nur, Itulah juga yang menjadi Tubuh kita.
• Pada saat lepasnya Nyawa, diberikan perasaan seperti keluarnya mani. Pada hari kematiannya itulah ia dikuburkan, hari itu juga ia naik ke syurga yang ke 8 (delapan) di “Arsy Kursyiyah”.
• Inilah yang tidak menunggu bacaan talqin.
• Inilah berdirinya Muhammad,
• Inilah yang dinamakan:
→ “shalat yang berkekalan dan berkepanjangan”.
→ Tali yang tidak putus pada Allah.
→ Kain Kafan yg tidak hancur
Jika kita berdiri untuk shalat, pada haqiqatnya ALIF itulah yang berdiri untuk shalat. Maksudnya: Naikkan terlebih dahulu nafasmu kemudian berdiri, artinya: Nyawa yang terlebih dahulu berdiri, kemudian Tubuh sebab tidak mungkin Tubuh yang dapat mendirikan Nyawa, sebaliknya Nyawa itulah yang mendirikan Tubuh. Jangan bertentangan perbuatan Tubuh dengan Nyawa, karena yang demikian itu sama halnya dengan orang yang menserikatkan Tuhan.
Hal ini diibaratkan bahwa, Nyawa itu ibarat Imam terhadap Tubuh, sudah tentu Imam itu terdahulu yang berdiri kemudian ma’mum. Itulah sebabnya maka “Imam” itu wajib diketahui.
Bilamana ada orang yang bertanya siapa Imammu dalam shalat, maka jawablah bahwa “Al-Qur’an itulah Imamku”...
Apa artinya Al-Qur’an itu?...
Al-Qur’an itu Kalamullah atau perkataan Tuhan, dan Tuhan itu bersifat Qadim, jadi Al-Qur’an itupun Qadim. Jadi pada haqiqatnya Tuhan itulah Imam, tanpa demikian ini berarti shalatnya tidak sah. Sebab yang dimaksudkan shalat disini ialah Dzahirnya perbuatan.
“Dzahir” artinya perbuatannya Tuhan pada kita. Allah juga pada haqiqatnya. Sehingga kita bersatu kata atau sekata dengan Imam (Imam dengan Ma’mum).
Dikatakan “Imaman Lillahi Ta’ala”, artinya Imam karena Allah Ta’ala.
Dikatakan “Ma’muman Lillahi Ta’ala”, artinya Ma’mum karena Allah Ta’ala.
Imam itulah yang menggerakkan ma’mum, demikian pulalah Nyawa itulah yang menggerakkan Tubuh, dan tidaklah Nyawa itu dapat bergerak jika tidak karena kehendak Tuhannya.
Bila hendak Ruku’, turunkan nafasmu dahulu, kemudian badanmu ruku’.
Begitu pula I’tidal (Sami Allahu Liman Hamida), naikkan kembali nafasmu, kemudian tegak.
Sujud juga demikian, turunkan dahulu nafasmu, kemudian sujud.
Lawan sujud juga demikian, naikkan dahulu nafasmu, kemudian mengangkat kepala (kembali duduk).
Demikianlah Nafas itu diikuti naik turunnya, begitulah Imam para Nabi termasuk Nabi Muhammad saw, dan para Wali.
Inilah yang dikatakan “IMAM TANPA DI IMAMI”.
Bila ada orang yang memakai (memperkenalkan) hal ini, maka itulah orang yang sah dijadikan Imam.
Jadi bila ada orang yang menjadi Imam sedang ia tidak mengetahui hal ini, sedang Ma’mumnya ada yang mengetahui, maka dikatakanlah “IMAM YANG DI IMAMI OLEH MA’MUM”.
Selanjutnya bila sudah membuang Takbiratul Ihram, tahanlah nafasmu sebentar, itulah yang dikatakan “Lenyap Kepada Nur Muhammad”.
Adapun yang dibicarakan masalah Nahwu dan Sharaf, “huruf” Baris, dan Lagunya”. Jadi hanya masalah “Lafaz”.
Bila dikatakan bahwa “Kata-Kata Tuhan Itu Bukan Huruf, Bukan Suara, Bunyi, Tidak Berawal, Tidak Berakhir, Dan Tidak Tasdik”, maka bingunglah orang-orang Nahwu dan Sharaf. Sebab bukan Huruf. Bahkan baris tiga Alif itu tidak dilihat oleh Nahwu dan Logat. Sebab huruf tidak bersambung. Sebab Alif yang ditulis dengan tinta itu menunjuk kepada Alif yang bukan tinta. Sedangkan Alif yang bukan tinta itu menunjuk kepada kata-kata Tuhan.
Bila tanda kematian telah tiba, maka hal yang sangat penting untuk dilakukan adalah:
- Perbanyaklah bertobat kepada Allah swt, atas segala kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat lahir maupun bathin, besar atau kecil, sengaja maupun yang tidak disengaja.
- Perbanyaklah berdzikir kepada Allah swt:
- Laa Ilaaha Illallah
- Allah, Allah
- Hua, Hua
- Ah, Ah
- Serahkan dirimu sepenuhnya, artinya gaibkan dirimu kepada Nur Muhammad, dengan demikian sampailah engkau atau kekallah engkau pada Zat Allah swt, Sebab mustahil akan bercerai Nur dengan yang punya Nur, laksana matahari dengan cahayanya. Insya Allah selamatlah engkau.
- Sangkalah dirimu didalam rahmat Tuhanmu, jika engkau menyangka dirimu disiksa, maka disiksalah engkau, bila menyangka dirimu diselamatkan dari segala bahaya, maka diselamatkanlah engkau.
- Adapun tanda itu harus, artinya: boleh jadi ada, boleh jadi tidak ada, tergantung kepada kehendak Allah swt. Hanya kematian itu yang pasti adanya.
Adapun tanda kematian itu sebagai berikut:
- Melihat Nur yang lebih terang dari cahaya matahari.
- Melihat ke langit tujuh susun tanpa halangan sampai pada Arsy Qursyiyah.
- Melihat Nur yang terang, tiba-tiba ada seorang laki-laki berpakaian hijau berdiri disebelah kananmu lalu memegang telunjukmu dan berkata; “Lupakan saja dunia yang gelap ini, akhirat itulah yang terang, kesanalah engkau, dan Allah lebih mengetahuinya”, Muhammad itu yang mendatangimu dan katakanlah:
“Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah, Wa Asyhadu Annaka Muhammadan Rasuulullah”
Artinya: Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah, dan Anda adalah Muhammad Rasulullah.
- Selanjutnya melihat Nur yang tidak dimengerti tak ada seumpamanya, muncul lalu lenyap, muncul lagi dan segala sesuatu sudah pada sujud, itulah tanda akhir hidupmu di dunia ini, tidak akan kembali lagi untuk selama-lamanya.
- Adapun perasaanmu lebih nikmat daripada bersetubuh antara suami dengan isteri. Biasa saja terjadi kalau diketahui jalannya, dan sehubungan dengan hal itu ada hadits Qudsi yang menunjangnya, yang artinya: “Ingatlah Aku (Allah) diwaktu senangmu, maka Aku (Allah) mengingatmu diwaktu susahmu”.
Pertanyaan:
- Manusia diwaktu senang, kapan?
Dan manusia diwaktu susah, kapan?
Dan bagaimana caranya mengingat Allah diwaktu senang?
- Adapun orang yang bias mendapatkan kenikmatan itu, tanda-tandanya:
Basah disekitar alat kelaminnya, karena keluarnya air mani ketika berpisahnya Tubuh dengan Nyawa.
- Sewaktu mengucapkan Laa Ilaaha: niatkan dirimu lenyap bersama Nur Muhammad pada Dzat Allah
- Kemudian mengucapkan Illallah: niatkan dirimu kekal bersama Nur Muhammad pada Dzat Allah.
Lailahailallah:
- Laa Ilaaha, artinya menafikkan atau meniadakan
- Illallah, artinya mengisbatkan atau mengadakan pada wujud Allah.
- Hati yg menarik, Nyawa yang ditarik, Rahasia tempat menarik.
- Cahaya Cermin itu adalah tempat Manusia
- Cahaya Intan itu adalah tempatnya Muhammad
- Cahaya Jamrud itu adalah tempatnya Allah swt
- Maka dimasukkanlah diri-Nya didalam Cahaya Cermin, kemudian berpindah ke Cahaya Intan, kemudian ke Cahaya Jamrud didalam Nur Ilahi bersama Muhamad
- Demikianlah cara pengembalian serta pengekalan para Aulia Allah.
- Ketahuilah bahwa:
- Dzat Allah itu bathin pada Nyawa Muhammad, sehingga tidak ada pemisahan antara Hati Nurani (Nyawa kita) dengan Nyawa Nabi kita serta Dzatnya Allah, artinya: tubuh itu dapat bergerak, berkehendak, kuasa, hanya karena perintah dari Nyawa kita. Sedangkan Nyawa dibawah perintah Nur Muhammad, sehingga ia dapat bergerak, kuasa dan mengetahui.
- Adapun Nyawa Muhammad, nyata pada Dzatnya Allah, menurut dalil yang mengatakan Artinya: Seandainya bukan karena engkau Muhammad, Aku tidak menjadikan segala sesuatu.
Arti Haqiqatnya: “Tidak berpisah Nur dengan yang punya Nur”.
Mengenal Allah, Dzat, Sifat, Asma, Af’al, Diri, Tubuh, Hati, Nyawa, Rahasia, itulah bernama “Insan” atau “Tuhan”.
- Yang memerintah Tubuh kita, Af’al (Perbuatan) pada Allah
- Yang memerintah Hati kita, Nama pada Allah
- Yang memerintah Nyawa kita, Sifat pada Allah
- Yang memerintah Rahasia kita, Dzat pada Allah
.
Sabda Nabi Muhammad SAW Artinya : Pengenal pada diri ada empat: Tubuh, Hati, Nyawa, dan Rahasia.
Artinya : Beginilah pengenal pada diri (tubuh) kita serta Tuhan.
Artinya : Ketahuilah Kekuasaan Tuhan dan Kehendaknya dalam segala sesuatu tiada yang mencampurinya.
Artinya : Semua kata-kata dan kalimat itu adalah kata-kata dan kalimat Tuhan.
Artinya : Pengenalan dengan meng-Esakan (men-Tauhidkan) Allah.
Artinya : Tidak sempurna Islam seseorang, kecuali mengenal Iman,
Yang dikatakan orang beriman ialah, orang yang “Mengenal Dirinya, Mengenal Tuhannya”.
Artinya : Hati orang beriman, Rumah Allah.
NAFAS: Adapun bilangan keluar masuknya nafas dalam sehari-semalam sesuai dengan bilangan huruf Al-Qur’an = 32.005.345 (tiga juta lima ribu tiga ratus empat puluh lima).
SYAHADAT
: Adapun Syahadat itu, “Hidupnya” Allah yang dijadikan Tubuh pada kita. Isyaratkan bahwa Tubuh kita tidak bercerai dengan Hidupnya Allah swt.
SATINJA: Adapun Satinja itu, Cahaya Allah yang menjadi kesucian pada hati kita, menjadi rumah-Nya orang mu’min. Isyaratkan bahwa kesucian kita tidak berpisah dengan Nur Allah swt. Jadi Hati kita tidak terpisah dengan Halusnya Allah swt.
JUNNUP' : Adapun Junnu itu, Halusnya Allah yang dijadkan Rasa Ni’mat pada diri kita. Di isyaratkan, tidak berpisah ni’mat kita dengan Halusnya Allah swt.
PERSETUBUHAN: Sebelum melaksanakan malam pertama bagi pengantin baru (juga bagi pengantin lama kalau belum pernah melaksanakannya), hendaknya melakukan terlebih dahulu “Nikah Batin”.
Seorang suami jangan hanya mengawini isterinya hanya tubuh kasarnya saja, tapi yang harus dikawininya ada 6 (enam) macam, yaitu :
1) Tubuh
2) Hati
3) Nyawa
4) Rahasia
5) Tubuh Halusnya
6) Maunya
Seorang suami harus meminta halalnya dari isterinya keenam macam itu.
Kalau tidak tahu silahkan tanyakan kepada yang tahu.
- Dimisalkan makanan yang telah dihidangkan:
- Maka sebelum dimakan diucapkanlah dzikirnya Tubuh, Hati, Nyawa, Rahasia.
- Pada suapan pertama: dikatakan "A"
Tidak disentuh lidah. Inilah suara mula jadi.
- Pada suapan kedua: dikatakan "I, U"
jangan disentuh lidah. Inilah “Junnu”. Selamat dunia & akhirat.
- Jika sudah berulang-ulang kali suapannya, dikatakanlah "A" sebab itulah yang tidak disentuh tulisan, jangan dilupakan sampai selesai. Beginilah cara Ali dengan Fatimah.
- Dalam buku Yoga dan sex, dalam waktu sekejap mata, sepasang suami isteri yang mencapai klimax dari hubungan sexnya, akan lebih dekat dengan Allah swt.
Justru itu jangan kerja seperti alu, tidak ada hasil. Jadi kalau kerja pasti ada hasilnya. Apakah :
- Manusia berilmu?
- Manusia berpangkat?
- Manusia berharta?, dsb...Mudah-mudahan mengerti maksudnya.
- Nabi Khaidir a.s: Bagaimana yang dikatakan “Awal Permulaan?
→ Nabi Muhammad saw: Barang siapa yang mengetahui tentang awal permulaan ini, maka Allah Swt, mengampuni segala dosa-dosanya serta kedua orang tuanya, begitu pula segenap sanak keluarganya dan familinya, jauh maupun dekat, diampunkan segala dosa-dosanya dunia dan akhirat.
Sewaktu kita masih berada di dalam pengetahuan Allah Swt., kemudia pindah kepada kenabian (alam nubuah) dan juga kita masih pada Angin, Air, dan Tanah.
- Nabi Khaidir a.s: Siapa nama kita pada awal permulaan?
→ Nabi Muhammad saw: Adapun mula-mula nama kita pada Allah Ta’ala :
- bagi laki-laki bernama ALI”
- bagi perempuan bernama “FATIMAH”.
- Sewaktu kita tinggal pada Darah
- 1 bulan
- 2 bulan
- 3 bulan
- 4 bulan
- 5 bulan
- 6 bulan
- 7 bulan di dalam rahim ibu lengkaplah Tubuh, maka dibacakan “Al-Hamdu”
- 8 bulan di dalam rahim ibu dibacakanlah “Qul Huwallaahu Ahad”
- 9 bulan di dalam rahim ibu maka Tuhan berkata: "Bersiap-siaplah untuk keluar ke dunia, disambut dengan malaikat dan rezeki yang murah, banyak, atau sedikit, demikian pula umurmu panjang atau pendek".
Berkata syahadat pada Tuhan: Saya takut yaa Tuhan.
Kenapa engkau takut sedang Aku yang menyuruhmu?
Saya takut sebab saya belum tahu siapa namamu yaa Tuhan.
Tuhan berkata: Alif namaku.
Syahadat berkata: kalau begitu sama dengan kita.
Tuhan berkata: Siapa namamu?
Syahadat berkata: Alif juga namaku.
Kalau begitu sama namamu dengan nama-Ku.
Ketahuilah Aku, agar engkau Ku ketahui juga. Kenalilah Aku, agar engkau Ku kenal pula.
Dengan cara bagaimana aku mengetahui yaa Tuhan?
Tuhan menjawab: “Yaitu dengan baris diatas (A). itulah sebabnya tangis pertama bayi lahir kedunia.
Bila ada orang yang bertanya kepadamu, bagaimana pengetahuanmu pada Allah Ta’ala sehingga engkau dinamakan orang yang berma’rifat.
Katakanlah kepadanya: “saya mengetahui dengan pengenalannya sendiri, tempat saya melihat dan mengetahui, artinya dengan pengetahuannya saya mengetahui, dengan pengenalannya saya mengenalnya”.
Ketahuilah olehmu tentang “Rahasia Mati” sebelum mati.
Barang siapa yang telah mengetahui hal tersebut, berarti itulah orang yang telah mempersiapkan dirinya bagi Tuhannya, dan Tuhanpun tersedia baginya.
Yang dimaksudkan ialah :
- Mandikan dirimu, bukan dengan air
- Bungkus dirimu, bukan dengan kain kafan
- Sembahyangi dirimu sebelum matimu
- Kuburkan dirimu, bukan dengan tanah
Karena sesungguhnya Tuhan telah berkata bahwa bagi hamba-Ku yang demikian itu, itulah yang tidak bercerai dengan Aku, dan lepas dari segala tuntutan dunia dan akhirat. Itulah hamba yang beriman sungguh-sungguh dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah Ta’ala semata.
Adapun kematian itu ada 4 (empat) tingkat, yakni :
1) Kematian Syariat: Yaitu mengucapkan dzikir Laa ilaaha Illallah pada akhir kematiannya
2) Kematian Thariqat: Yaitu mengucapkan dzikir Allah, Allah pada akhir kematiannya
3) Kematian Haqiqat: Yaitu yang mengucapkan dzikir Huwa, Huwa pada akhir kematiannya
4) Kematian Ma’rifat: Yaitu mengucapkan dzikir Ah, Ah, pada akhir kematiannya
→ Tanda-tanda Kematian Syariat: Yakni Hancur tubuhnya dalam kubur
→ Tanda-tanda Kematian Thariqat: Yakni tubuhnya tidak rusak dan kering
→ Tanda-tanda Kematian Haqiqat: Yakni Tubuhnya utuh dan rambutnya serta kukunya bertambah panjang, wajahnya bercahaya-cahaya.
→ Tanda-tanda Kematian Ma’rifat: Yakni tubuhnya lenyap dalam kubur, diambil oleh Malaikat, dibawa ke Tanah Suci menjadi “Wali Allah”.
→ Yang dikatakan “sudah membungkus diri sebelum mati ialah: Lenyapkan Tubuhmu kedalam hatimu.
→ Sudah memandikan diri sendiri bukan dengan air ialah : Lenyapkan dirimu dilaut adanya Allah.
→ Sudah menyembahyangi diri sendiri, ialah Rahasiamu lenyap pada Nur Muhammad, Nur Muhammad lenyap pada Nur Allah.
→ Tetapkan hatimu dalam keyakinan bahwa Tuhan itu Esa adanya.
→ Bila sudah ada nur yang tiada seumpamanya, sedang masih ada perasaan sakit dirasakan, itu belum yang sebenarnya. Jangan di ikuti.
→ Bila sudah merasakan ketenangan dan kenikmatan semata dan seluruh perasaan telah sujud, berarti yakinilah bahwa Tuhanmu telah ada, apakah ada Nur atau tiada, berangkatlah. Insya Allah anda telah selamat.
- Adapun hikmah yang dikehendaki dalam Shalat Subuh itu, yakni mensucikan seseorang daripada kelupaan dan kelalaiannya, sehingga menetapkan hadapannya semata-mata kepada Allah Ta’ala yang tiada seumpamanya sesuatu. Itulah sebabnya maka tidak ada shalat sunnah sesudah Shalat Subuh.
- Adapun yang dikehendaki dalam Shalat Dhuhur itu, yaitu: sucikan pandanganmu melihat ke-Esaan serta kesempurnaan Allah Ta’ala sampai memasuki waktu Ashar.
- Adapun yang dikehendaki dalam Shalat Ashar, yakni sucikan dirimu serta himpunkan penglihatan sempurnamu menghadap pada Himpunan Allah (Tauhid) Yang Maha Esa. Itulah sebabnya tidak ada shalat sunnah dibelakang shalat ashar.
- Adapun yang dikehendaki dalam Shalat Maghrib, yakni sucikan pendengaranmu, penglihatanmu, serta kata-katamu.
- Adapun yang dikehendaki dalam Shalat Isya’, yakni sucikan kegelapanmu menuju yang terang, artinya hilangkan keakuanmu, serahkan dirimu kepada yang punya diri (pencipta). Jelasnya hanya Allah swt yang berkuasa, berkehendak, yang hidup seterusnya, tiada yang lain.
- Adapun yang dikehendaki dalam Shalat Witir, yakni menetapkan ingatan lahir dan bathin, tertuju kepada Allah semata-mata, demi untuk dan karena Allah semata.
Bagi orang yang telah memiliki keyakinan yang putus adanya maka tiada lagi hal yang tersembunyi baginya, bahkan Tuhannya itulah yang paling nyata dalam segala hal.
Baginya tiada perbedan diwaktu hidup didunia dan diakhirat. Mereka telah yakin bahwa hidupnya itu tidak akan mengalami kematian, sekalipun kelak akan berpisah dengan tubuhnya.
Dalam arti men-Tuhankan Allah swt. itu adalah menyadari seluruh jiwanya bahwa segala bentuk serta penghayatan dirinya, pada Tuhannyalah ia mengharapkan. Sebab segala yang ada adalah hak dan milik Tuhan, bahkan dirinya sendiri telah bukan lagi miliknya. Mereka telah menyadari bahwa ke-aku-annya selama ini adalah “palsu” belaka.
Adapun yang bernama itu, laksana gelombang dengan air lautan. Bila gelombang itu telah tiada (sirna), maka yang ada hanya lautan itu sendiri. Jelaslah dalam hal ini bahwa gelombang itu adalah merupakan sifat dari lautan. Laksana bayang-bayang dengan yang punya bayang-bayang.
Dengan demikian tiadalah bedanya jika kita menyadari hal ini bahwa yang bathil itu, bathil sejak dahulu, sekarang maupun akan datang.
Sebaliknya bahwa “Haq” itu awal tak berpermulaan akhir tak berkesudahan, tiada ia dicakup oleh ruang dan waktu, nyata ia dibalik segala yang dinyatakan.
Siapakah dia?
Dia itulah yang sebenar-benarnya hakikat diri kita yang tak dapat diragu-ragukan lagi.
Bahwa Dzat itulah yang bersifat, artinya bahwa hidup kita ini adalah kenyataan sifatnya, dan yang bersifat itulah yang menghidupi segala sesuatu.
- Jadi yang menjadi Hidup (Nyawa) Muhammad dinamai “Titik”, artinya Rahasia.
- Sedangkan yang dinamai “Rahasia” adalah Nur Zat.
- Yang menjadi sifat itu adalah yang dinamai “NUR”, artinya Nur yang tidak berubah-ubah (hidup yang tidak berubah).
- Adapun Jiwanya (Nyawa) adam, adalah Alif, artinya Himpunan, maka Nyawa namanya.
- Jadi Nyawa itu ada 2 (dua), yaitu;
1. Nyawa yang dinamai “Titik” adalah Nyawanya Muhammad
2. Nyawa yang dinamai “Alif” adalah Nyawanya Adam.
- Inilah yang tiga tidak berpisah
Jadi bila hal tersebut telah menyata pada kita, berarti kita telah menyaksikan (melihat) buktinya sempurna.dengan demikian maka selamatlah anda untuk selama-lamanya, kekal abadi dunia akhirat.
Inilah dapat dikatakan “kesempurnaan ilmu” atau kepastian ilmu.
Segala yang dijadikan itu adalah bayang-bayang pada Tuhan. Sedang bayang-bayang dengan yang punya bayang-bayang adalah “Satu”. Gerak bayang-bayang itu adalah geraknya yang punya bayang-bayang.
Yakinkan dan jangan ragu-ragu lagi nanti salah.
NYAWA:
menurut Syariat = NYAWA namanya
menurut Thariqat = NUR namanya
menurut Haqiqat = ZAT ALLAH namanya
menurut Ma’rifat = TIDAK ADA YANG LAIN KECUALI ALLAH.
NABI MUHAMMAD SAW DENGAN ANAKNYA FATIMAH:
Nabi Muhammad saw berkata kepada anaknya: “Hai Fatimah, apakah engkau masih ingat yang telah saya katakana padamu?”
Fatimah menjawab: “Ya saya ingat semuanya”
Ingatlah sebuah “kata” yang tak berpisah dengan Tuhan, yaitu sewaktu Tuhan memesrahi sesuatu, yakinkan dalam hatimu yang bersih.
Barang siapa yang menemukan pengenalan yang sesungguhnya didalam kehendak Tuhannya, itulah orang yang memakai: Penglihatan Tuhannya ia melihat, Pendengaran Tuhannya ia mendengar, dengan kata Tuhannya ia berkata, dan katakanlah nama itu tidak berpisah dengan yang punya nama.
Janganlah merasa ragu dalam hatimu, itulah sebabnya sehingga ada yang dikatakan: “Kepastian Ilmu” atau Ilmil Yakin, Haqqul Yakin.
Yakinkan dalam hatimu, tidak berpisah dengan Tuhanmu serta Rasulnya. Sebab haqiqat NYAWA yang suci itulah yang dinamakan “Muhammad” artinya orang yang dicinta.
Artinya: Insan itu Rahasia-Ku, dan Aku Rahasianya.
Kuatkan Tauhidmu pada Allah swt.
Adapun pengertian sebenarnya kalimah:
Laa Ilaaha Illallah yaitu “TIADA ASALKU YANG SELAIN DARI ALLAH TA’ALA”
Nabi Muhammad saw berseru kepada seluruh umatnya:
“Ketahuilah dirimu didalam dirimu”
Yakni: ada 4 (empat) : Rahasia, Nyawa, Hati, Tubuh.
1) Rahasia itu Nur Zatullah
2) Nyawa itu Nur Sifatullah
3) Hati itu Nur Asmaullah
4) Tubuh itu Nur Af’alullah.
Dari ke 4 (empat) tersebut diatas, 3 (tiga) yang dapat melihat pada Allah.
Allah itulah yang menjadikan semesta alam beserta isinya dan berubah-ubah, Tuhan juga yang meliputi, menembus, memesrahi beserta isinya.
As-Syeikh Lukmanul Hakim bertanya kepada anaknya : “Apa sebabnya Al-Fatihah dibaca dalam shalat”?
Indrajaya menjawab: “bahwa shalat lima waktu berasal dari surah Al-Fatihah, pada awalnya, yaitu:
Al-Hamdu terdiri dari lima huruf yaitu :
Alif
Lam
Ha
Mim
Dal
Allah swt menjadikan waktu yang lima itu sebagai berikut :
1) Waktu Dhuhur: dijadikan dari huruf Alif-nya Al-Hamdu
2) Waktu Ashar: dijadikan dari huruf Lam-nya Al-Hamdu
3) Waktu Maghrib: dijadikan dari huruf Ha-nya Al-Hamdu
4) Waktu Isya’: dijadikan dari huruf Mim-nya Al-Hamdu
5) Waktu Subuh: dijadikan dari huruf Dal-nya Al-Hamdu
🙏🙏🙏wasalam..
(KITAB DIRI YG TERSEMBUNYI)
Inilah kitab yang membicarakan sebelum alam ini dijadikan. Bermulah Allah menjadikan Nyawa Muhammad, lalu Tuhan melihat kedepan tiada sesuatu yang dilihatnya, kemudian melihat ke belakang, kekanan, dan kekiri namun tiada melihat sesuatu pun. Sedangkan Ia ingin disembah dan dipuji, tidak ada yang memuji dan menyembahnya. Maka dijadikanlah dirinya didalam dirinya,
kemudian melihat ke atas dan dikatakannya ( ALIF ), keluarlah Nur, inilah Rahasianya Muhammad, melihat ke atas jadilah Arsy. Melihat ke bawah jadilah Rahasianya.
Kemudian Tuhan melihat ke depan dan dikatakannya ( I ), keluarlah Nur, inilah Nyawanya Muhammad, melihat ke atas jadilah Kursiyah, melihat ke bawah inilah Nyawanya.
Kemudian Tuhan melihat ke kanan dan dikatakan ( U ), keluarlah Nur menjadi hatinya Muhammad, melihat ke atas inilah syurga melihat kebawah menjadi hatinya.
Kemudian Tuhan melihat ke kirinya dikatakannya ( HA ), keluarlah suatu Nur, inilah Misalnya Muhammad, melihat ke bawah jadilah misalnya.
Kemudian Tuhan melihat ke belakang dan dikatakannya ( HU ) , keluarlah suatu Nur yang menjadi akalnya Muhammad, melihat ke atas jadilah Lauh-Mahfud, melihat ke bawah jadilah akal Muhammad.
Kemudian Tuhan melihat ke bawah dan dikatakannya ( HU ), keluarlah suatu cahaya, inilah bayang-bayangan Muhammad, melihat ke atas inilah hati kecil, melihat kebawahnya jadi Rupa.
Kemudian Tuhan melihat kedalam diri-Nya, inilah yang menjadi Hatinya Muhammad, inilah yang dinamakan Halus.
Melihat keatas inilah yang menjadi Rasa.
Melihat kebawah inilah yang menjadi Air Mani.
Kemudian Tuhan melihat ke sekeliling-Nya, dikatakan-Nya (HUA HUA)
menyebarlah cahayanya, maka jelaslah Nur Muhammad didalam cahayanya laut kenyataannya Allah Ta’ala didalam cahayanya Muhammad, dikatakannya dirinya Tuhan, maka dinampakkanlah dirinya Tuhan dihadapan Muhammad, kemudian Tuhan berkata; “Jadi adakah engkau yang menjadikan dirimu sehingga engkau melupakan Nyawamu disujudkan di Baitul Maujudi?”
Maka berkatalah Muhammad: “Engkau baru kulihat, maka sebaiknya kita masing-masing bersembunyi, barang siapa yang didapat itulah yang menjadi Hamba, yang tidak dapat diketemukan itulah yang menjadi Tuhan”.
Bersembunyilah engkau Muhammad terlebih dahulu, Aku yang mencari. Maka bersembunyilah Muhammad di Wajah, di ingatan, di akal, namun setiap persembunyiannya senantiasa diketemukan oleh Tuhan.
Berkatalah Muhammad, bersembunyilah, aku yang mencari. Maka bersembunyilah Tuhan di waktu 5 (lima), namun Nur Muhammad tidak menemukannya.
Maka berkatalah Tuhan: “Carilah aku sungguh-sungguh, kemudian Tuhan berpindah menyembunyikan dirinya di Rahasia, juga Muhammad tidak menemukannya.
Sehinga Muhammad berseru: “Dimanakah Engkau bersembunyi, sedangkan suara-Mu kedengaran tapi aku tak melihat?”
Maka Tuhan berkata: “Aku bersembunyi di Rahasia”
Lalu Muhammad mencarinya di Rahasia, namun Muhammad tidak dapat membuka matanya, dikarenakan cahaya terang yang tidak dapat ditembus, sehingga Muhammad berkata: “Sudahlah nyatakanlah diri-Mu, Engkaulah yang menjadi Tuhan”
Maka berkatalah Tuhan: “Mana tanda kepercayaan-Mu dan dimana letak berdiri kepercayaanmu?”
Maka dikatakanlah Muhammad: “ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH",
lalu Tuhan menjawab: “WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH”.
Ketahuilah olehmu Muhammad “Rupa” itu Sifat-Ku dan nama bagimu, “Waktu” itu Sifatmu.
Berkatalah Muhammad: “bagaimana sehingga Wajah itu namaku sedangkan adalah Sifat-Mu?
Berkatalah Tuhan : adalah Rupa (Wajah) itu namamu dan Sifat-Ku, karena itulah Aku ingin disembah, dipuji, dikenal, dikasihi, digembirai, sedangkan semua itu tidak dapat dilakukan-Nya. Sehingga dengan demikian kujadikan diri-Ku dalam diri-Ku.
“Waktu” itu Nama-Ku dan Sifat itu Rupa-Ku, sebab Aku jugalah yang sembah diri-Ku. Sesuai dengan dalil: Artinya: Adapun yang disembah dan menyembah itu satu.
Jadi Aku yang memuji diri-Ku, dan mengasihani diri-Ku, dan engkau kujadikan yaa Muhammad Akulah yang menjadikan diri-Ku, dalam diri-Ku, adamu itu ada-Ku-lah itu. Kenyataanmu itu kenyataan-Ku-lah itu.
Ketahuilah olehmu Muhammad Ada-mu pada Nama-Ku yang sesungguhnya di dirimu.
Adapun Sifat-Ku, ada pada DIAMMU
Adapun Rupa-Ku, ada pada I’TIKADMU
Adapun Diri-Ku, ada pada MANFAATMU
Adapun Lahir-Ku, ada pada GERAKMU
Adapun Perbuatan-Ku, ada pada PERBUATANMU
Adapun Rahmat-Ku, ada pada PERKATAANMU YG BENAR
Adapun kehendak-Ku, ada pada HAJATMU
Adapun kekekalan-Ku, ada pada HATIMU YG BAIK, TEMPATNYA MUHAMMAD.
Fungsi-Fungsi Yang Dibebankan Allah Swt.
1) Fungsi Rahasia, Kebenaran dan Alam
2) Fungsi Nyawa, Penglihatan dan Nama-Ku
3) Fungsi Hati, Niat dan Pengenalan
4) Fungsi Ingat, Angan-angan dan Kekuasaan
5) Fungsi Akal, Yang Nyata dan Kebingungan
6) Fungsi Bayang-bayang, Kepintaran dan Kebodohan
7) Fungsi Nur, Pertimbangan dan Pengetahuan.
TANYA: Apa sebabnya Engkau jadikan yang tujuh itu?
JAWAB: Aku jadikan yang tujuh itu sebab Aku ingin disembah.
TANYA: Dimanakan yang disembah dari yang tujuh itu?
JAWAB: Aku disembah Nur pada bayang-bayang
“Bayang-bayang, Ingat, Hati, Nyawa, Rahasia, di Diri-Ku, dan
Akulah yang sembah diri-Ku"
TANYA: Apa penyembahan Rahasia Pada-Mu Yaa Allah?
JAWAB: Penyembahan Rahasia itu, ketika ia mengatakan : “A”
Penyembahan Nyawa itu, ketika ia mengatakan : “I”
Penyembahan Hati itu, ketika ia mengatakan : “U”
Penyembahan Ingat itu, ketika ia mengatakan : “Ha”
Penyembahan Akal itu, ketika ia mengatakan : “Hi”
Penyembahan Bayang-bayang itu, ketika ia mengatakan : “Hu”
Penyembahan Nur itu, ketika ia mengatakan : “Engkaulah Yang Kusembah Yaa Allah”
Adapun kenyataannya Rahasia: “A”
Adapun kenyataannya Nyawa: “I”
Adapun kenyataannya Hati: “U”
Adapun kenyataannya Ingat: “Ha”
Adapun kenyataannya Akal: “Hi”
Adapun kenyataannya Bayang-bayang: “Hu”
Adapun kenyataannya Alif, Rasa, Nyawa Muhammad: "Mani"
Adapun Perbuatan Muhammad itu: “Antara”
Adapun yang dinamakan: “Nama Dirimu” artinya “Kita Berdua Berdiri, Akulah itu Muhammad.
Adapun yang dinyatakan: “Engkaulah itu Muhammad, itulah dinamakan kata “HIDUP TAK MATI” artinya yang disuruh dan yang menyuruh.
Yang mengetahui hal itu serta dibenarkannya, panjang umurnya, dan disukai oleh para penguasa, dipercaya oleh orang lain, dihindarkan dari bahaya ujian Tuhan.
Ketahuilah pula kemunculannya NUR:
Nur muncul pada bayang-bayang
Bayang-bayang muncul pada Akal
Akal muncul pada Ingat
Hati muncul pada Nyawa
Nyawa muncul pada Rahasia
Rahasia muncul pada Nur
Nur muncul pada Tuhannya.
Dari situlah kita datang dan disitu pula kita kembali.
Maka kenalilah Aku sungguh-sungguh Muhammad bahwa, “Kita tidak berpisah”
Aku jadikan segala sesuatu karenamu, sedang engkau untuk-Ku.
Muncullah engkau pada kenyataan, Ku nyatakan engkau dan Ku lindungi engkau.
Adapun kenyataan serta pengertian Alif itu bersumber dari titik atau Zarra atau Nyawa-berlindung. Yang dinamakan Nyawa berlindung yakni Rahasia atau Cahaya Zat dan Sifat itulah yang memperkenalkan Tuhan.
Adapun iman itu tempatnya Rahasia, Artinya Rahasia adalah Cahaya Hati-Nurani, ketika baris atas, bawah dan titik itu terbagi, maka jadilah 4 (empat) huruf, pertama ALIF, kedua LAM dimuka, ketiga LAM dibelakang, dan keempat HA, inilah lafasnya (Allah SWT).
Nyawa muhammad dinamai Ma'rifat
Nyawa kita dinamakan Haqiqat
Angan angan kita dinamakan Thariqat
Tubuh kita dinamakan Syariat ialah pengetahuan tentang pengenalan diri didalam Tubuh kita.
Apabila Nyawa itu melihat pada Allah SWT: Rahasia namanya.
Apabila Nyawa melihat pada Alam: Iman namanya.
Apabila Nyawa melihat pada Akhirat: Nyawa namanya.
Apabila Nyawa melihat ke dunia: Badan jasmani namanya.
Apabila Nyawa melihat kepada badan jasmaninya: hati kecil namanya.
Artinya : Adapun ilmu pada Allah, kebodohan terhadap sesuatu, Adapun ma’rifat kepada Allah, menyangkali diri,
Adapun bertauhid kepada Allah, keheran-heranan.
Nabi Muhammad SAW berkata kepada Ali: ketahuilah bahwa keluar masuknya nafas itulah yang dikatakan sembahyang bathin selamanya tidak membedakan antara siang dan malam dan diwaktu tidur dan diwaktu jaga.
Apabila nafas keluar dikatakannya "LAA"
Apabila nafas masuk dikatakannya "HU"
Itulah nama Tuhan serta nama Nabi yang tidak berpisah atau dinamakan “SYAHADAT-DUA”
Keluar nafas: "Sunnah"
Shalat dirinya Tubuh
Masuk nafas: "Fardhu"
Tanda kematiannya :
• Ada yang dilihat seperti keranjang cermin, didalamnya ada orang seperti wajahnya diwaktu ia masih muda.
• 40 (Empat puluh) malam sesudah ia melihat lalu ia meninggal, empat puluh malam didalam kubur, lalu naik ke syurga pertama.
Keluar nafas: "Ilmu"
Shalat dirinya Iman
Masuk nafas: "Pengetahuan"
Tanda kematiannya :
• Ada yang dilihat seperti lampu lilin dikepalanya, terus naik ke langit
• Tiga puluh (30) malam sesudahnya itu, ia meninggal, sekian malam didalam kubur lalu naik ke syurga yang kedua.
• Pegangannya pada Qur’an 30 juz.
Keluar nafas: "Dunia"
Shalat dirinya Akal
Masuk nafas: "Akhirat"
Tanda kematiannya :
• Ada yang dilihat dikepalanya cahaya keluar, lalu naik ke langit
• Dua puluh malam setelah itu lalu ia meninggal, sekian malam ia didalam kuburnya ia naik kelangit ketiga.
• Pegangannya “Sifat Dua Puluh”
Keluar nafas: "Hamba"
Shalat dirinya Ingat
Masuk nafas: "Tuhan"
Tanda kematiannya :
• Ia melihat sesuatu seperti telur, didalamnya ada seperti masjid, cermin didalamnya, ada orang seperti wajahnya diwaktu mudanya.
• 13 (tiga belas) malam merikutnya ia meninggal, sekian malam pula ia didalam kuburnya lalu ia naik ke syurga yang ke 4 (empat).
• Berdirinya Rukun 13.
Keluar nafas: "Sifat"
Shalat dirinya Hati Sanubari
Masuk nafas: "Zat"
Tanda kematiannya:
• Ia melihat nur yang berdiri di pusatnya, seperti terangnya bulan ke 14, didalamnya ada orang seperti wajahnya diwaktu mudanya.
• Lima malam sesudahnya ia meninggal, dan sekian lama juga dikuburnya, ia naik ke syurga yang ke lima.
Keluar nafas: "Nabi"
Shalat dirinya Hati Nurani
Masuk nafas: "Tuhan"
Tanda kematiannya:
• Ia melihat “seperti rambut” berdiri diantara kedua matanyasampai ke syurga, di dalamnya ada Nur yangmerah seperti matahari.
• 3 (tiga) malam sesudahnya ia meninggal, sekian malam juga di dalam kuburnya, ia naik ke syurga yang ke 6 (enam).
• Penerapannya dalam tafakkur : “ Mulut ditutup, nafas melalui hidung”.
Keluar nafas: "Rupa Tuhan"
Shalat dirinya Nyawa
Masuk nafas: "Wali Tuhan"
Tanda kematiannya:
• Ia melihat seperti busa-busa emas sampai di langit (bulan) berdiri diantara kedua kening seperti “rambut yang hijau” melekat di Arsy, ada juga seperti bulan 14 munculnya.
• 1 (satu) malam kemudian ia meninggal, semalam juga dikuburnya ia laik ke syurga yang ke 7 (tujuh).
• Diberikan perasaan seperti orang yang sedang bersetubuh ni’matnya. Inilah berdirinya “Jibril”.
Keluar nafas: "HU" Shalat dirinya Rahasia
Masuk nafas: "HU"
Tanda kematiannya:
• Ia melihat permata yang jernih gilang gemilang, menjadi orang seperti dimasa mudanya, bercahaya wajahnya dan dirinya. Itulah “Halus Kita” keluar, itulah juga Nur, Itulah juga yang menjadi Tubuh kita.
• Pada saat lepasnya Nyawa, diberikan perasaan seperti keluarnya mani. Pada hari kematiannya itulah ia dikuburkan, hari itu juga ia naik ke syurga yang ke 8 (delapan) di “Arsy Kursyiyah”.
• Inilah yang tidak menunggu bacaan talqin.
• Inilah berdirinya Muhammad,
• Inilah yang dinamakan:
→ “shalat yang berkekalan dan berkepanjangan”.
→ Tali yang tidak putus pada Allah.
→ Kain Kafan yg tidak hancur
Jika kita berdiri untuk shalat, pada haqiqatnya ALIF itulah yang berdiri untuk shalat. Maksudnya: Naikkan terlebih dahulu nafasmu kemudian berdiri, artinya: Nyawa yang terlebih dahulu berdiri, kemudian Tubuh sebab tidak mungkin Tubuh yang dapat mendirikan Nyawa, sebaliknya Nyawa itulah yang mendirikan Tubuh. Jangan bertentangan perbuatan Tubuh dengan Nyawa, karena yang demikian itu sama halnya dengan orang yang menserikatkan Tuhan.
Hal ini diibaratkan bahwa, Nyawa itu ibarat Imam terhadap Tubuh, sudah tentu Imam itu terdahulu yang berdiri kemudian ma’mum. Itulah sebabnya maka “Imam” itu wajib diketahui.
Bilamana ada orang yang bertanya siapa Imammu dalam shalat, maka jawablah bahwa “Al-Qur’an itulah Imamku”...
Apa artinya Al-Qur’an itu?...
Al-Qur’an itu Kalamullah atau perkataan Tuhan, dan Tuhan itu bersifat Qadim, jadi Al-Qur’an itupun Qadim. Jadi pada haqiqatnya Tuhan itulah Imam, tanpa demikian ini berarti shalatnya tidak sah. Sebab yang dimaksudkan shalat disini ialah Dzahirnya perbuatan.
“Dzahir” artinya perbuatannya Tuhan pada kita. Allah juga pada haqiqatnya. Sehingga kita bersatu kata atau sekata dengan Imam (Imam dengan Ma’mum).
Dikatakan “Imaman Lillahi Ta’ala”, artinya Imam karena Allah Ta’ala.
Dikatakan “Ma’muman Lillahi Ta’ala”, artinya Ma’mum karena Allah Ta’ala.
Imam itulah yang menggerakkan ma’mum, demikian pulalah Nyawa itulah yang menggerakkan Tubuh, dan tidaklah Nyawa itu dapat bergerak jika tidak karena kehendak Tuhannya.
Bila hendak Ruku’, turunkan nafasmu dahulu, kemudian badanmu ruku’.
Begitu pula I’tidal (Sami Allahu Liman Hamida), naikkan kembali nafasmu, kemudian tegak.
Sujud juga demikian, turunkan dahulu nafasmu, kemudian sujud.
Lawan sujud juga demikian, naikkan dahulu nafasmu, kemudian mengangkat kepala (kembali duduk).
Demikianlah Nafas itu diikuti naik turunnya, begitulah Imam para Nabi termasuk Nabi Muhammad saw, dan para Wali.
Inilah yang dikatakan “IMAM TANPA DI IMAMI”.
Bila ada orang yang memakai (memperkenalkan) hal ini, maka itulah orang yang sah dijadikan Imam.
Jadi bila ada orang yang menjadi Imam sedang ia tidak mengetahui hal ini, sedang Ma’mumnya ada yang mengetahui, maka dikatakanlah “IMAM YANG DI IMAMI OLEH MA’MUM”.
Selanjutnya bila sudah membuang Takbiratul Ihram, tahanlah nafasmu sebentar, itulah yang dikatakan “Lenyap Kepada Nur Muhammad”.
Adapun yang dibicarakan masalah Nahwu dan Sharaf, “huruf” Baris, dan Lagunya”. Jadi hanya masalah “Lafaz”.
Bila dikatakan bahwa “Kata-Kata Tuhan Itu Bukan Huruf, Bukan Suara, Bunyi, Tidak Berawal, Tidak Berakhir, Dan Tidak Tasdik”, maka bingunglah orang-orang Nahwu dan Sharaf. Sebab bukan Huruf. Bahkan baris tiga Alif itu tidak dilihat oleh Nahwu dan Logat. Sebab huruf tidak bersambung. Sebab Alif yang ditulis dengan tinta itu menunjuk kepada Alif yang bukan tinta. Sedangkan Alif yang bukan tinta itu menunjuk kepada kata-kata Tuhan.
Bila tanda kematian telah tiba, maka hal yang sangat penting untuk dilakukan adalah:
- Perbanyaklah bertobat kepada Allah swt, atas segala kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat lahir maupun bathin, besar atau kecil, sengaja maupun yang tidak disengaja.
- Perbanyaklah berdzikir kepada Allah swt:
- Laa Ilaaha Illallah
- Allah, Allah
- Hua, Hua
- Ah, Ah
- Serahkan dirimu sepenuhnya, artinya gaibkan dirimu kepada Nur Muhammad, dengan demikian sampailah engkau atau kekallah engkau pada Zat Allah swt, Sebab mustahil akan bercerai Nur dengan yang punya Nur, laksana matahari dengan cahayanya. Insya Allah selamatlah engkau.
- Sangkalah dirimu didalam rahmat Tuhanmu, jika engkau menyangka dirimu disiksa, maka disiksalah engkau, bila menyangka dirimu diselamatkan dari segala bahaya, maka diselamatkanlah engkau.
- Adapun tanda itu harus, artinya: boleh jadi ada, boleh jadi tidak ada, tergantung kepada kehendak Allah swt. Hanya kematian itu yang pasti adanya.
Adapun tanda kematian itu sebagai berikut:
- Melihat Nur yang lebih terang dari cahaya matahari.
- Melihat ke langit tujuh susun tanpa halangan sampai pada Arsy Qursyiyah.
- Melihat Nur yang terang, tiba-tiba ada seorang laki-laki berpakaian hijau berdiri disebelah kananmu lalu memegang telunjukmu dan berkata; “Lupakan saja dunia yang gelap ini, akhirat itulah yang terang, kesanalah engkau, dan Allah lebih mengetahuinya”, Muhammad itu yang mendatangimu dan katakanlah:
“Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah, Wa Asyhadu Annaka Muhammadan Rasuulullah”
Artinya: Aku bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah, dan Anda adalah Muhammad Rasulullah.
- Selanjutnya melihat Nur yang tidak dimengerti tak ada seumpamanya, muncul lalu lenyap, muncul lagi dan segala sesuatu sudah pada sujud, itulah tanda akhir hidupmu di dunia ini, tidak akan kembali lagi untuk selama-lamanya.
- Adapun perasaanmu lebih nikmat daripada bersetubuh antara suami dengan isteri. Biasa saja terjadi kalau diketahui jalannya, dan sehubungan dengan hal itu ada hadits Qudsi yang menunjangnya, yang artinya: “Ingatlah Aku (Allah) diwaktu senangmu, maka Aku (Allah) mengingatmu diwaktu susahmu”.
Pertanyaan:
- Manusia diwaktu senang, kapan?
Dan manusia diwaktu susah, kapan?
Dan bagaimana caranya mengingat Allah diwaktu senang?
- Adapun orang yang bias mendapatkan kenikmatan itu, tanda-tandanya:
Basah disekitar alat kelaminnya, karena keluarnya air mani ketika berpisahnya Tubuh dengan Nyawa.
- Sewaktu mengucapkan Laa Ilaaha: niatkan dirimu lenyap bersama Nur Muhammad pada Dzat Allah
- Kemudian mengucapkan Illallah: niatkan dirimu kekal bersama Nur Muhammad pada Dzat Allah.
Lailahailallah:
- Laa Ilaaha, artinya menafikkan atau meniadakan
- Illallah, artinya mengisbatkan atau mengadakan pada wujud Allah.
- Hati yg menarik, Nyawa yang ditarik, Rahasia tempat menarik.
- Cahaya Cermin itu adalah tempat Manusia
- Cahaya Intan itu adalah tempatnya Muhammad
- Cahaya Jamrud itu adalah tempatnya Allah swt
- Maka dimasukkanlah diri-Nya didalam Cahaya Cermin, kemudian berpindah ke Cahaya Intan, kemudian ke Cahaya Jamrud didalam Nur Ilahi bersama Muhamad
- Demikianlah cara pengembalian serta pengekalan para Aulia Allah.
- Ketahuilah bahwa:
- Dzat Allah itu bathin pada Nyawa Muhammad, sehingga tidak ada pemisahan antara Hati Nurani (Nyawa kita) dengan Nyawa Nabi kita serta Dzatnya Allah, artinya: tubuh itu dapat bergerak, berkehendak, kuasa, hanya karena perintah dari Nyawa kita. Sedangkan Nyawa dibawah perintah Nur Muhammad, sehingga ia dapat bergerak, kuasa dan mengetahui.
- Adapun Nyawa Muhammad, nyata pada Dzatnya Allah, menurut dalil yang mengatakan Artinya: Seandainya bukan karena engkau Muhammad, Aku tidak menjadikan segala sesuatu.
Arti Haqiqatnya: “Tidak berpisah Nur dengan yang punya Nur”.
Mengenal Allah, Dzat, Sifat, Asma, Af’al, Diri, Tubuh, Hati, Nyawa, Rahasia, itulah bernama “Insan” atau “Tuhan”.
- Yang memerintah Tubuh kita, Af’al (Perbuatan) pada Allah
- Yang memerintah Hati kita, Nama pada Allah
- Yang memerintah Nyawa kita, Sifat pada Allah
- Yang memerintah Rahasia kita, Dzat pada Allah
.
Sabda Nabi Muhammad SAW Artinya : Pengenal pada diri ada empat: Tubuh, Hati, Nyawa, dan Rahasia.
Artinya : Beginilah pengenal pada diri (tubuh) kita serta Tuhan.
Artinya : Ketahuilah Kekuasaan Tuhan dan Kehendaknya dalam segala sesuatu tiada yang mencampurinya.
Artinya : Semua kata-kata dan kalimat itu adalah kata-kata dan kalimat Tuhan.
Artinya : Pengenalan dengan meng-Esakan (men-Tauhidkan) Allah.
Artinya : Tidak sempurna Islam seseorang, kecuali mengenal Iman,
Yang dikatakan orang beriman ialah, orang yang “Mengenal Dirinya, Mengenal Tuhannya”.
Artinya : Hati orang beriman, Rumah Allah.
NAFAS: Adapun bilangan keluar masuknya nafas dalam sehari-semalam sesuai dengan bilangan huruf Al-Qur’an = 32.005.345 (tiga juta lima ribu tiga ratus empat puluh lima).
SYAHADAT
: Adapun Syahadat itu, “Hidupnya” Allah yang dijadikan Tubuh pada kita. Isyaratkan bahwa Tubuh kita tidak bercerai dengan Hidupnya Allah swt.
SATINJA: Adapun Satinja itu, Cahaya Allah yang menjadi kesucian pada hati kita, menjadi rumah-Nya orang mu’min. Isyaratkan bahwa kesucian kita tidak berpisah dengan Nur Allah swt. Jadi Hati kita tidak terpisah dengan Halusnya Allah swt.
JUNNUP' : Adapun Junnu itu, Halusnya Allah yang dijadkan Rasa Ni’mat pada diri kita. Di isyaratkan, tidak berpisah ni’mat kita dengan Halusnya Allah swt.
PERSETUBUHAN: Sebelum melaksanakan malam pertama bagi pengantin baru (juga bagi pengantin lama kalau belum pernah melaksanakannya), hendaknya melakukan terlebih dahulu “Nikah Batin”.
Seorang suami jangan hanya mengawini isterinya hanya tubuh kasarnya saja, tapi yang harus dikawininya ada 6 (enam) macam, yaitu :
1) Tubuh
2) Hati
3) Nyawa
4) Rahasia
5) Tubuh Halusnya
6) Maunya
Seorang suami harus meminta halalnya dari isterinya keenam macam itu.
Kalau tidak tahu silahkan tanyakan kepada yang tahu.
- Dimisalkan makanan yang telah dihidangkan:
- Maka sebelum dimakan diucapkanlah dzikirnya Tubuh, Hati, Nyawa, Rahasia.
- Pada suapan pertama: dikatakan "A"
Tidak disentuh lidah. Inilah suara mula jadi.
- Pada suapan kedua: dikatakan "I, U"
jangan disentuh lidah. Inilah “Junnu”. Selamat dunia & akhirat.
- Jika sudah berulang-ulang kali suapannya, dikatakanlah "A" sebab itulah yang tidak disentuh tulisan, jangan dilupakan sampai selesai. Beginilah cara Ali dengan Fatimah.
- Dalam buku Yoga dan sex, dalam waktu sekejap mata, sepasang suami isteri yang mencapai klimax dari hubungan sexnya, akan lebih dekat dengan Allah swt.
Justru itu jangan kerja seperti alu, tidak ada hasil. Jadi kalau kerja pasti ada hasilnya. Apakah :
- Manusia berilmu?
- Manusia berpangkat?
- Manusia berharta?, dsb...Mudah-mudahan mengerti maksudnya.
- Nabi Khaidir a.s: Bagaimana yang dikatakan “Awal Permulaan?
→ Nabi Muhammad saw: Barang siapa yang mengetahui tentang awal permulaan ini, maka Allah Swt, mengampuni segala dosa-dosanya serta kedua orang tuanya, begitu pula segenap sanak keluarganya dan familinya, jauh maupun dekat, diampunkan segala dosa-dosanya dunia dan akhirat.
Sewaktu kita masih berada di dalam pengetahuan Allah Swt., kemudia pindah kepada kenabian (alam nubuah) dan juga kita masih pada Angin, Air, dan Tanah.
- Nabi Khaidir a.s: Siapa nama kita pada awal permulaan?
→ Nabi Muhammad saw: Adapun mula-mula nama kita pada Allah Ta’ala :
- bagi laki-laki bernama ALI”
- bagi perempuan bernama “FATIMAH”.
- Sewaktu kita tinggal pada Darah
- 1 bulan
- 2 bulan
- 3 bulan
- 4 bulan
- 5 bulan
- 6 bulan
- 7 bulan di dalam rahim ibu lengkaplah Tubuh, maka dibacakan “Al-Hamdu”
- 8 bulan di dalam rahim ibu dibacakanlah “Qul Huwallaahu Ahad”
- 9 bulan di dalam rahim ibu maka Tuhan berkata: "Bersiap-siaplah untuk keluar ke dunia, disambut dengan malaikat dan rezeki yang murah, banyak, atau sedikit, demikian pula umurmu panjang atau pendek".
Berkata syahadat pada Tuhan: Saya takut yaa Tuhan.
Kenapa engkau takut sedang Aku yang menyuruhmu?
Saya takut sebab saya belum tahu siapa namamu yaa Tuhan.
Tuhan berkata: Alif namaku.
Syahadat berkata: kalau begitu sama dengan kita.
Tuhan berkata: Siapa namamu?
Syahadat berkata: Alif juga namaku.
Kalau begitu sama namamu dengan nama-Ku.
Ketahuilah Aku, agar engkau Ku ketahui juga. Kenalilah Aku, agar engkau Ku kenal pula.
Dengan cara bagaimana aku mengetahui yaa Tuhan?
Tuhan menjawab: “Yaitu dengan baris diatas (A). itulah sebabnya tangis pertama bayi lahir kedunia.
Bila ada orang yang bertanya kepadamu, bagaimana pengetahuanmu pada Allah Ta’ala sehingga engkau dinamakan orang yang berma’rifat.
Katakanlah kepadanya: “saya mengetahui dengan pengenalannya sendiri, tempat saya melihat dan mengetahui, artinya dengan pengetahuannya saya mengetahui, dengan pengenalannya saya mengenalnya”.
Ketahuilah olehmu tentang “Rahasia Mati” sebelum mati.
Barang siapa yang telah mengetahui hal tersebut, berarti itulah orang yang telah mempersiapkan dirinya bagi Tuhannya, dan Tuhanpun tersedia baginya.
Yang dimaksudkan ialah :
- Mandikan dirimu, bukan dengan air
- Bungkus dirimu, bukan dengan kain kafan
- Sembahyangi dirimu sebelum matimu
- Kuburkan dirimu, bukan dengan tanah
Karena sesungguhnya Tuhan telah berkata bahwa bagi hamba-Ku yang demikian itu, itulah yang tidak bercerai dengan Aku, dan lepas dari segala tuntutan dunia dan akhirat. Itulah hamba yang beriman sungguh-sungguh dan berserah diri sepenuhnya kepada Allah Ta’ala semata.
Adapun kematian itu ada 4 (empat) tingkat, yakni :
1) Kematian Syariat: Yaitu mengucapkan dzikir Laa ilaaha Illallah pada akhir kematiannya
2) Kematian Thariqat: Yaitu mengucapkan dzikir Allah, Allah pada akhir kematiannya
3) Kematian Haqiqat: Yaitu yang mengucapkan dzikir Huwa, Huwa pada akhir kematiannya
4) Kematian Ma’rifat: Yaitu mengucapkan dzikir Ah, Ah, pada akhir kematiannya
→ Tanda-tanda Kematian Syariat: Yakni Hancur tubuhnya dalam kubur
→ Tanda-tanda Kematian Thariqat: Yakni tubuhnya tidak rusak dan kering
→ Tanda-tanda Kematian Haqiqat: Yakni Tubuhnya utuh dan rambutnya serta kukunya bertambah panjang, wajahnya bercahaya-cahaya.
→ Tanda-tanda Kematian Ma’rifat: Yakni tubuhnya lenyap dalam kubur, diambil oleh Malaikat, dibawa ke Tanah Suci menjadi “Wali Allah”.
→ Yang dikatakan “sudah membungkus diri sebelum mati ialah: Lenyapkan Tubuhmu kedalam hatimu.
→ Sudah memandikan diri sendiri bukan dengan air ialah : Lenyapkan dirimu dilaut adanya Allah.
→ Sudah menyembahyangi diri sendiri, ialah Rahasiamu lenyap pada Nur Muhammad, Nur Muhammad lenyap pada Nur Allah.
→ Tetapkan hatimu dalam keyakinan bahwa Tuhan itu Esa adanya.
→ Bila sudah ada nur yang tiada seumpamanya, sedang masih ada perasaan sakit dirasakan, itu belum yang sebenarnya. Jangan di ikuti.
→ Bila sudah merasakan ketenangan dan kenikmatan semata dan seluruh perasaan telah sujud, berarti yakinilah bahwa Tuhanmu telah ada, apakah ada Nur atau tiada, berangkatlah. Insya Allah anda telah selamat.
- Adapun hikmah yang dikehendaki dalam Shalat Subuh itu, yakni mensucikan seseorang daripada kelupaan dan kelalaiannya, sehingga menetapkan hadapannya semata-mata kepada Allah Ta’ala yang tiada seumpamanya sesuatu. Itulah sebabnya maka tidak ada shalat sunnah sesudah Shalat Subuh.
- Adapun yang dikehendaki dalam Shalat Dhuhur itu, yaitu: sucikan pandanganmu melihat ke-Esaan serta kesempurnaan Allah Ta’ala sampai memasuki waktu Ashar.
- Adapun yang dikehendaki dalam Shalat Ashar, yakni sucikan dirimu serta himpunkan penglihatan sempurnamu menghadap pada Himpunan Allah (Tauhid) Yang Maha Esa. Itulah sebabnya tidak ada shalat sunnah dibelakang shalat ashar.
- Adapun yang dikehendaki dalam Shalat Maghrib, yakni sucikan pendengaranmu, penglihatanmu, serta kata-katamu.
- Adapun yang dikehendaki dalam Shalat Isya’, yakni sucikan kegelapanmu menuju yang terang, artinya hilangkan keakuanmu, serahkan dirimu kepada yang punya diri (pencipta). Jelasnya hanya Allah swt yang berkuasa, berkehendak, yang hidup seterusnya, tiada yang lain.
- Adapun yang dikehendaki dalam Shalat Witir, yakni menetapkan ingatan lahir dan bathin, tertuju kepada Allah semata-mata, demi untuk dan karena Allah semata.
Bagi orang yang telah memiliki keyakinan yang putus adanya maka tiada lagi hal yang tersembunyi baginya, bahkan Tuhannya itulah yang paling nyata dalam segala hal.
Baginya tiada perbedan diwaktu hidup didunia dan diakhirat. Mereka telah yakin bahwa hidupnya itu tidak akan mengalami kematian, sekalipun kelak akan berpisah dengan tubuhnya.
Dalam arti men-Tuhankan Allah swt. itu adalah menyadari seluruh jiwanya bahwa segala bentuk serta penghayatan dirinya, pada Tuhannyalah ia mengharapkan. Sebab segala yang ada adalah hak dan milik Tuhan, bahkan dirinya sendiri telah bukan lagi miliknya. Mereka telah menyadari bahwa ke-aku-annya selama ini adalah “palsu” belaka.
Adapun yang bernama itu, laksana gelombang dengan air lautan. Bila gelombang itu telah tiada (sirna), maka yang ada hanya lautan itu sendiri. Jelaslah dalam hal ini bahwa gelombang itu adalah merupakan sifat dari lautan. Laksana bayang-bayang dengan yang punya bayang-bayang.
Dengan demikian tiadalah bedanya jika kita menyadari hal ini bahwa yang bathil itu, bathil sejak dahulu, sekarang maupun akan datang.
Sebaliknya bahwa “Haq” itu awal tak berpermulaan akhir tak berkesudahan, tiada ia dicakup oleh ruang dan waktu, nyata ia dibalik segala yang dinyatakan.
Siapakah dia?
Dia itulah yang sebenar-benarnya hakikat diri kita yang tak dapat diragu-ragukan lagi.
Bahwa Dzat itulah yang bersifat, artinya bahwa hidup kita ini adalah kenyataan sifatnya, dan yang bersifat itulah yang menghidupi segala sesuatu.
- Jadi yang menjadi Hidup (Nyawa) Muhammad dinamai “Titik”, artinya Rahasia.
- Sedangkan yang dinamai “Rahasia” adalah Nur Zat.
- Yang menjadi sifat itu adalah yang dinamai “NUR”, artinya Nur yang tidak berubah-ubah (hidup yang tidak berubah).
- Adapun Jiwanya (Nyawa) adam, adalah Alif, artinya Himpunan, maka Nyawa namanya.
- Jadi Nyawa itu ada 2 (dua), yaitu;
1. Nyawa yang dinamai “Titik” adalah Nyawanya Muhammad
2. Nyawa yang dinamai “Alif” adalah Nyawanya Adam.
- Inilah yang tiga tidak berpisah
Jadi bila hal tersebut telah menyata pada kita, berarti kita telah menyaksikan (melihat) buktinya sempurna.dengan demikian maka selamatlah anda untuk selama-lamanya, kekal abadi dunia akhirat.
Inilah dapat dikatakan “kesempurnaan ilmu” atau kepastian ilmu.
Segala yang dijadikan itu adalah bayang-bayang pada Tuhan. Sedang bayang-bayang dengan yang punya bayang-bayang adalah “Satu”. Gerak bayang-bayang itu adalah geraknya yang punya bayang-bayang.
Yakinkan dan jangan ragu-ragu lagi nanti salah.
NYAWA:
menurut Syariat = NYAWA namanya
menurut Thariqat = NUR namanya
menurut Haqiqat = ZAT ALLAH namanya
menurut Ma’rifat = TIDAK ADA YANG LAIN KECUALI ALLAH.
NABI MUHAMMAD SAW DENGAN ANAKNYA FATIMAH:
Nabi Muhammad saw berkata kepada anaknya: “Hai Fatimah, apakah engkau masih ingat yang telah saya katakana padamu?”
Fatimah menjawab: “Ya saya ingat semuanya”
Ingatlah sebuah “kata” yang tak berpisah dengan Tuhan, yaitu sewaktu Tuhan memesrahi sesuatu, yakinkan dalam hatimu yang bersih.
Barang siapa yang menemukan pengenalan yang sesungguhnya didalam kehendak Tuhannya, itulah orang yang memakai: Penglihatan Tuhannya ia melihat, Pendengaran Tuhannya ia mendengar, dengan kata Tuhannya ia berkata, dan katakanlah nama itu tidak berpisah dengan yang punya nama.
Janganlah merasa ragu dalam hatimu, itulah sebabnya sehingga ada yang dikatakan: “Kepastian Ilmu” atau Ilmil Yakin, Haqqul Yakin.
Yakinkan dalam hatimu, tidak berpisah dengan Tuhanmu serta Rasulnya. Sebab haqiqat NYAWA yang suci itulah yang dinamakan “Muhammad” artinya orang yang dicinta.
Artinya: Insan itu Rahasia-Ku, dan Aku Rahasianya.
Kuatkan Tauhidmu pada Allah swt.
Adapun pengertian sebenarnya kalimah:
Laa Ilaaha Illallah yaitu “TIADA ASALKU YANG SELAIN DARI ALLAH TA’ALA”
Nabi Muhammad saw berseru kepada seluruh umatnya:
“Ketahuilah dirimu didalam dirimu”
Yakni: ada 4 (empat) : Rahasia, Nyawa, Hati, Tubuh.
1) Rahasia itu Nur Zatullah
2) Nyawa itu Nur Sifatullah
3) Hati itu Nur Asmaullah
4) Tubuh itu Nur Af’alullah.
Dari ke 4 (empat) tersebut diatas, 3 (tiga) yang dapat melihat pada Allah.
Allah itulah yang menjadikan semesta alam beserta isinya dan berubah-ubah, Tuhan juga yang meliputi, menembus, memesrahi beserta isinya.
As-Syeikh Lukmanul Hakim bertanya kepada anaknya : “Apa sebabnya Al-Fatihah dibaca dalam shalat”?
Indrajaya menjawab: “bahwa shalat lima waktu berasal dari surah Al-Fatihah, pada awalnya, yaitu:
Al-Hamdu terdiri dari lima huruf yaitu :
Alif
Lam
Ha
Mim
Dal
Allah swt menjadikan waktu yang lima itu sebagai berikut :
1) Waktu Dhuhur: dijadikan dari huruf Alif-nya Al-Hamdu
2) Waktu Ashar: dijadikan dari huruf Lam-nya Al-Hamdu
3) Waktu Maghrib: dijadikan dari huruf Ha-nya Al-Hamdu
4) Waktu Isya’: dijadikan dari huruf Mim-nya Al-Hamdu
5) Waktu Subuh: dijadikan dari huruf Dal-nya Al-Hamdu
🙏🙏🙏wasalam..
MUKADIMAH
MUKADIMAH
———————-
1) Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahi fii kulli hiinin, wa awqaat, wash sholaatu ‘ala rosuulihi asyrofil kholqi wal bariyyaati
—————————————-
2) Bismillahirrohmanirrohim : disunahkan membaca basmalah disaat hendak mengerjakan semua pekerjaan yang tidak dipandang hina. Jika lupa membacanya pada permulaan pekerjaan, maka boleh membaca di tengah-tengahnya dengan bacaan : Bismillahi awwalahu wa akhirohu
—————————————-
3) Alhamdulillahi fii kulli hiinin : segala puji bagi Allah di setiap waktu, yakni segala waktu, baik yang berjangka pendek maupun panjang.
—————————————-
4) Wa awqaat : dan di setiap masa, yakni masa yang terbatas lamanya.
—————————————-
5) Wash sholaatu ‘ala rosuulihi : salawat atau rahmat, yakni belas kasihan, baik dari Allah maupun selain-Nya, tercurahkan kepada Rosul-Nya saw yang diutus untuk semua mahluk.
—————————————-
6) Asyrofil kholqi : mahluk yang paling mulia, yang dimaksud mahluk adalah semua yang diciptakan oleh Allah berdasarkan kehendak-Nya dan dituntut oleh hikmah-Nya.
—————————————-
7) Wal bariyyaati : dan semua hamba ciptaan Allah lainnya, yakni semua mahluk secara mutlak atau yang ada di bumi. Pada garis besarnya baginda kita, Nabi Muhammad saw adalah mahluk Allah yang paling utama secara mutlak.
—————————————-
8) Bermula syariat tariqat hakikat dan makrifat itu terlalu mulia, Itulah pakaian Wali Ambiyya, Barangsiapa dapat asalnya, Bolehlah membawa badan serta nyawa
—————————————-
9) ALASTUBIRABBIKUM : Katakanlah bahwa Aku ini adalah tuhan mu
—————————————-
10) KALUBALA : Benar engkau itu adalah tuhanku
—————————————-
11) SHAHIDNA : Menyaksikan
—————————————-
12) Kalaulah benar engkau menjadi saksi
Dimanakah bukti hendak diteliti
Sungguhpun engkau bercerita jalan mati
Manakah mungkin hidup akan kembali
Engkau pahamilah dengan teliti
Kelak dapat membuka yang tersembunyi
—————————————-
13) Adapun mengenal diri itu dimulai dari mengetahui asalnya diri. Asalnya diri itu ialah dari anasarnya Api, Angin, Air, Tanah, maka turunlah Tanah itu menjadi Tubuh, Angin itu menjadi Nafas, Air itu menjadi Darah, Api itu menjadi Rasa
—————————————-
14) Adapun kejadiannya TANAH itu bernama BARBA, menjadi Syari’at. Adapun kejadiannya ANGIN itu bernama ABDU ISAMAS, menjadi Tharikat. Adapun kejadiannya AIR itu bernama SABANTAHURAN, menjadi Hakikat, Adapun kejadiannya API itu bernama NUR KADIM, menjadi Ma’rifat
—————————————-
15) Syariat itu umpama Kaki, Tarikat itu umpama Tangan, Hakikat itu umpama Tubuh, Ma’rifat itu umpama Kepala
—————————————-
16) Adapun Diri Terdiri itu Rahasia namanya, Diri Tajalli itu Roh namanya, Diri Terperi itu Hati namanya, Diri Diperikan itu Tubuh namanya
—————————————-
17) Syari’at itu adalah Manusia yang Pertama, Tarikat itu adalah Hakikat yang Muncul, Hakikat itu adalah Asma Allah, Ma’rifat itu adalah Aku semata
—————————————-
18) Yang bernama ASYHADU itu adalah Lidah, ALLA itu adalah Badan, ILLAHA itu adalah Hati, ILLALLAH itu adalah Roh, dan HUWA itu adalah Rahasia (titik nuktah)
—————————————-
19) Maka tatkala bermula kisah TITIK NUKTAH itu ialah dari Otak bapak, maka dalam Otak itu ada Lemak, Dalam Lemak ada Minyak, Dalam Minyak ada Nur, Dalam Nur ada Nur Akal, Dalam Nur Akal ada Hizabbannur, Dalam Hizabbannur ada Hidayamul Amanah
—————————————-
20) Lalu turun menjadi titik NUKTAH, turun ke Tulang Belakang turun ke Watsulbi Muntarait turun ke Tulang Dada turun lagi ke Pusat terus ke Kalam, maka berpindahlah titik NUKTAH itu kedalam Rahim Ibu 9 Bulan + 9hari atau 7 Bulan + 7 hari
—————————————-
21) Tatkala 1 hari HU namanya, 3 hari ALLAH namanya,7 hari INNALLAH namanya (hanya Allah), 4 bulan + 4 hari TURABBUNNUR namanya (Tanah Nur), tatkala7 bulan + 7 hari SUBHANALLAH namanya (Maha Suci Allah), 8 bulan + 8 hari ALHAMDULILLAH namanya (Puji Bagi Allah), 9 bulan + 9 hari INNA ANNA AMANNA namanya (Sesungguhnya Aku beriman atau Pembawa Amanah Allah)
—————————————-
22) Lalu terbitlah Ujud yang artinya Ada, Mustahil Tiada, Mana yang Mustahil tiada itu, yang mustahil tiada itu adalah prasangkamu saja sebab tidak memahami Aku
—————————————-
23) Jadi yang sebenar-benarnya Ujud itu ialah Ada, yang sebenar-benarnya Ada itu adalah Diri, Diri itu ialah Nyawa atau Roh, Nyawa atau Roh itu adalah Muhammad, Muhammad itu adalah Allah, Allah itu adalah segala Sifat Allah, segala Sifat Allah Ta’ala itu adalah Dzatullahita’ala
—————————————-
24) Adapun Sifat Allah Ta’ala itu adalah wujud Allah Ta’ala yang mempunyai Wujud dan hakikat daripada segala yang ada, besar maupun kecil
—————————————-
25) Bagaimanapun juga pada pandangan lahir maupun bathin adalah sebenar-benarnya termasuk satu sifat yang sempurna, tidak bertulang, berdaging, berdarah, atau berkulit, jadi yang berbagai sifat dan warna adalah hanya satu, menurut yakin Ma’rifat
—————————————-
26) Adapun yang bernama Wujud Hakiki itu yaitu Dzatullahita’ala dan Wujud Hakiki itu mustahil pada pandangan awam, Wujud majazi itu tidak ada pada pandangan wujud hakiki
—————————————-
27) Wujud ‘Am (umum) itu meliputi pada alam, dan nyata pada Dzatullah, Adapun yang sebenar-benarnya dzatullah itu yaitu Allah, Adapun yang sebenar-benarnya Allah itu yaitu Muhammad, Adapun sebenar-benarnya Muhammad itu yaitu Manusia, maka itulah sebabnya manusia dilebihkan Allah Ta’ala dari pada semesta sekalian alam ini, karena asalnya kejadian sekalian itu daripada Muhammad
—————————————-
28) Maka dari itulah titik NUKTAH adalah penjelmaan dari bapak dan ibu atau yang disebut Sulbi dan Taraib, jadi NUKTAH itu awal mulanya seberkas cahaya yang dikeluarkan oleh Allah dari mutu manikam sehingga para Ulama terdahulu berpendapat yaitu :
—————————————-
29) Nuktah adalah salah satunya Zat Penjelmaan dari dua macam zat (sulbi dan taraib), Dengan adanya KUDRATULLAHI yaitu berasal dari sulbi bapak dan yang menjadi IRADATULLAHI yaitu berasal dari ibu
—————————————-
30) Oleh sebab itu bagaimanapun birahinya kaum ibu, hal ini tidak terlalu nampak karena birahinya kaum ibu ini tidak dapat melampaui batasnya kudratnya kaum bapak, karena kaum ibu ini hanyalah iradat maka ulama mengistilahkan Surga itu di Atas Telapak Kaki Ibu, untuk lebih jelasnya saya terangkan bagian-bagian dari maksud yang diatas :
—————————————-
31) Bagian bapak itu WADI, MADI, MANI, MUTU Atau disebut SULBI, dan bagian ibu itu TANAH, ANGIN, AIR, API atau disebut TARAIB, bagian Allah itu ROH IDHAFI, ROH ROHANI, ROH RAHMANI, ROH JASMANI, bagian DARI GUDANG RAHASIA itu disebut “MUTU MANIKAM”
—————————————-
32) Asalnya Api itu yaitu NAPAS Hurufnya Alif Kalimatnya LA, dan asalnya Angin itu yaitu TANAPAS Hurufnya Lam Awal Kalimatnya ILLAHA, asalnya Air itu yaitu ANPAS Hurufnya Lam Akhir Kalimatnya ILLA, serta asalnya Tanah itu yaitu NUPUS Hurufnya Ha Kalimatnya ALLAH
—————————————-
33) Wadi Ma’anni kalimatnya LAA ILAHA, Madi Ma’annawiyah kalimatnya ILALLAH, Mani Sulbi kalimatnya ALLAH, serta Mutu Salbiyah kalimatnya HU
—————————————-
34) Ruh Jasmani Kalimatnya (YAHU), Ruh Rahmani Kalimatnya (IYAHU), Ruh Rohani Kalimatnya (YAMANIHU), Ruh Idhafi Kalimatnya (YAMAN LAYISALAHU), serta Mutu Manikam Kalimatnya (MA’DAHU)
—————————————-
35) Tujuh Petala Bumi dijadikan 7 (tujuh) Tingkatan Martabat yaitu :
—————————————-
36) 1. Sifat Amarah
2. Sifat Lawwamah
3. Sifat Mulhimah
4. Sifat Mutmainah
5. Sifat Radhiyah
6. Sifat Mardhiyah
7. sifat Ubudiyah
—————————————-
37) Tujuh Petala Langit yang dimaksud dengan Martabat 7 (Tujuh) yaitu :
—————————————-
38) 1. Lathifatul Qolbi
2. Lathifatul Ruuhi
3. Lathifatul Sirri
4. Lathifatul Ahfa
5. Lathifatul Hafi
6. Lathifatul Nafsu Natika
7. Lathifatul Kulu Jasad
—————————————-
39) Jikalau tingkatan semacam ini yang kita ambil Hakikatnya pada Alam kecil yang tersembunyi (terahasia) dalam diri kita, maka ulama menamakan sebagai berikut :
—————————————-
40) 1. HAYATUN JASADI BIN-NAFASI
2. HAYATUN NAFASI BIR-RUHI
3. HAYATUN RUHI BIS-SIRRI
4. HAYATUN SIRRI BIL IMANI
5. HAYATUN IMANI BINNURI
6. HAYATUN NURI BIL QUDRATI
7. HAYATUN QUDRATI BI MU’ALAMULLAHI TA’ALA DZATULLAH
—————————————-
41) Artinya adalah sebagai berikut :
—————————————-
42) Asalnya Jasad dari Nafas, Asalnya Nafas dari Ruh, Asalnya Ruh dari dalam Rahasia, Asalnya Rahasia dari dalam Iman, Asalnya Iman dari Nur atau Cahaya, Asalnya Nur atau Cahaya dari Qudrat, serta Asalnya Qudrat dari ke-Baqa’an ALLAH
—————————————-
43) Kalimatnya jadi seperti ini :
—————————————-
44) Hayatun jasadi hurufnya ALIF kalimatnya LA, Hayatun Nafasi hurufnya LAM AWAL kalimatnya ILAHA, Hayatun Ruuhi hurufnya LAM AKHIR kalimatnya ILLA, serta Hayatun Sirri hurufnya HA kalimatnmya ALLAH
—————————————-
45) Hayatun Imani hurufnya Alif (Allah) kalimatnya YAHU, Hayatun Nuri hurufnya Lam (Jibril) kalimatnya IYAHU, serta Hayatun Qudrati hurufnya Mim (Muhammad) kalimatnya IYAHU YAMANIHU
—————————————-
46) Dengan demikian apabila kesemuanya ini dilebur kedalam ke-Baqa’an DZAT ALLAH, maka ulama menamakannya sebagai berikut :
—————————————-
47) WATUJIBUL jASADI FI FASARAL QOLBI, WATUJIBUL QOLBI FI FASARAL RUHI, WATUJIBUL RUHI FI FASARAL SIRRI, WATUJIBUL SIRRI FI FASARAL IMAN, WATUJIBUL IMAN FI FASARAL NURI, WATUJIBUL NURI FI FASARAL QUDRATI, WATUJIBUL QUDRATI FI FASARAL DZATI FIL DZATI
—————————————-
48) Kalau diri manusia itu masih merupakan satu titik Roh Nabati namanya, Kalau ia segumpal darah Roh Jamadi namanya, Kalau ia segumpal daging Roh Wajdi namanya, Kalau ia bergerak Roh Hayati namanya, Kalau ia dilahirkan Roh Hayawani namanya, Kalau ia menyusu Roh Nafsani namanya, Kalau ia berbicara Roh Insani namanya, Kalau ia mempunyai akal Roh Nurani namanya, Kalau ia sampai umur Roh Ruhani namanya, Kalau ia setengah umur Roh Rahmani namanya, Kalau ia berumur 40 tahun Roh Jamali namanya, Kalau ia sudah tua Roh Kulli namanya, Kalau ia mati (mengenal perkataan ma’nawi dari pada mati) Roh Ma’nawiah namanya, Kalau ia di dalam kubur Roh Rabbani namanya, Kalau ia bangun dari kubur Roh Illahiyah namanya, Mengenal salah satu dari semua itu Roh Ruhul Arwah namanya, maka segala galanya ini dengan perintah dari RUHUL QUTUB, dan bernama ROH IDHAFI dan bernama ROH ‘ULWI dan bernama WUJUD IDHAFI dan WUJUD ‘AAMI
—————————————-
49) Adapun insan itu asalnya daripada Zat karena haqiqat pada wujudnya, dan haqiqatnya itu esa dengan Zatnya, akan tetapi zahir Zat itu dengan Sifat dan Asma’ dan Af’al
—————————————-
50) Maka Zat itu bernama (Wahdah) dan (Wahdah) itu zahir pula dengan (Wahdahniah) dan (Wahdahniah) itu zahir pula dengan (Wahdiah)nya, maka Zat itu bernama (Alam Ruh) dan (Alam Misal) dan (Alam Ijsam) dan (Alam Insan) maka insanlah kesudahan dari martabat yang tujuh itu
—————————————-
51) Tatkala NUKTAH itu duduk didalam belum Zaratul Qalimuhum namanya, dan tatkala keluar daripada belumnya itu (seNuktah Awal ) namanya, dan tatkala turun kepada bapak duduk sama tengah kepala bapak kita itu (Mahmud) namanya, dan tatkala sehari dikandung oleh bapak kita itu maka turun pula kepada dahi bapak kita itu (Qiblatul Awal) namanya, dan tatkala tiga hari turun pula kepada mata bapak kita itu (Nurul Awal) namanya, dan turun pula kepada rahim ibu kita empat puluh hari dikandung ibu kita (Alqah) namanya, dan sampai tujuh bulan dikandung oleh ibu kita (Mudhograh) namanya, dan sampai pula lapan bulan dikandung ibu kita (Hiula) namanya, maka masuklah (Insan) namanya (Muhammad) pun namanya jua
—————————————-
52) Pada waktu Subuh dan waktu Zohor itu keluar daripadanya huruf ALIF, Nabi Allah Ibrahim, cahayanya merah, asalnya daripada Alqah, yakni dari daging segumpal, rakaat yang empat itu sebab Tajali Wujud, Ilmu, Nur, Shuhud
—————————————-
53) Dan adapun pada waktu Asar itu keluar daripadanya LAM, Nabi Allah Yunus, asal daripada Mudhograh, yakni daging segumpal, cahayanya kuning, rakaat yang empat itu sebab Tajali Api, Angin, Air, Tanah
—————————————-
54) Dan adapun pada waktu Maghrib itu keluarnya daripada HA, Nabi Allah Isa, cahayanya hijau, asal daripada Azhimah, yakni Tulang, Kulit, Roma, rakaat yang tiga ini sebab Tajali Ahadiah, Wahdah, Wahdiah
—————————————-
55) Dan adapun pada waktu Isyak itu keluarnya daripada MIM, Nabi Allah Musa, cahayanya hitam, asal daripada Hiuala, yakni rupa lembaga Nabi Allah Adam, rakaat yang empat itu sebab Tajali Wadi, Mazi, Mani, Manikam
—————————————-
56) Dan adapun pada waktu Subuh itu keluarnya daripada DAL, Nabi Allah Adam, cahayanya putih, asal daripada Nuthfah yakni Air Mani, rakaat yang dua itu sebab Tajali Zat dan Sifat
—————————————-
57) Tatkala sempurna kejadian insan itu maka keluar Nafasnya itu apa kerjanya dan tatkala ia masuk itu apa kerjanya, maka tatkala ia keluar itu kerjanya Meliputi Alam dan tatkala ia masuk itu kerjanya Memenuhi Alam
—————————————-
58) Dan tatkala ia keluar itu bertemu dengan apa dan tatkala ia masuk itu bertemu dengan apa, maka adapun tatkala ia keluar itu Bertemu Dengan Rahman dan tatkala ia masuk itu Bertemu Dengan Rahim
—————————————-
59) Dan tatkala ia keluar itu apa yang dinyatakan olehnya dan tatkala ia masuk itu apa yang dinyatakan olehnya, maka adapun tatkala ia keluar itu menyatakan dirinya Sifat Zat dan takala masuk itu menyatakan dirinya Zat yaitu dengan segala Sifat Qadim, Biwujudlillah yaitu Sifat Ma’ni dan Sifat Zat itu Wujud
—————————————-
60) Takala ia keluar itu kira kira satu hasta jauhnya ataupun satu jengkal jauhnya ataupun enam jari jauhnya ataupun empat jari jauhnya apa namanya itu, maka adapun tatkala keluar satu hasta itu Nafas namanya dan tatkala satu jengkal itu Tanafas namanya dan tatkala enam jari itu Ampas namanya dan tatkala empat jari itu Nufus namanya
—————————————-
61) Maka adapun tatkala ia keluar satu hasta jauhnya itu apa cahayanya dan tatkala satu jengkal itu apa cahayanya dan tatkala enam jari apa cahayanya dan tatkala empat jari itu apa cahayanya, dan adapun tatkala ia keluar satu hasta itu cahayanya Kuning dan tatkala satu jengkal itu cahayanya Putih dan tatkala enam jari itu cahayanya Merah dan tatkala empat jari itu cahayanya Hitam
—————————————-
62) Bagaimana cahaya yang Kuning itu datang ia daripada tempat yang mana dan cahaya yang Putih itu datang ia daripada tempat yang mana dan cahaya yang Merah itu datang ia daripada tempat yang mana dan cahaya yang Hitam datang ia daripada tempat yang mana, maka adapun cahaya yang Kuning itu datang ia daripada Jantung dan cahaya yang Putih itu datang ia daripada Hati dan cahaya yang Merah itu datang ia daripada Buah Kayu Sanubari dan cahaya yang Hitam itu datang ia daripada hempedu
—————————————-
63) Dan adapun Nafas yang keluar masuk itu Lima bagian sebelah Kanan dan sebelah kiri dan adapun sebelah kanan itu satu keluar sebelah atas dan satu keluar sebelah bawah dan satu keluar sama tengah, maka adapun ia keluar sebelah atas itu putih rupanya dan apabila ia keluar sebelah bawah hitam rupanya dan apabila ia keluar sebelah kanan kuning rupanya dan apabila ia keluar sebelah kiri merah rupanya
—————————————-
64) Maka jikalau kita duduk dirumah keluar nafas kita itu sebelah kanan melainkan laki-laki yang merah kulitnya datang kepada kita, jikalau ia membawa jenis barang makanan yang dibawanya kepada kita itu dengan warna merah rupanya
—————————————-
65) Dan jikalau keluar nafas disebelah kiri kita itu jikalau perempuan yang datang kepada kita itu melainkan rupanya kuning, maka barang yang dibawanya itu pun kuning jua
—————————————-
66) Dan jikalau nafas kita itu keluar disebelah atas melainkan laki-laki yang putih kuning kulitnya yang datang kepada kita, maka jikalau ia membawa jenis barang kepada kita dengan warna putih ataupun sebagainya
—————————————-
67) Demikian lagi jikalau nafas kita keluar disebelah bawah melainkan laki-laki yang hitam kulitnya datang kepada kita, maka jikalau ia membawa jenis barang makanan itu dengan rupanya hitam warnanya
—————————————-
68) Demikian juga kalau nafas kita keluar itu terpecah dua ataupun tiga melainkan alamatnya datang orang kepada kita dua ataupun tiga orang
—————————————-
69) Demikian juga jikalau nafas kita yang sama tengah itu keluar halus seperti jarum rasanya inilah yang amat baik, yakni Ketika Selamat namanya
—————————————-
70) Dan demikian jikalau nafas kita itu keras rasanya disebelah kanan maka tiba-tiba datang orang itu kepada kita membawa khabar hal yang tidak baik
—————————————-
71) Maka orang itu duduk disebelah kiri kita, maka nafas kita pada masa itu keras sebelah kanan kita, maka khabar orang itu dusta belaka
—————————————-
72) Maka jikalau ia duduk disebelah kira maka nafas kita pun keras disebelah kiri juga, maka khabar itu nyatalah sungguhannya, tiada ia berdusta sama sekali
—————————————-
73) Tatkala nafas kita keluar itu Jibril namanya dan tatkala masuk itu Jibrail namanya, dan waktu yang mana dinamakan Jibrail dan waktu yang mana dikatakan Jibril, adapun waktu ia membawa firman Tuhan kepada hambanya inilah dinamai Jibrail dan waktu ia menerima puji hambanya itu serta membawa mengadap Tuhan nya inilah dinamai akan dia Jibril
—————————————-
74) Tatkala nafas kita itu keluar disebelah kanan Jibrail namanya dan takala ia masuk itu Mikail namanya dan takala ia keluar disebelah kiri itu Israfil namanya dan takala ia masuk Izrail namanya, dan adapun Istana Nafas itu didalam Otak, inilah yang bernama Ruhul Nafsi cahayanya putih
—————————————-
75) Dan adapun perbedaan Ruh dengan Nafas itu berlainan, yakni nafas itu keluar dan masuk, dan adapun Ruh itu tiada keluar dan tiada masuk, tetapi Ruh itu pergi datang pada Jalan Bathin, Yakni diibarat seumpama kita masuk pada Alam Khayal dan Alam Misal, seperti kita melihat saudara di negeri yang jauh terbang ke udara dengan tiada bersayap
—————————————-
76) Demikianlah sabit Hayyat itu adanya, tiada ada didalam dan tiada diluar dan tiada diatas dan tiada dibawah karena kita ini tempat menerima Tajali Tuhan jua adanya
—————————————-
77) Maka diri yang Bathin itulah nyawa kita maka tiadalah dapat kita lihat dengan mata kepala kita karena tidak ada warna padanya akan tetapi kita ketahui diri yang Bathin itu kenyataannya pada diri yang Zahir jua
—————————————-
78) Tatkala kita lihat sifat yang Zahir itu seperti hidup dan tahu dan kuasa dan berkehendak dan mendengar dan melihat dan berkata-kata dan gerak dan diam itulah nyata pada diri kita yang Zahir, itulah sifat diri kita yang Bathin
—————————————-
79) Maka tatkala itu kita lihat nyata pada diri kita yang Zahir sifat diri kita yang Bathin itu tiada didalam dan tiada di luar dan tiada di atas dan tiada di bawah dan tiada di kiri dan di kanan melainkan hendaklah kita ketahui dengan yakin bahwa ada diri kita yang Bathin itulah Nyawa kita, yakni bayang-bayang Sifat Tuhan
—————————————-
80) Maka adalah kelakuan Sifat Tuhan itu nyatalah pada diri kita yang Bathin dan bagaimana kelakuan sifat diri kita yang Bathin itu nyata pada diri kita yang Zahir, maka jikalau kita hendak melihat kelakuan diri kita yang Bathin melainkan hendaklah kita masuk kepada Alam Khayal ataupun Alam Misal melainkan dapatlah kita melihat kepada kenyataan Sifat Tuhan
—————————————-
81) Apabila sudah faham yang demikian itu maka kita ketahuilah hidup Badan itu dengan sebab hidup Nyawa dan tahu Badan itu dengan sebab tahu Nyawa dan kuasa Badan itu dengan sebab kuasa Nyawa dan berkehendak Badan itu dengan sebab berkehendak Nyawa dan mendengar Badan itu dengan sebab mendengar Nyawa dan melihat Badan itu dengan dengan sebab melihat Nyawa dan berkata-kata Badan itu dengan sebab berkata-kata Nyawa dan gerak diam Badan itu dengan sebab gerak diam Nyawa
—————————————-
82) Maka apabila engkau sudah faham seperti yang tersebut itu engkau akan mengetahui hidup Nyawa itulah tempat menzahirkan hidup Tuhan dan tahu Nyawa itulah tempat menzahirkan ilmu Tuhan dan kuasa Nyawa itulah tempat menzahirkan Qudrat Tuhan dan berkehendak Nyawa itulah tempat menzahirkan Irradat Tuhan dan mendengar nyawa itulah tempat menzahirkan Sama’ Tuhan dan melihat Nyawa itulah tempat menzahirkan Bashar Tuhan, berkata-kata Nyawa itulah itulah tempat menzahirkan Qalam Tuhan dan berkata-kata yang tujuh itu pada diri kita yang bathin itu seperti nyatalah sifat diri kita yang Bathin dan diri yang Bathin itu sepertilah pada diri kita yang Zahir ini
—————————————-
83) Maka engkau ketahuilah dan engkau kenalilah bahwa diri kita yang Bathin itulah Nyawa kita tempat nyata Sifat Tuhan dan diri kita yang Zahir ini tempat tempat nyata Sifat diri kita yang Bathin, maka janganlah engkau cari Tuhan mu itu tempat yang lain pada diri kamu sendiri, maka itu sangat nyata karena sekalian alam ini seperti keadaan engkau jua, tetapi nyata Tuhan mu itu pada diri kamu itu terlebih nyata daripada yang lain karena manusia itu tempat menerima dan menzahirkan SifatNya dan Asma’Nya dan Af’alNya
—————————————-
84) Sifat pun Sifat Zat, Asma pun Asma Zat dan Af’al pun Af’al Zat, Qadim keempat-empat itu Esa pada pihak tanazul dan taqarop inilah rahasia orang yang mengenal diri yakni kenal diri yang Zahir dan diri yang Bathin itu tiada mempunyai wujud pada haqiqatnya segala sifat yang tersebut itu sekali-kali melainkan menjadi menghantar kepada bukan tempatnya untuk menjatuhkan hukum, taklik di atas hambanya yang mengerjarkan amar dan nahi maka jadilah wasilah ma’rifat kita pada tiga martabat, Pertama kenal diri yang Zahir dan kedua kenal diri yang Bathin dan ketiga kenal Tuhan
—————————————-
85) Maka apabila sudah engkau faham segala yang tersebut itu, melainkan hendaklah engkau meng Esa kan dan menSyahadatkan dan Mujahadah dan Murakabah dan Muqabalah dengan Tuhan mu itu pada dirimu karena ianya jua adanya
—————————————-
86) Permulaan nyata pada kita melainkan hendaklah kita senantiasa hadir hati kita kepada Tuhan kita itu jangan sekali-kali lalai baik dalam keadaan duduk dan berjalan dan gerak dan diam kita dan barang sebaginya, maka segala hal tersebut itu berlaku atas diri kita, karena semua perintah Tuhan itu berlaku atas hambanya
—————————————-
87) Maka perintah itu adakalanya baik dan adakalanya jahat dan adakala nikmat dan adakalanya rahmat, maka jatuh perintahnya itu diatas hambanya, melainkan wajiblah diatas hamba itu membayar haknya tatkala datang nikmat diatas kita melainkan wajiblah membayar hakNya dengan segera karena kita anugerah daripadaNya
—————————————-
88) Maka apabila datang bala diatas kita maka kita pandang dengan haqiqat bahwa bala itu daripadaNya jua, maka wajiblah atas kita membayar hakNya dengan sabar dan redha serta taat
—————————————-
89) Maka tatkala datang kebajikan diatas kita maka kita pandanglah kebajikan itu daripadaNya jua, maka wajiblah diatas kita membayar hakNya dengan segera karena semuanya itu adalah anugerahNya
—————————————-
90) Maka tatkala datang kejahatan maksiat atas kita maka kita pandang dengan mata hati kita ianya jua yang menjadikan maksiat itu diatas hambanya melainkan wajiblah diatas kita membayar hakNya dengan perbanyak Astaghafirullah Alazhim serta kita minta ampun dan kita minta berlindung kepadaNya jua karena ianya jua yang menjadikan segala jenis yang tersebut itu melainkan ianya jua yang mengampunkan dosanya kita melainkan Ianya jua Tuhan mengasihi akan hambaNya, maka jika tiada hal yang demikian itu niscaya sia-sialah hidup kita dalam dunia ini melainkan menyesalLah kita dalam akhirat dengan tiada berguna lagi karena sekaliannya itu kembali kepada mu jua, baik dan jahatnya
—————————————-
91) Maka dari itu ingatlah bahwa Bismillah itu ialah yang bernama Aku atau nyawa Muhammad, Bermula Muhammad itu nyawa manusia, adapun manusia itu tempat tajali Qudrat dan Iradat Tuhan
—————————————-
92) Maka segala nyawa manusia itu didalam Qolbi dan bermula Qolbi itu Jantung yakni Rumah Qolbi dan bermula Jantung itu Rumah Nyawa dan bermula Rumah Nyawa itu ialah Aku tetapi Aku itu didalam Qolbi seperti firman Allah “Wa Fi Am Pusakum Apala Tubsirun” Yakni bukankah Aku itu didalam diri kamu mengapa tidak kamu lihat
—————————————-
93) Dan bermula Qolbi itu yang bernama HA, bermula yang bernama HA itu Hati, bermula Hati itu ialah bernama Muhammad, maka Nyawa kita dan Sirr kita pada Muhammad dan adapun HU itu ia sendiri tiada sekalianNya
—————————————-
94) Maka firman Allah Taala Kun Fayakun maka jadilah Nur Muhammad di dalam Nur Allah Taala setelah lengkap jadi Nur Muhammad, maka Allah pun ghaib didalam Nur Muhammd maka Nur Muhammad pun menilik keelokan dirinya Lam Jalalah maka keluarlah nyawa sekalian alam ini
—————————————-
95) Yakni terpancarlah kenyataan Nurnya itu diibarat seperti lampu yang sangat terang maka jika ditatap lampu itu dengan satu tatapan raga yang dibalut dengan kertas berbagai macam warnanya maka cahaya lampu itu akan terpancar pada lobang raga, maka apabila koyak satu kertas pada lobang raga itu niscaya hilanglah cahayanya kembali kepada lampunya
—————————————-
96) Maka Nur Muhammad itu ghaib ia pada sekalian badan hamba Allah Taala yang mukmin, yakni bersama dengan cahaya lampu yang terpancar kepada lobang raga yang tersebut dahulunya, dan adapun Hati itu bermula dari Sirr yang Latif di taruhkan Allah Taala bagi manusia di dalam dada pada lambung kiri dan dibungkus dengan daging segumpal serta kenderaan tiap-tiap anggota jasad itu tentaranya adalah Hati karena Hati itu adalah Raja baginya dan Raja itu dua muka
—————————————-
97) Satu muka menilik kepada Dirinya dan satu muka menilik kepada Tuhan, maka muka yang awal itu ada di dalam matanya segala rupa Akuan, dan mata Hati itu ialah Akal dan selama Akal itu dibawah perintah Akuan maka Hati itu ditawannya hingga apabila hilang perintah Akuan daripadanya
—————————————-
98) Maka hilanglah Akal yang bertambah itu dan zahirlah bekasnya yang ghaib bercahaya dan cahayanya itulah yang dinamakan Nur Ma’rifat, maka meniliklah engkau dengan Nur Ma’rifat yang ditaruhkan didalam Bathinmu itu yaitu mata yang halus dan telah datanglah yang Haq dan hilanglah yang Bathil
—————————————-
99) Adapun HA itu daripada Hati dan jika Sirr pun daripada Hati jua karena inilah dikatakan bahwa tatkala Hati itu condong kepada segala keinginan dunia seperti makanan, lemak manis ataupun barang sebagainya, maka tatkala itu dinamai Nafsu dan apabila Hati itu condong kepada segala kebaktian dunia dan akhirat ibadatlah namanya
—————————————-
100) Dan tatkala Hati itu birahi kepada Allah Taala syah akan pertemuan itu maka dinamailah ia Ruh, dan tatkala Hati itu memancarkan sesuatu Akal namanya, dan Budi pun namanya, dan tatkala Hati itu mengetahui dirinya itubaik dan jahat dan sakit Hati Yang Halus namanya dan tatkala ia berkehendakan kepada sesuatu Nafsu namanya dan tatkala ia mengetahui Hamba dan Tuhan Qolbi Zarah namanya dan Cermin Ikhlas pun namanya
—————————————-
101) Dan Tatkala ia mengesakan Allah Taala Tauhid namanya dan Perisai pun namanya dan tatkala ia melihat Kebesaran Ma’rifat namanya dan Arash pun namanya dan tatkala ia sudah mengetahui Zat dan Sifat dan Asma dan Af’al Ummi Kitab namanya dan Nur pun namanya dan tatkala ia mengetahui Tuhan lengkap sekalian alam tetap dengan Zat dan Sifat yaitu sekalian alam kepada Tuhan Ma’rifat Nur namanya dan Ahadiah Takdir pun namanya
—————————————-
102) Dan tatkala ia tetap Ma’rifat dan Tauhidnya Lufh namanya dan Qalamul U’lia pun namanya dan takala ia sudah mengetahui didalam ghaib Qalamul Arash namanya dan Qalam Naps pun namanya dan takala ia tetap ketika didalam ghaib dengan Heran serta tercengang-cengang Iradat namanya dan Qudrat pun namanya dan Rahsia pun namanya
—————————————-
103) Takdir Rahasia itu mengembalikan Amanah Kepada Yang Empunya Amanah Amanat namanya dan tatkala ia sudah mengetahui didalam ghaib hamba yang menanggung Amanah heranlah ia akan dirinya Tercegang-cengang Amanat namanya dan Khazaan pun namanya dan tatkala ia mengetahui tubuh dan dirinya Kunhu namanya dan tatkala ia mengetahui keadaan dirinya ada sekalian alam umpama banjir ditengah pasir ataupun seperti sebuah sampan atau perahu di tengah laut Kunhu Kazal namanya dan Qolbi Mukmin pun namanya
—————————————-
104) Barang siapa yang bertanya dari mana datangnya ilmu ini sama dengan menanyakan dari mana datangnya Al Quran itu sendiri, jika bingung silahkan anda rujuk langsung ke Allah karena hanya Allah saja yang maha benar yang lain semuanya salah
—————————————-
105) dilihat mata buta, didengar tiada suara, diraba tiada rasa, maka kenali diri rata-rata, baru kenal tuhan yang nyata
—————————————-
106) Sebagai penutup, sesungguhnya kesempurnaan adalah suatu yang sulit tercapai, dan untuk mencapainya adalah perkara yang sungguh sangat berat, maka barang siapa yang mendapati aib pada Risalah ini segeralah untuk menutupinya, dan barang siapa yang mendapati kekurangan, segeralah menyempurnakannya, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang selalu mengadakan perbaikan
—————————————-
107) Hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan, dan kepadaNya kita menyandarkan diri. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Semoga shalawat beserta salam dan barakah kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarganya, dan juga keselamatan yang banyak. Wal hamdu lillahi robbil ‘alamiin
—————————————-
🙏🙏🙏wasalam..
———————-
1) Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahi fii kulli hiinin, wa awqaat, wash sholaatu ‘ala rosuulihi asyrofil kholqi wal bariyyaati
—————————————-
2) Bismillahirrohmanirrohim : disunahkan membaca basmalah disaat hendak mengerjakan semua pekerjaan yang tidak dipandang hina. Jika lupa membacanya pada permulaan pekerjaan, maka boleh membaca di tengah-tengahnya dengan bacaan : Bismillahi awwalahu wa akhirohu
—————————————-
3) Alhamdulillahi fii kulli hiinin : segala puji bagi Allah di setiap waktu, yakni segala waktu, baik yang berjangka pendek maupun panjang.
—————————————-
4) Wa awqaat : dan di setiap masa, yakni masa yang terbatas lamanya.
—————————————-
5) Wash sholaatu ‘ala rosuulihi : salawat atau rahmat, yakni belas kasihan, baik dari Allah maupun selain-Nya, tercurahkan kepada Rosul-Nya saw yang diutus untuk semua mahluk.
—————————————-
6) Asyrofil kholqi : mahluk yang paling mulia, yang dimaksud mahluk adalah semua yang diciptakan oleh Allah berdasarkan kehendak-Nya dan dituntut oleh hikmah-Nya.
—————————————-
7) Wal bariyyaati : dan semua hamba ciptaan Allah lainnya, yakni semua mahluk secara mutlak atau yang ada di bumi. Pada garis besarnya baginda kita, Nabi Muhammad saw adalah mahluk Allah yang paling utama secara mutlak.
—————————————-
8) Bermula syariat tariqat hakikat dan makrifat itu terlalu mulia, Itulah pakaian Wali Ambiyya, Barangsiapa dapat asalnya, Bolehlah membawa badan serta nyawa
—————————————-
9) ALASTUBIRABBIKUM : Katakanlah bahwa Aku ini adalah tuhan mu
—————————————-
10) KALUBALA : Benar engkau itu adalah tuhanku
—————————————-
11) SHAHIDNA : Menyaksikan
—————————————-
12) Kalaulah benar engkau menjadi saksi
Dimanakah bukti hendak diteliti
Sungguhpun engkau bercerita jalan mati
Manakah mungkin hidup akan kembali
Engkau pahamilah dengan teliti
Kelak dapat membuka yang tersembunyi
—————————————-
13) Adapun mengenal diri itu dimulai dari mengetahui asalnya diri. Asalnya diri itu ialah dari anasarnya Api, Angin, Air, Tanah, maka turunlah Tanah itu menjadi Tubuh, Angin itu menjadi Nafas, Air itu menjadi Darah, Api itu menjadi Rasa
—————————————-
14) Adapun kejadiannya TANAH itu bernama BARBA, menjadi Syari’at. Adapun kejadiannya ANGIN itu bernama ABDU ISAMAS, menjadi Tharikat. Adapun kejadiannya AIR itu bernama SABANTAHURAN, menjadi Hakikat, Adapun kejadiannya API itu bernama NUR KADIM, menjadi Ma’rifat
—————————————-
15) Syariat itu umpama Kaki, Tarikat itu umpama Tangan, Hakikat itu umpama Tubuh, Ma’rifat itu umpama Kepala
—————————————-
16) Adapun Diri Terdiri itu Rahasia namanya, Diri Tajalli itu Roh namanya, Diri Terperi itu Hati namanya, Diri Diperikan itu Tubuh namanya
—————————————-
17) Syari’at itu adalah Manusia yang Pertama, Tarikat itu adalah Hakikat yang Muncul, Hakikat itu adalah Asma Allah, Ma’rifat itu adalah Aku semata
—————————————-
18) Yang bernama ASYHADU itu adalah Lidah, ALLA itu adalah Badan, ILLAHA itu adalah Hati, ILLALLAH itu adalah Roh, dan HUWA itu adalah Rahasia (titik nuktah)
—————————————-
19) Maka tatkala bermula kisah TITIK NUKTAH itu ialah dari Otak bapak, maka dalam Otak itu ada Lemak, Dalam Lemak ada Minyak, Dalam Minyak ada Nur, Dalam Nur ada Nur Akal, Dalam Nur Akal ada Hizabbannur, Dalam Hizabbannur ada Hidayamul Amanah
—————————————-
20) Lalu turun menjadi titik NUKTAH, turun ke Tulang Belakang turun ke Watsulbi Muntarait turun ke Tulang Dada turun lagi ke Pusat terus ke Kalam, maka berpindahlah titik NUKTAH itu kedalam Rahim Ibu 9 Bulan + 9hari atau 7 Bulan + 7 hari
—————————————-
21) Tatkala 1 hari HU namanya, 3 hari ALLAH namanya,7 hari INNALLAH namanya (hanya Allah), 4 bulan + 4 hari TURABBUNNUR namanya (Tanah Nur), tatkala7 bulan + 7 hari SUBHANALLAH namanya (Maha Suci Allah), 8 bulan + 8 hari ALHAMDULILLAH namanya (Puji Bagi Allah), 9 bulan + 9 hari INNA ANNA AMANNA namanya (Sesungguhnya Aku beriman atau Pembawa Amanah Allah)
—————————————-
22) Lalu terbitlah Ujud yang artinya Ada, Mustahil Tiada, Mana yang Mustahil tiada itu, yang mustahil tiada itu adalah prasangkamu saja sebab tidak memahami Aku
—————————————-
23) Jadi yang sebenar-benarnya Ujud itu ialah Ada, yang sebenar-benarnya Ada itu adalah Diri, Diri itu ialah Nyawa atau Roh, Nyawa atau Roh itu adalah Muhammad, Muhammad itu adalah Allah, Allah itu adalah segala Sifat Allah, segala Sifat Allah Ta’ala itu adalah Dzatullahita’ala
—————————————-
24) Adapun Sifat Allah Ta’ala itu adalah wujud Allah Ta’ala yang mempunyai Wujud dan hakikat daripada segala yang ada, besar maupun kecil
—————————————-
25) Bagaimanapun juga pada pandangan lahir maupun bathin adalah sebenar-benarnya termasuk satu sifat yang sempurna, tidak bertulang, berdaging, berdarah, atau berkulit, jadi yang berbagai sifat dan warna adalah hanya satu, menurut yakin Ma’rifat
—————————————-
26) Adapun yang bernama Wujud Hakiki itu yaitu Dzatullahita’ala dan Wujud Hakiki itu mustahil pada pandangan awam, Wujud majazi itu tidak ada pada pandangan wujud hakiki
—————————————-
27) Wujud ‘Am (umum) itu meliputi pada alam, dan nyata pada Dzatullah, Adapun yang sebenar-benarnya dzatullah itu yaitu Allah, Adapun yang sebenar-benarnya Allah itu yaitu Muhammad, Adapun sebenar-benarnya Muhammad itu yaitu Manusia, maka itulah sebabnya manusia dilebihkan Allah Ta’ala dari pada semesta sekalian alam ini, karena asalnya kejadian sekalian itu daripada Muhammad
—————————————-
28) Maka dari itulah titik NUKTAH adalah penjelmaan dari bapak dan ibu atau yang disebut Sulbi dan Taraib, jadi NUKTAH itu awal mulanya seberkas cahaya yang dikeluarkan oleh Allah dari mutu manikam sehingga para Ulama terdahulu berpendapat yaitu :
—————————————-
29) Nuktah adalah salah satunya Zat Penjelmaan dari dua macam zat (sulbi dan taraib), Dengan adanya KUDRATULLAHI yaitu berasal dari sulbi bapak dan yang menjadi IRADATULLAHI yaitu berasal dari ibu
—————————————-
30) Oleh sebab itu bagaimanapun birahinya kaum ibu, hal ini tidak terlalu nampak karena birahinya kaum ibu ini tidak dapat melampaui batasnya kudratnya kaum bapak, karena kaum ibu ini hanyalah iradat maka ulama mengistilahkan Surga itu di Atas Telapak Kaki Ibu, untuk lebih jelasnya saya terangkan bagian-bagian dari maksud yang diatas :
—————————————-
31) Bagian bapak itu WADI, MADI, MANI, MUTU Atau disebut SULBI, dan bagian ibu itu TANAH, ANGIN, AIR, API atau disebut TARAIB, bagian Allah itu ROH IDHAFI, ROH ROHANI, ROH RAHMANI, ROH JASMANI, bagian DARI GUDANG RAHASIA itu disebut “MUTU MANIKAM”
—————————————-
32) Asalnya Api itu yaitu NAPAS Hurufnya Alif Kalimatnya LA, dan asalnya Angin itu yaitu TANAPAS Hurufnya Lam Awal Kalimatnya ILLAHA, asalnya Air itu yaitu ANPAS Hurufnya Lam Akhir Kalimatnya ILLA, serta asalnya Tanah itu yaitu NUPUS Hurufnya Ha Kalimatnya ALLAH
—————————————-
33) Wadi Ma’anni kalimatnya LAA ILAHA, Madi Ma’annawiyah kalimatnya ILALLAH, Mani Sulbi kalimatnya ALLAH, serta Mutu Salbiyah kalimatnya HU
—————————————-
34) Ruh Jasmani Kalimatnya (YAHU), Ruh Rahmani Kalimatnya (IYAHU), Ruh Rohani Kalimatnya (YAMANIHU), Ruh Idhafi Kalimatnya (YAMAN LAYISALAHU), serta Mutu Manikam Kalimatnya (MA’DAHU)
—————————————-
35) Tujuh Petala Bumi dijadikan 7 (tujuh) Tingkatan Martabat yaitu :
—————————————-
36) 1. Sifat Amarah
2. Sifat Lawwamah
3. Sifat Mulhimah
4. Sifat Mutmainah
5. Sifat Radhiyah
6. Sifat Mardhiyah
7. sifat Ubudiyah
—————————————-
37) Tujuh Petala Langit yang dimaksud dengan Martabat 7 (Tujuh) yaitu :
—————————————-
38) 1. Lathifatul Qolbi
2. Lathifatul Ruuhi
3. Lathifatul Sirri
4. Lathifatul Ahfa
5. Lathifatul Hafi
6. Lathifatul Nafsu Natika
7. Lathifatul Kulu Jasad
—————————————-
39) Jikalau tingkatan semacam ini yang kita ambil Hakikatnya pada Alam kecil yang tersembunyi (terahasia) dalam diri kita, maka ulama menamakan sebagai berikut :
—————————————-
40) 1. HAYATUN JASADI BIN-NAFASI
2. HAYATUN NAFASI BIR-RUHI
3. HAYATUN RUHI BIS-SIRRI
4. HAYATUN SIRRI BIL IMANI
5. HAYATUN IMANI BINNURI
6. HAYATUN NURI BIL QUDRATI
7. HAYATUN QUDRATI BI MU’ALAMULLAHI TA’ALA DZATULLAH
—————————————-
41) Artinya adalah sebagai berikut :
—————————————-
42) Asalnya Jasad dari Nafas, Asalnya Nafas dari Ruh, Asalnya Ruh dari dalam Rahasia, Asalnya Rahasia dari dalam Iman, Asalnya Iman dari Nur atau Cahaya, Asalnya Nur atau Cahaya dari Qudrat, serta Asalnya Qudrat dari ke-Baqa’an ALLAH
—————————————-
43) Kalimatnya jadi seperti ini :
—————————————-
44) Hayatun jasadi hurufnya ALIF kalimatnya LA, Hayatun Nafasi hurufnya LAM AWAL kalimatnya ILAHA, Hayatun Ruuhi hurufnya LAM AKHIR kalimatnya ILLA, serta Hayatun Sirri hurufnya HA kalimatnmya ALLAH
—————————————-
45) Hayatun Imani hurufnya Alif (Allah) kalimatnya YAHU, Hayatun Nuri hurufnya Lam (Jibril) kalimatnya IYAHU, serta Hayatun Qudrati hurufnya Mim (Muhammad) kalimatnya IYAHU YAMANIHU
—————————————-
46) Dengan demikian apabila kesemuanya ini dilebur kedalam ke-Baqa’an DZAT ALLAH, maka ulama menamakannya sebagai berikut :
—————————————-
47) WATUJIBUL jASADI FI FASARAL QOLBI, WATUJIBUL QOLBI FI FASARAL RUHI, WATUJIBUL RUHI FI FASARAL SIRRI, WATUJIBUL SIRRI FI FASARAL IMAN, WATUJIBUL IMAN FI FASARAL NURI, WATUJIBUL NURI FI FASARAL QUDRATI, WATUJIBUL QUDRATI FI FASARAL DZATI FIL DZATI
—————————————-
48) Kalau diri manusia itu masih merupakan satu titik Roh Nabati namanya, Kalau ia segumpal darah Roh Jamadi namanya, Kalau ia segumpal daging Roh Wajdi namanya, Kalau ia bergerak Roh Hayati namanya, Kalau ia dilahirkan Roh Hayawani namanya, Kalau ia menyusu Roh Nafsani namanya, Kalau ia berbicara Roh Insani namanya, Kalau ia mempunyai akal Roh Nurani namanya, Kalau ia sampai umur Roh Ruhani namanya, Kalau ia setengah umur Roh Rahmani namanya, Kalau ia berumur 40 tahun Roh Jamali namanya, Kalau ia sudah tua Roh Kulli namanya, Kalau ia mati (mengenal perkataan ma’nawi dari pada mati) Roh Ma’nawiah namanya, Kalau ia di dalam kubur Roh Rabbani namanya, Kalau ia bangun dari kubur Roh Illahiyah namanya, Mengenal salah satu dari semua itu Roh Ruhul Arwah namanya, maka segala galanya ini dengan perintah dari RUHUL QUTUB, dan bernama ROH IDHAFI dan bernama ROH ‘ULWI dan bernama WUJUD IDHAFI dan WUJUD ‘AAMI
—————————————-
49) Adapun insan itu asalnya daripada Zat karena haqiqat pada wujudnya, dan haqiqatnya itu esa dengan Zatnya, akan tetapi zahir Zat itu dengan Sifat dan Asma’ dan Af’al
—————————————-
50) Maka Zat itu bernama (Wahdah) dan (Wahdah) itu zahir pula dengan (Wahdahniah) dan (Wahdahniah) itu zahir pula dengan (Wahdiah)nya, maka Zat itu bernama (Alam Ruh) dan (Alam Misal) dan (Alam Ijsam) dan (Alam Insan) maka insanlah kesudahan dari martabat yang tujuh itu
—————————————-
51) Tatkala NUKTAH itu duduk didalam belum Zaratul Qalimuhum namanya, dan tatkala keluar daripada belumnya itu (seNuktah Awal ) namanya, dan tatkala turun kepada bapak duduk sama tengah kepala bapak kita itu (Mahmud) namanya, dan tatkala sehari dikandung oleh bapak kita itu maka turun pula kepada dahi bapak kita itu (Qiblatul Awal) namanya, dan tatkala tiga hari turun pula kepada mata bapak kita itu (Nurul Awal) namanya, dan turun pula kepada rahim ibu kita empat puluh hari dikandung ibu kita (Alqah) namanya, dan sampai tujuh bulan dikandung oleh ibu kita (Mudhograh) namanya, dan sampai pula lapan bulan dikandung ibu kita (Hiula) namanya, maka masuklah (Insan) namanya (Muhammad) pun namanya jua
—————————————-
52) Pada waktu Subuh dan waktu Zohor itu keluar daripadanya huruf ALIF, Nabi Allah Ibrahim, cahayanya merah, asalnya daripada Alqah, yakni dari daging segumpal, rakaat yang empat itu sebab Tajali Wujud, Ilmu, Nur, Shuhud
—————————————-
53) Dan adapun pada waktu Asar itu keluar daripadanya LAM, Nabi Allah Yunus, asal daripada Mudhograh, yakni daging segumpal, cahayanya kuning, rakaat yang empat itu sebab Tajali Api, Angin, Air, Tanah
—————————————-
54) Dan adapun pada waktu Maghrib itu keluarnya daripada HA, Nabi Allah Isa, cahayanya hijau, asal daripada Azhimah, yakni Tulang, Kulit, Roma, rakaat yang tiga ini sebab Tajali Ahadiah, Wahdah, Wahdiah
—————————————-
55) Dan adapun pada waktu Isyak itu keluarnya daripada MIM, Nabi Allah Musa, cahayanya hitam, asal daripada Hiuala, yakni rupa lembaga Nabi Allah Adam, rakaat yang empat itu sebab Tajali Wadi, Mazi, Mani, Manikam
—————————————-
56) Dan adapun pada waktu Subuh itu keluarnya daripada DAL, Nabi Allah Adam, cahayanya putih, asal daripada Nuthfah yakni Air Mani, rakaat yang dua itu sebab Tajali Zat dan Sifat
—————————————-
57) Tatkala sempurna kejadian insan itu maka keluar Nafasnya itu apa kerjanya dan tatkala ia masuk itu apa kerjanya, maka tatkala ia keluar itu kerjanya Meliputi Alam dan tatkala ia masuk itu kerjanya Memenuhi Alam
—————————————-
58) Dan tatkala ia keluar itu bertemu dengan apa dan tatkala ia masuk itu bertemu dengan apa, maka adapun tatkala ia keluar itu Bertemu Dengan Rahman dan tatkala ia masuk itu Bertemu Dengan Rahim
—————————————-
59) Dan tatkala ia keluar itu apa yang dinyatakan olehnya dan tatkala ia masuk itu apa yang dinyatakan olehnya, maka adapun tatkala ia keluar itu menyatakan dirinya Sifat Zat dan takala masuk itu menyatakan dirinya Zat yaitu dengan segala Sifat Qadim, Biwujudlillah yaitu Sifat Ma’ni dan Sifat Zat itu Wujud
—————————————-
60) Takala ia keluar itu kira kira satu hasta jauhnya ataupun satu jengkal jauhnya ataupun enam jari jauhnya ataupun empat jari jauhnya apa namanya itu, maka adapun tatkala keluar satu hasta itu Nafas namanya dan tatkala satu jengkal itu Tanafas namanya dan tatkala enam jari itu Ampas namanya dan tatkala empat jari itu Nufus namanya
—————————————-
61) Maka adapun tatkala ia keluar satu hasta jauhnya itu apa cahayanya dan tatkala satu jengkal itu apa cahayanya dan tatkala enam jari apa cahayanya dan tatkala empat jari itu apa cahayanya, dan adapun tatkala ia keluar satu hasta itu cahayanya Kuning dan tatkala satu jengkal itu cahayanya Putih dan tatkala enam jari itu cahayanya Merah dan tatkala empat jari itu cahayanya Hitam
—————————————-
62) Bagaimana cahaya yang Kuning itu datang ia daripada tempat yang mana dan cahaya yang Putih itu datang ia daripada tempat yang mana dan cahaya yang Merah itu datang ia daripada tempat yang mana dan cahaya yang Hitam datang ia daripada tempat yang mana, maka adapun cahaya yang Kuning itu datang ia daripada Jantung dan cahaya yang Putih itu datang ia daripada Hati dan cahaya yang Merah itu datang ia daripada Buah Kayu Sanubari dan cahaya yang Hitam itu datang ia daripada hempedu
—————————————-
63) Dan adapun Nafas yang keluar masuk itu Lima bagian sebelah Kanan dan sebelah kiri dan adapun sebelah kanan itu satu keluar sebelah atas dan satu keluar sebelah bawah dan satu keluar sama tengah, maka adapun ia keluar sebelah atas itu putih rupanya dan apabila ia keluar sebelah bawah hitam rupanya dan apabila ia keluar sebelah kanan kuning rupanya dan apabila ia keluar sebelah kiri merah rupanya
—————————————-
64) Maka jikalau kita duduk dirumah keluar nafas kita itu sebelah kanan melainkan laki-laki yang merah kulitnya datang kepada kita, jikalau ia membawa jenis barang makanan yang dibawanya kepada kita itu dengan warna merah rupanya
—————————————-
65) Dan jikalau keluar nafas disebelah kiri kita itu jikalau perempuan yang datang kepada kita itu melainkan rupanya kuning, maka barang yang dibawanya itu pun kuning jua
—————————————-
66) Dan jikalau nafas kita itu keluar disebelah atas melainkan laki-laki yang putih kuning kulitnya yang datang kepada kita, maka jikalau ia membawa jenis barang kepada kita dengan warna putih ataupun sebagainya
—————————————-
67) Demikian lagi jikalau nafas kita keluar disebelah bawah melainkan laki-laki yang hitam kulitnya datang kepada kita, maka jikalau ia membawa jenis barang makanan itu dengan rupanya hitam warnanya
—————————————-
68) Demikian juga kalau nafas kita keluar itu terpecah dua ataupun tiga melainkan alamatnya datang orang kepada kita dua ataupun tiga orang
—————————————-
69) Demikian juga jikalau nafas kita yang sama tengah itu keluar halus seperti jarum rasanya inilah yang amat baik, yakni Ketika Selamat namanya
—————————————-
70) Dan demikian jikalau nafas kita itu keras rasanya disebelah kanan maka tiba-tiba datang orang itu kepada kita membawa khabar hal yang tidak baik
—————————————-
71) Maka orang itu duduk disebelah kiri kita, maka nafas kita pada masa itu keras sebelah kanan kita, maka khabar orang itu dusta belaka
—————————————-
72) Maka jikalau ia duduk disebelah kira maka nafas kita pun keras disebelah kiri juga, maka khabar itu nyatalah sungguhannya, tiada ia berdusta sama sekali
—————————————-
73) Tatkala nafas kita keluar itu Jibril namanya dan tatkala masuk itu Jibrail namanya, dan waktu yang mana dinamakan Jibrail dan waktu yang mana dikatakan Jibril, adapun waktu ia membawa firman Tuhan kepada hambanya inilah dinamai Jibrail dan waktu ia menerima puji hambanya itu serta membawa mengadap Tuhan nya inilah dinamai akan dia Jibril
—————————————-
74) Tatkala nafas kita itu keluar disebelah kanan Jibrail namanya dan takala ia masuk itu Mikail namanya dan takala ia keluar disebelah kiri itu Israfil namanya dan takala ia masuk Izrail namanya, dan adapun Istana Nafas itu didalam Otak, inilah yang bernama Ruhul Nafsi cahayanya putih
—————————————-
75) Dan adapun perbedaan Ruh dengan Nafas itu berlainan, yakni nafas itu keluar dan masuk, dan adapun Ruh itu tiada keluar dan tiada masuk, tetapi Ruh itu pergi datang pada Jalan Bathin, Yakni diibarat seumpama kita masuk pada Alam Khayal dan Alam Misal, seperti kita melihat saudara di negeri yang jauh terbang ke udara dengan tiada bersayap
—————————————-
76) Demikianlah sabit Hayyat itu adanya, tiada ada didalam dan tiada diluar dan tiada diatas dan tiada dibawah karena kita ini tempat menerima Tajali Tuhan jua adanya
—————————————-
77) Maka diri yang Bathin itulah nyawa kita maka tiadalah dapat kita lihat dengan mata kepala kita karena tidak ada warna padanya akan tetapi kita ketahui diri yang Bathin itu kenyataannya pada diri yang Zahir jua
—————————————-
78) Tatkala kita lihat sifat yang Zahir itu seperti hidup dan tahu dan kuasa dan berkehendak dan mendengar dan melihat dan berkata-kata dan gerak dan diam itulah nyata pada diri kita yang Zahir, itulah sifat diri kita yang Bathin
—————————————-
79) Maka tatkala itu kita lihat nyata pada diri kita yang Zahir sifat diri kita yang Bathin itu tiada didalam dan tiada di luar dan tiada di atas dan tiada di bawah dan tiada di kiri dan di kanan melainkan hendaklah kita ketahui dengan yakin bahwa ada diri kita yang Bathin itulah Nyawa kita, yakni bayang-bayang Sifat Tuhan
—————————————-
80) Maka adalah kelakuan Sifat Tuhan itu nyatalah pada diri kita yang Bathin dan bagaimana kelakuan sifat diri kita yang Bathin itu nyata pada diri kita yang Zahir, maka jikalau kita hendak melihat kelakuan diri kita yang Bathin melainkan hendaklah kita masuk kepada Alam Khayal ataupun Alam Misal melainkan dapatlah kita melihat kepada kenyataan Sifat Tuhan
—————————————-
81) Apabila sudah faham yang demikian itu maka kita ketahuilah hidup Badan itu dengan sebab hidup Nyawa dan tahu Badan itu dengan sebab tahu Nyawa dan kuasa Badan itu dengan sebab kuasa Nyawa dan berkehendak Badan itu dengan sebab berkehendak Nyawa dan mendengar Badan itu dengan sebab mendengar Nyawa dan melihat Badan itu dengan dengan sebab melihat Nyawa dan berkata-kata Badan itu dengan sebab berkata-kata Nyawa dan gerak diam Badan itu dengan sebab gerak diam Nyawa
—————————————-
82) Maka apabila engkau sudah faham seperti yang tersebut itu engkau akan mengetahui hidup Nyawa itulah tempat menzahirkan hidup Tuhan dan tahu Nyawa itulah tempat menzahirkan ilmu Tuhan dan kuasa Nyawa itulah tempat menzahirkan Qudrat Tuhan dan berkehendak Nyawa itulah tempat menzahirkan Irradat Tuhan dan mendengar nyawa itulah tempat menzahirkan Sama’ Tuhan dan melihat Nyawa itulah tempat menzahirkan Bashar Tuhan, berkata-kata Nyawa itulah itulah tempat menzahirkan Qalam Tuhan dan berkata-kata yang tujuh itu pada diri kita yang bathin itu seperti nyatalah sifat diri kita yang Bathin dan diri yang Bathin itu sepertilah pada diri kita yang Zahir ini
—————————————-
83) Maka engkau ketahuilah dan engkau kenalilah bahwa diri kita yang Bathin itulah Nyawa kita tempat nyata Sifat Tuhan dan diri kita yang Zahir ini tempat tempat nyata Sifat diri kita yang Bathin, maka janganlah engkau cari Tuhan mu itu tempat yang lain pada diri kamu sendiri, maka itu sangat nyata karena sekalian alam ini seperti keadaan engkau jua, tetapi nyata Tuhan mu itu pada diri kamu itu terlebih nyata daripada yang lain karena manusia itu tempat menerima dan menzahirkan SifatNya dan Asma’Nya dan Af’alNya
—————————————-
84) Sifat pun Sifat Zat, Asma pun Asma Zat dan Af’al pun Af’al Zat, Qadim keempat-empat itu Esa pada pihak tanazul dan taqarop inilah rahasia orang yang mengenal diri yakni kenal diri yang Zahir dan diri yang Bathin itu tiada mempunyai wujud pada haqiqatnya segala sifat yang tersebut itu sekali-kali melainkan menjadi menghantar kepada bukan tempatnya untuk menjatuhkan hukum, taklik di atas hambanya yang mengerjarkan amar dan nahi maka jadilah wasilah ma’rifat kita pada tiga martabat, Pertama kenal diri yang Zahir dan kedua kenal diri yang Bathin dan ketiga kenal Tuhan
—————————————-
85) Maka apabila sudah engkau faham segala yang tersebut itu, melainkan hendaklah engkau meng Esa kan dan menSyahadatkan dan Mujahadah dan Murakabah dan Muqabalah dengan Tuhan mu itu pada dirimu karena ianya jua adanya
—————————————-
86) Permulaan nyata pada kita melainkan hendaklah kita senantiasa hadir hati kita kepada Tuhan kita itu jangan sekali-kali lalai baik dalam keadaan duduk dan berjalan dan gerak dan diam kita dan barang sebaginya, maka segala hal tersebut itu berlaku atas diri kita, karena semua perintah Tuhan itu berlaku atas hambanya
—————————————-
87) Maka perintah itu adakalanya baik dan adakalanya jahat dan adakala nikmat dan adakalanya rahmat, maka jatuh perintahnya itu diatas hambanya, melainkan wajiblah diatas hamba itu membayar haknya tatkala datang nikmat diatas kita melainkan wajiblah membayar hakNya dengan segera karena kita anugerah daripadaNya
—————————————-
88) Maka apabila datang bala diatas kita maka kita pandang dengan haqiqat bahwa bala itu daripadaNya jua, maka wajiblah atas kita membayar hakNya dengan sabar dan redha serta taat
—————————————-
89) Maka tatkala datang kebajikan diatas kita maka kita pandanglah kebajikan itu daripadaNya jua, maka wajiblah diatas kita membayar hakNya dengan segera karena semuanya itu adalah anugerahNya
—————————————-
90) Maka tatkala datang kejahatan maksiat atas kita maka kita pandang dengan mata hati kita ianya jua yang menjadikan maksiat itu diatas hambanya melainkan wajiblah diatas kita membayar hakNya dengan perbanyak Astaghafirullah Alazhim serta kita minta ampun dan kita minta berlindung kepadaNya jua karena ianya jua yang menjadikan segala jenis yang tersebut itu melainkan ianya jua yang mengampunkan dosanya kita melainkan Ianya jua Tuhan mengasihi akan hambaNya, maka jika tiada hal yang demikian itu niscaya sia-sialah hidup kita dalam dunia ini melainkan menyesalLah kita dalam akhirat dengan tiada berguna lagi karena sekaliannya itu kembali kepada mu jua, baik dan jahatnya
—————————————-
91) Maka dari itu ingatlah bahwa Bismillah itu ialah yang bernama Aku atau nyawa Muhammad, Bermula Muhammad itu nyawa manusia, adapun manusia itu tempat tajali Qudrat dan Iradat Tuhan
—————————————-
92) Maka segala nyawa manusia itu didalam Qolbi dan bermula Qolbi itu Jantung yakni Rumah Qolbi dan bermula Jantung itu Rumah Nyawa dan bermula Rumah Nyawa itu ialah Aku tetapi Aku itu didalam Qolbi seperti firman Allah “Wa Fi Am Pusakum Apala Tubsirun” Yakni bukankah Aku itu didalam diri kamu mengapa tidak kamu lihat
—————————————-
93) Dan bermula Qolbi itu yang bernama HA, bermula yang bernama HA itu Hati, bermula Hati itu ialah bernama Muhammad, maka Nyawa kita dan Sirr kita pada Muhammad dan adapun HU itu ia sendiri tiada sekalianNya
—————————————-
94) Maka firman Allah Taala Kun Fayakun maka jadilah Nur Muhammad di dalam Nur Allah Taala setelah lengkap jadi Nur Muhammad, maka Allah pun ghaib didalam Nur Muhammd maka Nur Muhammad pun menilik keelokan dirinya Lam Jalalah maka keluarlah nyawa sekalian alam ini
—————————————-
95) Yakni terpancarlah kenyataan Nurnya itu diibarat seperti lampu yang sangat terang maka jika ditatap lampu itu dengan satu tatapan raga yang dibalut dengan kertas berbagai macam warnanya maka cahaya lampu itu akan terpancar pada lobang raga, maka apabila koyak satu kertas pada lobang raga itu niscaya hilanglah cahayanya kembali kepada lampunya
—————————————-
96) Maka Nur Muhammad itu ghaib ia pada sekalian badan hamba Allah Taala yang mukmin, yakni bersama dengan cahaya lampu yang terpancar kepada lobang raga yang tersebut dahulunya, dan adapun Hati itu bermula dari Sirr yang Latif di taruhkan Allah Taala bagi manusia di dalam dada pada lambung kiri dan dibungkus dengan daging segumpal serta kenderaan tiap-tiap anggota jasad itu tentaranya adalah Hati karena Hati itu adalah Raja baginya dan Raja itu dua muka
—————————————-
97) Satu muka menilik kepada Dirinya dan satu muka menilik kepada Tuhan, maka muka yang awal itu ada di dalam matanya segala rupa Akuan, dan mata Hati itu ialah Akal dan selama Akal itu dibawah perintah Akuan maka Hati itu ditawannya hingga apabila hilang perintah Akuan daripadanya
—————————————-
98) Maka hilanglah Akal yang bertambah itu dan zahirlah bekasnya yang ghaib bercahaya dan cahayanya itulah yang dinamakan Nur Ma’rifat, maka meniliklah engkau dengan Nur Ma’rifat yang ditaruhkan didalam Bathinmu itu yaitu mata yang halus dan telah datanglah yang Haq dan hilanglah yang Bathil
—————————————-
99) Adapun HA itu daripada Hati dan jika Sirr pun daripada Hati jua karena inilah dikatakan bahwa tatkala Hati itu condong kepada segala keinginan dunia seperti makanan, lemak manis ataupun barang sebagainya, maka tatkala itu dinamai Nafsu dan apabila Hati itu condong kepada segala kebaktian dunia dan akhirat ibadatlah namanya
—————————————-
100) Dan tatkala Hati itu birahi kepada Allah Taala syah akan pertemuan itu maka dinamailah ia Ruh, dan tatkala Hati itu memancarkan sesuatu Akal namanya, dan Budi pun namanya, dan tatkala Hati itu mengetahui dirinya itubaik dan jahat dan sakit Hati Yang Halus namanya dan tatkala ia berkehendakan kepada sesuatu Nafsu namanya dan tatkala ia mengetahui Hamba dan Tuhan Qolbi Zarah namanya dan Cermin Ikhlas pun namanya
—————————————-
101) Dan Tatkala ia mengesakan Allah Taala Tauhid namanya dan Perisai pun namanya dan tatkala ia melihat Kebesaran Ma’rifat namanya dan Arash pun namanya dan tatkala ia sudah mengetahui Zat dan Sifat dan Asma dan Af’al Ummi Kitab namanya dan Nur pun namanya dan tatkala ia mengetahui Tuhan lengkap sekalian alam tetap dengan Zat dan Sifat yaitu sekalian alam kepada Tuhan Ma’rifat Nur namanya dan Ahadiah Takdir pun namanya
—————————————-
102) Dan tatkala ia tetap Ma’rifat dan Tauhidnya Lufh namanya dan Qalamul U’lia pun namanya dan takala ia sudah mengetahui didalam ghaib Qalamul Arash namanya dan Qalam Naps pun namanya dan takala ia tetap ketika didalam ghaib dengan Heran serta tercengang-cengang Iradat namanya dan Qudrat pun namanya dan Rahsia pun namanya
—————————————-
103) Takdir Rahasia itu mengembalikan Amanah Kepada Yang Empunya Amanah Amanat namanya dan tatkala ia sudah mengetahui didalam ghaib hamba yang menanggung Amanah heranlah ia akan dirinya Tercegang-cengang Amanat namanya dan Khazaan pun namanya dan tatkala ia mengetahui tubuh dan dirinya Kunhu namanya dan tatkala ia mengetahui keadaan dirinya ada sekalian alam umpama banjir ditengah pasir ataupun seperti sebuah sampan atau perahu di tengah laut Kunhu Kazal namanya dan Qolbi Mukmin pun namanya
—————————————-
104) Barang siapa yang bertanya dari mana datangnya ilmu ini sama dengan menanyakan dari mana datangnya Al Quran itu sendiri, jika bingung silahkan anda rujuk langsung ke Allah karena hanya Allah saja yang maha benar yang lain semuanya salah
—————————————-
105) dilihat mata buta, didengar tiada suara, diraba tiada rasa, maka kenali diri rata-rata, baru kenal tuhan yang nyata
—————————————-
106) Sebagai penutup, sesungguhnya kesempurnaan adalah suatu yang sulit tercapai, dan untuk mencapainya adalah perkara yang sungguh sangat berat, maka barang siapa yang mendapati aib pada Risalah ini segeralah untuk menutupinya, dan barang siapa yang mendapati kekurangan, segeralah menyempurnakannya, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang selalu mengadakan perbaikan
—————————————-
107) Hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan, dan kepadaNya kita menyandarkan diri. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Semoga shalawat beserta salam dan barakah kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarganya, dan juga keselamatan yang banyak. Wal hamdu lillahi robbil ‘alamiin
—————————————-
🙏🙏🙏wasalam..
Langganan:
Postingan (Atom)
GARIS KETURUNAN ARAB
Suku Arab-Indonesia adalah penduduk Indonesia yang memiliki keturunan etnis Arab dan etnis pribumi Indonesia. Pada mulanya mereka umumnya ...
-
"rahasia Rukun 13" 1. NIAT SEMBAHYANG sebenarnya memelihara taubat kita dari dunia dan akhirat 2. BERDIRI...
-
{KAFIAT NAPAS ZIKIR ALLAH-HU - PART I} ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ MEMBANGKITKAN TENAGA PRANA DENGAN KAFIAT NAPAS ZIKIR ALLAH-HU Assallammu...
-
DZIKIR DALAM7 LATIFAH TAREKAT NAQSABANDIYA. Suatu zikir hanyalah untuk menyelamatkan hati dari nafsu keduniawian dan nafsu keinginan, na...