Kamis, 13 Juni 2019

TUBUH

Alimul Fadhil H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari (Guru Sekumpul) .

pernah menyinggung dan menguraikan pembahasan tentang salah satu tema yang selalu aktual diperbincangkan dalam dunia tasawuf, yakni wacana tentang ‘Nur Muhammad’ dalam salah satu pengajian beliau di Komplek al-Raudah Sekumpul Martapura. Untuk membutiri kembali pandangan tentang Nur Muhammad dimaksud seiring dengan peringatan haul beliau yang ke-5 tahun ini (5 Rajab 1431 H ─ 17 Juni 2010 M) berikut tulisan ini dihadirkan guna pencerahan.
Apakah yang dimaksud dengan Nur Muhammad tersebut?
Dalam kitab Hikayat Nur Muhammad diceritakan bahwa tubuh manusia (anak Adam) mengandungi tiga unsur, yakni jasad, hati dan roh. Di dalam roh terdapat hakikat, di dalam hakikat tersimpan rahasia, rahasia itulah yang dinamakan makrifah Allah. Di dalam makrifah pula ada zat yang tidak menyerupai sesuatu pun. Rahasia atau makrifah Allah ini dinamakan Insan Kamil. Insan Kamil dijadikan dari Nur yang melimpah dari zat Haqq Ta’ala.
Menurut riwayat, sumber cerita tentang kejadian Nur Muhammad ini bermula dari biografi Nabi Muhammad yang ditulis oleh Ibnu Ishaq (sejarawan Islam). Dalam biografi tersebut, Ibnu Ishaq ada mencatat riwayat yang menyatakan bahwa Allah telah menciptakan Nur Muhammad dan Nur itu telah diwarisi melalui generasi nabi-nabi hingga ia sampai kepada Abdullah bin Abdul Muthalib dan turun kepada Nabi Muhammad Saw. Kemudian terdapat sejumlah hadis yang menerangkan tentang Nur tersebut, antaranya, “sesungguhnya yang mula-mula dijadikan oleh Allah adalah cahaya-ku (Nur Muhammad)………”. Beragam pandangan terhadap hadis ini, ada yang menyatakan maudhu’ (tertolak), dhaif (lemah), bersumber dari falsafah Yunani, tetapi ada pula yang menyatakan bahwa riwayat tersebut boleh diterima karenanya sanadnya bersambung.
Hadis tersebut cukup panjang matannya dan diringkas sebagai berikut: “Dan telah meriwayatkan oleh Abdul Razak dengan sanadnya dari Jabir bin Abdullah ra, beliau berkata: “Ya Rasulullah, demi bapaku, engkau dan ibuku, khabarkanlah daku berkenaan awal-awal sesuatu yang Allah telah ciptakan sebelum sesuatu! Bersabda Nabi Saw: “Ya Jabir, sesungguhnya Allah menciptakan sebelum sesuatu, Nur Nabi-mu daripada Nur-Nya’. Maka jadilah Nur tersebut berkeliling dengan Qudrat-Nya sekira-kira yang dihendaki Allah. Padahal tiada pada waktu itu lagi sesuatu pun; tidak ada lauh mahfuzh, qalam, sorga, neraka, Malaikat, langit, bumi, matahari, bulan, jin dan manusia; tiada apa-apa yang diciptakan, kecuali Nur ini.
Dari nur inilah kemudian diciptakan-Nya qalam, lauh mahfuzh dan Arsy. Allah kemudian memerintahkan qalam untuk menulis, dan qalam bertanya, “Ya Allah, apa yang harus saya tulis?” Allah berfirman: “Tulislah La ilaha illallah Muhammad Rasulullah.” Atas perintah itu qalam berseru: “Oh, betapa sebuah nama yang indah dan agung Muhammad itu, bahwa dia disebut bersama Asma-Mu yang Suci, ya Allah.” Allah kemudian berkata, “Wahai qalam, jagalah kelakuanmu ! Nama ini adalah nama kekasih-Ku, dari Nur-nya Aku menciptakan arsy, qalam dan lauh mahfuzh; kamu, juga diciptakan dari Nur-nya. Jika bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakan apa pun.” Ketika Allah telah mengatakan kalimat tersebut, qalam itu terbelah dua karena takutnya akan Allah dan tempat dari mana kata-katanya tadi keluar menjadi tertutup, sehingga sampai dengan hari ini ujung nya tetap terbelah dua dan tersumbat, sehingga dia tidak menulis, sebagai tanda dari rahasia ilahiah yang agung. Maka, jangan seorangpun gagal dalam memuliakan dan menghormati Nabi Suci, atau menjadi lalai dalam mengikuti contohnya (Nabi) yang cemerlang, atau membangkang dan meninggalkan kebiasaan mulia yang diajarkannya kepada kita.………dan seterusnya.
Bagaimana penjelasan Guru Sekumpul tentang Nur Muhammad tersebut? Secara ringkas penjelasan beliau sebagaimana konten materi pengajian yang bertemakan tentang ‘Kesempurnaan’ (penjelasan ini bahkan beliau ulang-ulang tidak kurang dari tiga kali) boleh diringkaskan sebagai berikut:
Beliau memulai penjelasannya dengan ungkapan yang sangat dikenal dalam dunia tasawuf, di mana untuk mengenal Tuhan seseorang harus terlebih dahulu mengenal akan dirinya. Maksudnya, untuk sampai kepada pengenalan terhadap Tuhan, menurut Guru Sekumpul haruslah terlebih dahulu dipahami dua hal. Pertama, ia harus terlebih dahulu mengenal asal mula akan kejadian dirinya sendiri, dari mana, di mana dan bagaimana ia dijadikan? Kedua, ia harus terlebih dahulu mengetahui apa sesuatu yang mula-mula dijadikan oleh Allah Swt. Kedua perkara di atas menjadi prasyarat kesempurnaan bagi para penuntut (salik) dalam mengenal (makrifah) kepada Allah.
Adapun yang mula-mula dijadikan oleh Allah adalah Nur Muhammad Saw yang kemudiannya dari Nur Muhammad inilah Allah jadikan roh dan jasad alam semesta. Bermula dari Nur Muhammad inilah maka sekalian roh (dan roh manusia) diciptakan Allah sedangkan jasad manusia diciptakan mengikut kepada dan dari jasad Nabi Adam as. Karena itu, Nabi Muhammad Saw adalah ‘nenek moyang roh’ sedangkan Nabi Adam as adalah ‘nenek moyang jasad’. Hakikat dari penciptaan Adam as sendiri adalah berasal dari tanah, tanah berasal dari air, air berasal dari angin, angin berasal dari api, dan api itu sendiri berasal dari Nur Muhammad. Sehingga pada prinsipnya roh manusia diciptakan berasal dari Nur Muhammad dan jasad atau tubuh manusia pun hakikatnya berasal dari Nur Muhammad. Jadilah kemudian ‘cahaya di atas cahaya’ (QS. An-Nuur 35), di mana roh yang mengandung Nur Muhammad ditiupkan kepada jasad yang juga mengandung Nur Muhammad. Bertemu dan meleburlah kemudian roh dan jasad yang berisikan Nur Muhammad ke dalam hakikat Nur Muhammad yang sebenarnya. Tersebab bersumber pada satu wujud dan nama yang sama, maka roh dan jasad tersebut haruslah disatukan dengan mesra menuju kepada pengenalan Yang Maha Mutlak, Zat Wajibul Wujud yang memberi cahaya kepada langit dan bumi, dan yang semula menciptakan, sebagaimana mesranya hubungan antara air dan tumbuhan, di mana ada air di situ ada tumbuhan, dan dengan airlah segala makhluk dihidupkan (QS. Al-Anbiya 30). Pengenalan terhadap hakikat Nur Muhammad inilah maqam atau stasiun yang terakhir dari pencarian akan makrifah kepada Allah, Martabat Nur Muhammad inilah martabat yang paling tinggi, dan pengenalan akan Nur Muhammad inilah yang menjadi ‘kesempurnaan ilmu atau ilmu yang sempurna’.
Menarik untuk mengkaji ulang penjelasan Guru Sekumpul di atas dengan membandingkannya kepada penjelasan tokoh-tokoh tasawuf yang juga membahas dan menyinggung tentang wacana ini.
Al-Hallaj yang mencetuskan teori hulul misalnya menyatakan bahwa Nur Muhammad mempunyai dua bentuk, yakni Nabi Muhammad yang dilahirkan dan menjadi cahaya rahmat bagi alam “tidaklah engkau diutus wahai (Muhammad Rasulullah Saw) melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam” (martabat al-a’yanu’l Kharijiyyah) dan yang berbentuk Nur (martabat a’yanu’l Thabitah). Nur Muhammad adalah cahaya semula yang melewati dari Nabi Adam ke nabi yang lain bahkan berlanjut kepada para imam maupun wali; cahaya melindungi mereka dari perbuatan dosa (maksum); dan mengaruniai mereka dengan pengetahuan tentang rahasia-rahasia Illahi. Allah telah menciptakan Nur Muhammad jauh sebelum diciptakan Adam as. Lalu, Allah menunjukkan kepada para malaikat dan makhluk lainnya, bahwa: “Inilah makhluk Allah yang paling mulia”. Oleh itu, harus dibedakan antara konsep Nur (Muhammad) sebagai manusia biasa (seorang Nabi) dan Nur Muhammad secara dimensi spiritual yang tidak dapat digambarkan dalam dimensi fisik dan realiti.
Menurut sufi, Muhyiddin Ibn Arabi, Nur Muhammad sebagai prinsip aktif di dalam semua pewahyuan dan inspirasi. Melalui Nur ini pengetahuan yang kudus itu diturunkan kepada semua nabi, tetapi hanya kepada Ruh Muhammad saja diberikan jawami al-qalim (firman universal).
Sedangkan menurut pencetus teori ‘insan kamil’, Abdul Karim bin Ibrahim al-Jili (1365-1428 M) dalam karyanya, al-Insan al-Kamil fî Ma’rifat al-Awakhir wa al-Awa’il (Manusia Sempurna dalam Mengetahui Allah Sejak Awal hingga Akhirnya), menyatakan bahwa Nur Muhammad memiliki banyak nama sebanyak aspek yang dimilikinya. Ia disebut ruh dan malak apabila dikaitkan dengan ketinggiannya. Tidak ada kekuasaan makhluk yang melebihinya, semuanya tunduk mengitarinya, karena ia kutub dari segenap malak. Ia disebut al-Haqq al Makhluq bih, (al-Haqq sebagai alat pencipta), hanya Allah yang tahu hakikatnya secara pasti. Dia disebut al-Qalam al-A’la (pena tertinggi) dan al-Aql al-Awal (akal pertama) karena wadah pengetahuan Tuhan terhadap alam maujud, dan Tuhanlah yang menuangkan sebagian pengetahuannya kepada makhluk. Adapun disebut al-Ruh al-Ilahi (ruh ketuhanan) karena ada kaitannya dengan ruh al-Quds (ruh Tuhan), al-Amin (ruh yang jujur) adalah karena ia adalah perbendaharaan ilmu tuhan dan dapat dipercayai-Nya. Oleh itu, menurut Al-Jili, lokus tajalli al-Haq yang paling sempurna adalah Nur Muhammad. Nur Muhammad ini telah ada sejak sebelum alam ini ada, ia bersifat qadim lagi azali. Nur Muhammad itu berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam berbagai bentuk para nabi, yakni Adam, Nuh, Ibrahim, Musa hingga dalam bentuk nabi penutup (khatamun nabiyyin), Muhammad Saw.
Banyak lagi penjelasan dan pembahasan tentang Nur Muhammad dimaksud. Karena, memang sejak awal kedatangan dan perkembangan Islam di ‘Bumi Nusantara’, wacana Nur Muhammad dalam berbagai konteksnya sehingga sekarang, telah menarik perhatian umat Islam. Hal ini paling tidak didukung oleh tiga faktor.
Pertama, terlihat dari banyaknya salinan yang beredar pada masa itu berkenaan dengan ‘Hikayat Nur Muhammad’ Misalnya, Hikayat Nur Muhammad naskah Betawi yang disalin pada tahun 1668 M oleh Ahmad Syamsuddin Syah. Menurut Ali Ahmad (2005) sehingga sekarang, sekurang-kurangnya terdapat tujuh versi Hikayat Nur Muhammad.
Kedua, apresiasi terhadap konsep Nur Muhammad telah mendorong lahirnya karya klasik ulama Nusantara yang secara khusus berisikan pembahasan tentang teori ini. Antaranya adalah kitab Asrar al-Insan fi Makrifah al-Ruh wa al-Rahman karya Nuruddin al-Raniri (Aceh), tiga kitab karangan Hamzah Fansuri (Barus-Aceh); Asrar al-‘Arifin, Syarab al-‘Asyiqin, dan al-Muntahi, serta Nur al-Daqa’iq oleh Syamsuddin al-Sumaterani (Pasai). Dalam kitab Asrar al-Insan dijelaskan bahwa Allah menjadikan Nur Muhammad dari tajalli (manifestasi) sifat Jamal-Nya dan Jalal-Nya, maka jadilah Nur Muhammad itu khalifah di langit dan di bumi; Nur Muhammad adalah asal segala kejadian di langit dan di bumi. Di dalam kitab Asrar al-’Arifin dibincangkan teori wahdah al-wujud yang semula diperkenalkan oleh Abdullah Arif dalam Bahr al-Lahut dan Ibnu Arabi, kemudian dikembangkan lagi oleh Muhammad bin Fadhlullah al-Burhanpuri melalui teori Martabat Tujuh dalam kitab Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi. Kemudian, dalam al-Muntahi, Hamzah menyatakan bahwa wujud itu satu yaitu wujud Allah yang mutlak. Wujud itu bertajalli dalam dua martabat; ahadiyah dan wahidiyah. Dalam kitab Nur al-Daqa’iq juga dibahas tentang wujudiyah dan martabat tujuh.
Variasi teori Nur Muhammad dalam bentuk martabat tujuh boleh didapati pembahasannya dalam beberapa kitab yang ditulis oleh ulama Melayu Nusantara, antaranya adalah dibahas dalam kitab Siyarus Salikin yang dikarang oleh Syekh Abdul Shamad al-Palimbani; kitab Manhalus Syafi (Uthman el-Muhammady, 2003) yang dikarang oleh Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani; Pengenalan terhadap Ajaran Martabat Tujuh yang dikarang atau dinukilkan kepada Syekh Abdul Muhyi Pamijahan; dan kitab al-Durr al-Nafis yang di karang oleh Syekh Muhammad Nafis al-Banjari. Oleh itu, Syekh Muhammad Nafis al-Banjari dengan kitabnya Al-Durr al-Nafis ditegaskan oleh Wan Mohd Shagir Abdullah (2000) sebagai salah seorang ulama Banjar penganjur ajaran tasawuf Martabat Tujuh di Nusantara.
Dalam teori martabat tujuh dipahami bahwa dunia manusia merupakan dunia perubahan dan pergantian, tidak ada sesuatu yang tetap di dalamnya. Segalanya akan selalu berubah, memudar, dan setelah itu akan mati. Oleh karena itulah, manusia ingin berusaha mengungkap hakikat dirinya agar dapat hidup kekal seperti Yang Menciptakannya. Untuk mengungkap hakikat dirinya, manusia memerlukan seperangkat pengetahuan batin yang hanya dapat dilihat dengan mata hati yang ada dalam sanubarinya. Seperangkat pengetahuan yang dimaksud adalah ilmu ma‘rifatullah. Ilmu ma’rifatullah merupakan suatu pengetahuan yang dapat dijadikan pedoman bagi manusia untuk mengenal dan mengetahui Allah. Ilmu ma‘rifatullah terbahagi menjadi dua macam, yaitu ilmu ‘makrifat tanzih’ (transeden) dan ‘ilmu makrifat tasybih’ (imanen). Tuhan menyatakan diri-Nya dalam Tujuh Martabat, yaitu martabat pertama disebut martabat tanzih (la ta‘ayyun atau martabat tidak nyata, tak terinderawi) dan martabat kedua sampai dengan martabat ketujuh disebut martabat tasybih (ta‘ayyun atau martabat nyata, terinderawi). Yakni, martabat Ahadiyyah (ke-’ada’-an Zat yang Esa); martabat Ahadiyyah (ke-’ada’-an Zat yang Esa); martabat Wahidiyyah (ke-’ada’-an asma yang meliputi hakikat realitas keesaan); Keempat, martabat Alam Arwah; martabat Alam Mitsal; martabat Alam Ajsam (alam benda); dan martabat Alam Insan.
Ketujuh proses perwujudan di atas, keberadaannya terjadi bukan melalui penciptaan, tetapi melalui emanasi (pancaran). Untuk itulah, antara martabat tanzih (transenden atau la ta‘ayyun atau martabat tidak nyata) dengan martabat tasybih (imanen atau ta‘ayyun atau martabat nyata) secara lahiriah keduanya berbeda, tetapi pada hakikatnya keduanya sama. Seorang Sâlik yang telah mengetahui kedua ilmu ma‘rifatullah, baik Ma‘rifah Tanzih (ilmu yang tak terinderawi) maupun Ma‘rifah Tasybih (ilmu yang terinderawi), ia akan sampai pada tataran tertinggi, yaitu tataran rasa bersatunya manusia dengan Tuhan atau dikenal dengan sebutan Wahdatul-Wujûd. Huaian tersebut dapat dianalogikan dengan air laut dan ombak. Air laut dan ombak secara lahiriah merupakan dua hal yang berbeda, tetapi pada hakikatnya ombak itu berasal dari air laut sehingga keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisah.
Ketiga, di Nusantara, Hikayat Nur Muhammad merupakan teks yang populer sekitar abad ke-14 M. Ini dibuktikan dengan tersebar luasnya kitab yang berjudul Tarjamah Maulid al-Mustafa bertahun 1351 M (Ali Ahmad, 2005), dan disinggungnya wacana ini dalam kitab Taj al-Muluk, Qishah al-Anbiya, Bustan al-Salatin, atau Hikayat Ali Hanafiah.
Membandingkan apa-apa yang digambarkan oleh Guru Sekumpul berkenaan dengan Nur Muhammad dengan uraian-uraian ulama terdahulu tampaknya tidak jauh berbeda sebagaimana pandangan umum para sufi dalam melihat Nur Muhammad sebagai yang terawal diciptakan dan kemudiannya menjadi sumber dari segala penciptaan.
Di samping itu, menurut Guru Sekumpul maqam Nur Muhammad adalah maqam paling tinggi dari pencarian dan pendakian sufi menuju makrifah kepada Allah, tiada lagi maqam atau stasiun paling tinggi sesudah ini. Kesimpulannya, berbahagialah orang-orang yang dapat menyandingkan penyatuan sumber asal mula penciptaannya dalam satu harmoni, yakni Nur Muhammad, sebab ia berada pada satu kedudukan yang tinggi dan terbukanya segala hijab yang membatasinya.

Mati Di Dalam Hidul

ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
MATI DALAM HIDUP
"""""""""""""""""""""""""""""""""
Hidup ini hanyalah sekejapan mata, lebih cepat dari pada cepatnya sekelebatan pedang. Hidup di dunia hanya untuk mampir minum, saat orang melakukan perjalanan panjang.
------------------------------------------------------------------------
Dunia itu kecil, bahkan amat sangat kecil. Dunia bisa dimasukkan ke hati seseorang, bila hati orang itu disemayami Tuhan. Tuhan itu dhohir (nyata), tidak Maha gaib dan dalam manusia itu tersimpan rahasia-rahasia kegaiban.
------------------------------------------------------------------------
Semua yang ada dibumi, yang ada dihadapan manusia adalah wujud Allah.-> Itu semua adalah tajalli- Nya...Allah dan manusia saling bertajalli bila kasyaf telah tersibak.
------------------------------------------------------------------------
Mukhasafah dan musyahadah mukasyafah.. adalah ilmu tertinggi Allah untuk manusia yang di kehendaki-Nya. Dalam diri manusia dilembari bahan baku
------------------------------------------------------------------------
Saat Musa AS bertajalli pada Allah di Bukit Tursina adalah hakikat Allah haqqul – wujud Allah mengikuti manusia, menjadi mata, telinga, lisan, tangan dan kaki para hamba-Nya.
------------------------------------------------------------------------
Allah melebur dalam amanah di harta, istri / suami, anak, sawah, kebun dan pangkat/ derajat/ kemuliaan manusia. Milyaran cahaya yang ada di dunia adalah gerak- ilahi.
------------------------------------------------------------------------
Cahaya- cahaya itu adalah yang dhohir dan jelas serta bisa dinikmati manusia, tetapi seluruhnya tetap milik Allah.
------------------------------------------------------------------------
Rejeki, jodoh dan kemuliaan seseorang adalah garis–garis-Nya. Manusia berada dalam maksimalitas ikhtiar, dan keputusan terakhir tetap ada di Hakim Langit, akan tetapi, manusia harus berjuang sekeras-kerasnya agar panjang umur, kaya raya atau mendapatkan jodoh yang baik.
------------------------------------------------------------------------
Adam AS bertajalli di Arasy, Nuh AS di perahu, Isa AS di rahim Maryam, Yusuf AS di penjara dan Rosulullah SAW di Gua Hira, adalah hakekat bahwa Allah ternyata berada di tenggorokan manusia.
------------------------------------------------------------------------
Luasnya dunia tak lebih lebar dari rahim Maryam, perahunya Nuh AS atau luasnya Gua Hiro.
------------------------------------------------------------------------
Dunia itu sempit, asing, kotor dan kumuh, maka tugas Muhammad (yang ada di kita)-lah yang harus memperluas, membersihkan dan mensurgakan dunia ini. -> Bumi itu adalah tubuh kita. Dalam jasad (tubuh) ini, kita harus mati,
untuk hidup sesudah mati di keabadian yang tidak azali dalam bingkai cahaya Tuhan.
------------------------------------------------------------------------
Dunia adalah keranda kematian, sebagai kendaraan manusia yang mati tapi untuk hidup lebih panjang di pangkuan Tuhan (setelah mati dalam hidup).
------------------------------------------------------------------------
Bukit Thursina (tempat Musa AS bertajalli) adalah Puncak Sin (huruf Sin), karena THUR artinya Puncak.
------------------------------------------------------------------------
Musa AS adalah pengikut Muhammad (meski Musa AS lahir ribuan tahun sebelum Muhammad-Rosulullah), maka Musa AS bertajalli pada-Nya atas “restu” Rosulullah SAW.
------------------------------------------------------------------------
Dan SIN (dalam THURSINA itu) tiada lain adalah Muhammad-Rosulullah.
------------------------------------------------------------------------
Sedangkan Musa dan Muhammad hakekatnya berada lekat di ruh kita semua.-> Maka itu, kita semua harus terus menerus bertajalli pada Allah, sebagaimana Musa bertajalli di Bukit Thursina dan Rosulullah bertajalli di Gua Hira’.
------------------------------------------------------------------------
Saudaraku,
hidup hanya sekedipan mata, dunia ini sempit dan bisa dimasukkan ke hati kita, semua yang kita punya adalah amanah Allah, jabatan/ harta/ anak/ istri/ suami/ dll hanyalah fatamorgana, dan tujuan kita hidup adalah asyik di PANGKUAN TUHAN.
------------------------------------------------------------------------
Padang spiritualitas, itulah yang sedang kita lewati.
Kita mandi cahaya di danau spiritual. Cahaya Ilahi kita balurkan ke seluruh tubuh ruhani kita. Kita berenang di samudera bintang-gumintang yang berkerlap-kerlip membasahi terangnya ruh, jiwa dan aura kita.
------------------------------------------------------------------------
Saudara-saudariku,
di wejangan (untuk diri sendiri) ini, saya hanya berpesan dan berwasiat (kepada diri sendiri), bahwa kehidupan di dunia ini, kita, sesungguhnya tidak ada. Yang ada dalam hidup kita ini adalah/hanyalah asma’ ‘adhom Allah semata.
------------------------------------------------------------------------
Harta/pangkat/jabatan/gelar/anak/istri/suami/rumah mewah/kebun/mobil mahal dan apapun yangkita punya, hakekatnya hanyalah pantulan se-per-sekian trilyun Cahaya Allah. -> Itu semua adalah garis-garis yang telah dipatri Allah di Lauhil-Mahfudz.
------------------------------------------------------------------------
Kita punya rencana/bisa, Allah punya kuasa. Tapi... Allah sangat bangga pada manusia yang keras berikhtiar untuk merubah nasibnya. Karena, Allah menyukai manusia yang berhsil/ jaya menguasai dunia. -> Dunia tempat kita harus mati dalam hidup.
------------------------------------------------------------------------
Hidup kita adalah menuju kesempurnaan. Tidaklah seseorang menjadi sempurna bila tidak mengenal dirinya dan tidak mengetahui asal-muasal kejadian awal penciptaan (alam dan dirinya) oleh Allah SWT.
------------------------------------------------------------------------
Apa sesungguhnya yang Allah SWT ciptakan paling awal?.
Simaklah perkataan Abdullah bin Abbas : “YaRosulullah, apa yang paling awal (mula-mula) Allah SWT ciptakan?”.
------------------------------------------------------------------------
Rosulullah SAW menjawab: Sesungguhnya sebelum Allah SWT menciptakan segala sesuatu, Dia ciptakan Nur (cahaya) nabi-mu.
------------------------------------------------------------------------
Roh Nabi (Nur Muhammad) adalah yang paling awal diciptakan, sebagaimana kata Syech Abdul Wahhab Sya’roni: Bahwa Tuhan menjadikan Nabi Muhammad SAW dari Zat-Nya dan menjadikan ruh alam semesta dari NUR MUHAMMAD.
------------------------------------------------------------------------
Maka nyatalah bahwa Allah SWT menciptakan ruh alam semesta adalah dari Nur Muhammad. Dan Allah menjadikan “batang” tubuh adalah dari Adam, sebagaimana sabda Rosulullah SAW:
Aku adalah BAPAK dari segala ruh dan nabi Adam adlah BAPAK dari seluruh “batang” tubuh
------------------------------------------------------------------------
Dan bahwasanya juga Nabi Adam diciptakan dari tanah, seperti Firman Allah SWT : Aku jadikan manusia (ADAM) dari tanah (dan tanah itu dijadikan dari Nur Muhammad)
------------------------------------------------------------------------
Setelah kita menyakini bahwa kita tercipta dari NUR MUHAMMAD dan “batang” tubuh kita dari ADAM, maka masukkanlah NUR MUHAMMAD dan ADAM itu ke roh kita, maka Inshaa Allah, kita akan melihat makrifat ZAT WAJIBUL WUJUD kita yang suci (dengan sendirinya).
------------------------------------------------------------------------
Tubuh kita, yang terdiri dari NUR MUHAMMAD dan ADAM , dan kita, dalam wujud kasar, tentu tak dapat “melihat” Allah karena kefanaaNya.
------------------------------------------------------------------------
Tak ada jalan lain, kita dapat melihat ALLAH tentu harus dengan NUR MUHAMMAD. -> Dengan kita selalu mewujudkan NUR MUHAMMAD dalam diri kita, maka ALLAH akan selalu dalam diri kita maka akan terkuaklah rahasia dan hakekat pengasih, penyayang, mendengar, berkehendak; yang datang dari NUR MUHAMMAD itu, sebagaimana Firman Allah SWT:
Sesuatu yang datang padamu, yaitu HAQ, itupun dari Allah yaitu NUR.
------------------------------------------------------------------------
Betapa tingginya maqom (stasiun hati) di atas, yang telah dicapai para nabi/rasul Allah dalam mengenal Allah (makrifatullah) sehingga menenpatkan derajat kedekatan (al-qurb) dan penyatuan (al-wishol) mereka pada-Nya. Namun hal tertinggi dalam maqom itu tetap ada pada Rosulullah SAW (Nur Muhammad), sebagaimana yang termaktub dalm Hadits Qudsi; yang artinya:
“Aku jadikan ENGKAU karena AKU. Dan Aku jadikan seluruh alam Semesta ini dengan kebesaranmu ya Muhammad…..”
------------------------------------------------------------------------
Sabda Rosullah SAW:
Aku dari Allah dan seluruh orang mukmin adalah dari aku.
------------------------------------------------------------------------
Oleh karena kebesaran NUR MUHAMMAD maka seluruh manusia hendaklah meyakini dan menghayati keagungan CAHAYA MAHA CAHAYA MUHAMMAD tersebut. -> Jadikan ia sebagai pegangan dalam menjalani rel hidup guna menghindarkan diri dari segala dosa dan maksiat. Sehingga, kita bisa menemukan HAKEKAT DIRI (Jati Diri), yang ber-selimutkan NUR MUHAMMAD.
------------------------------------------------------------------------
Syech Abdur Rauf berkata:
“hakekat JIWAberasal dari NUR MUHAMMAD yang merupakan SIFAT. HakekatSIFATyaitu ZAT-Nya yang BAQA;. ZAT ini bukan HAYYUN, akan tetapi GHAIRU.
------------------------------------------------------------------------
Sebagian jumhur ulama berkata;
~“Asal-muasal DIRI itu adalah ROH.
~Saat ROH berada dalam tubuh maka disebut JIWA.
~Saat ROH keluar-masuk disebut NAPAS.
~Saat ROH mempunyai kehendak, disebut HATI,
~Saat ROH menginginkan sesuatu, disebut NAFSU.
~Saat ROH memilih sesuatu, disebut IKHTIAR,
~Saat ROH percaya sesuatu disebut IMAN
~Saat ROH berbuat sesuatu, disebut AKAL.
------------------------------------------------------------------------
Adapun POHON AKAL disebut ILMU. Akhirnya, dalam ILMU inilah sesungguhnya JATI DIRI manusia bersemayam, letak ZAHIR (WUJUD- ALLAH dan SABDA RASULULLAH (NUR MUHAMMAD) “menyatu” dengan “diri” manusia.
------------------------------------------------------------------------
Piranti-piranti itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lain dan yang meletakkan manusia sebagai makhluk TERMULIA di alam semesta raya ini.
------------------------------------------------------------------------
Simaklah sabda Rasulullah SAW:
Zahir (wujud) Tuhan itu dari batin hambaNYA.
Dhahir/wujud/ada-nya Allah SWT sesungguhnya bermula dari BATIN manusia.
Allah SWT mengikuti “persangkaan”dan kemauan si batin manusia sendiri.
------------------------------------------------------------------------
Simak juga Sabda Rasulullah SAW: Barang siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya.
------------------------------------------------------------------------
Dalam kita membahas hakekat JATI DIRI manusia, maka kita akan mengenal 3 hal, yaitu:
PERTAMA :
Kita harus mengetahui asal-muasal diri kita (yang telah dibahas terdahulu di atas)
------------------------------------------------------------------------
KEDUA :
Kita harus MEMATIKAN diri kita sendiri, sebagaimana Sabda Rasulullah SAW: Matikanlah (dirimu) sebelum kematian sendiri.
------------------------------------------------------------------------
TAFSIR:
Pengertian MEMATIKAN di atas, mengandung hakekat agar kita
WALA QADIRUN,
WALA ‘ALIMUN,
WALA HAYYUN,
WALA MURIDUN,
WALA SAMI’UN,
WALA BASYIRUN,
WALA MUTAKALLIMUN
(Tidak Kuasa, Tidak Mengetahui, Tidak HIdup, Tidak Berkehendak, Tidak mendengar, Tidak Melihat, Tidak Berkata-kata).
------------------------------------------------------------------------
Bahwa kita “mati”, tidak mampu berbuat apa-apapun. Kita “nol”/”kosong”/”tak berdaya apa-apa”. Yang BERKUASA, MENGETAHUI, HIDUP BERKEHENDAK, MELIHAT, MENDENGAR, dan yang BERKATA hanya Tuhan.
------------------------------------------------------------------------
Hakekatnya, manusia telah FANA’ dalam wujud dan maujud Tuhan (AHADIAYAH) melalui ILMU, yang DHAHIR TUHAN dan SABDA Rasulullah saw (nur muhmmad) “MENYATU” DALAM DIRI MANUSIA (BERSAMA Tuhan). Dalam ilmu akan QADIM segalanya.
------------------------------------------------------------------------
KETIGA:
Kita harus menghayati SIRR TUHAN (masuk dalam RAHASIA ALLAH) -> Maqom al Wishal, dalam wujud Tuhan (bersama manusia).
------------------------------------------------------------------------
Penghayatan ini haruslah diketahui dengan benar agar kita tidak terjerumus dalam dosa.
Untuk mencapai SIRR ALLAH harus tidak ada dosa.
------------------------------------------------------------------------
Dan pula harus menggunakan ILMU, puncak dari segala puncak untuk makrifatullah (sirr Allah) antara kita dan Allah SWT.
------------------------------------------------------------------------
Sebagaimana Firman Allah SWT.: Manusia adalah rahasia-Ku dan Aku adalah rahasia manusia.
------------------------------------------------------------------------
Firman Allah SWT:
Manusia adalah rahasia-Ku, dan rahasia-Ku adalah sifat-Ku, tiada lain dari-Ku
------------------------------------------------------------------------
Dalam SIRR TUHAN maka apa-apa yang dilakukan manusia:
napasnya, kehendaknya, hatinya, gerak kaki/tangannya, perkataannya dan seluruh perbuatannya adalah irodah dan qadiran (kehendak dan kuasa) Tuhan, sebagai wujud ahadiyah manusia dan Tuhan.
------------------------------------------------------------------------
Seperti Firman Allah SWT :
"Dan Dia selalu bersamamu sekalian".
------------------------------------------------------------------------
Tuhan bersamamu seakan/bagaikan warna-hitam dan putih pada mata manusia. Tuhan selalu bersama yang NAMPAK dalam alam semesta ini, seperti Sabda Rasulullah SAW.:
"Barang siapa melihat sesuatu maka dilihatnya Tuhan di dalamnya".
------------------------------------------------------------------------
Sayyina Abu Bakar RA berkata:
Tiada aku melihat sesuatu kecuali aku melihat Tuhan (disitu) sebelumnya.
------------------------------------------------------------------------
Sayyidina Utsman Bin Affan RA berkata: Tiada aku melihat sesuatu dan aku melihat Tuhan bersamanya.
------------------------------------------------------------------------
Dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA juga berkata:
Tiada aku melihat sesuatu dan aku melihat Tuhan padanya.
------------------------------------------------------------------------
Dari dalil-dalil di atas, nyatalah bahwa hakekat segala sesuatu yang terlihat di alam semesta, Tuhan selalu ada bersamanya. Tuhan selalu “menyatu” (intrinsik) dan inner dengan segala sesuatu yang nampak/dhahir.
------------------------------------------------------------------------
Sesungguhnya, “martabat” Tuhan terdiri atas 3 hal, yaitu:
1.AHADIYAT, yakni ZAT TUHAN.
2.WAHDAH, yakni SIFAT TUHAN.
3.WAHDANIYAH, yakni AF’AL TUHAN ( QODIM DAN AZALI ).
------------------------------------------------------------------------
Adapun “ martabat” alam (hamba / yang tercipta) terdiri atas 4 hal, yaitu :
1.ALAM RASUL
2.ALAM MISAL
3.ALAM AJSAM
4.ALAM INSAN
------------------------------------------------------------------------
Manusia ( Muhammad )adalah makhluk tuhan yang bermartabat di posisi WAHADIYAH, yakni berada pada AF’AL TUHAN, yang QADIM / AZALI (NISCAYA ).
Nama Muhammad adalah sesuatu yang suci dengan sendirinya karena ada AF’AL TUHAN
------------------------------------------------------------------------
Nama Tuhan dalam tubuh kita terwujud dalam kelima jari:
1.Kelingking adalah huruf ALIF.
2.Jari manis adalah huruf LAM AWAL.
3.Jari tengah adalah huruf LAM AKHIR.
4.Telunjuk dan ibu jari adalah huruf HA.
------------------------------------------------------------------------
Perlu diketahui bersama bahwa dalam diri manusia terdapat : ~NAPAS yang merupakan unsur ANGIN.
~TIDUR ( mati – kecil ) yang terjadi pada manusia adalah wujud AIR.
~DARAH Adalah unsur API.
------------------------------------------------------------------------
Nama Muhammad pada tubuh kita tetap terdiri dari 4 ( empat ) huruf juga, yaitu :
1.KEPALA adalah huruf MIM AWAL.
2.TUBUH dan TANGAN adalah huruf HA.
3.PINGGANG adalah huruf MIM AKHIR.
4.KAKI adalah huruf DAL.

🙏🙏🙏wasalam..

DZIKIR MARIFAT






                            "ZIKIR MAKRIFAT"


Bagaimana cara berdzikir kepada Allah SWT sehingga kita siap untuk bertemu dengan-NYA?

Dzikir adalah sebuah aktivitas yang kaya akan aspek esoteris.
Ia adalah bagian laku yang harus ada dalam sebuah perjalanan suluk menempuh jalan ruhani untuk mendekatkan diri dengan Tuhan Semesta Alam.
Dalam prakteknya, berdzikir harus mengikuti aturan-aturan dan adab tertentu sesuai dengan cara yang dituntunkan oleh para guru spiritual sepanjang masa.

Pada kesempatan kali ini, akan dipaparkan adab berzikir dan tata cara zikir dengan harapan agar kita mendapatkan pengetahuan bagaimana berdzikir yang khusyuk agar kita bisa bertemu Allah SWT.

1. Membaca lafaz LA ILAHA ILLA ALLAH.
Artinya: Tiada Tuhan selain Allah.
Zikir ini disebut zikir NAFI ISBAT. Paling tidak dibaca 100 kali setiap hari terutama dibaca setelah sholat fardhu.
Khususnya setelah Maghrib, Isya dan setelah sholat subuh.
Lafaz ILLA ALLAH ini disebut Isbat yang artinya pengecualian atas segala sesembahan kecuali hanya Allah SWT.

2. Membaca lafaz ALLAHU. Zikir ini disebut ISMU AL-ASMA, dibaca sebanyak 33 kali sehabis sholat fardhu, terutama setelah sholat Isya.

3. Membaca lafaz zikir HUWA ALLAH.
Zikir inilah yang disebut sebagai zikir GHAIB AL ISMI.
Zikir ini dibaca setiap hari sebanyak 33 kali, setelah sholat fardhu, terutama setelah sholat Isya.

4. Membaca zikir HUWA, HUWA.
Zikir ini disebut sebagai zikir GHAIB AL GHAIB.
Zikir ini dibaca sebanyak 34 kali setelah sholat fardhu, sehingga jumlahnya (total item 2,3,4) sebanyak 100 kali.

Adapun gerakan dalam melafazkan zikir NAFI ISBAT tersebut haruslah mengikuti aturan sebagai berikut:

1. Ketika membaca lafaz LA, maka dengan gerakan kepala, lafaz LA tersebut dimulai dari bahu kiri menuju ke bawah ke arah perut, kemudian diputarkan mengelilingi tali pusat lalu diteruskan ke arah atas menuju bahu kanan;

2. Pada waktu berada di bahu kanan itulah lafaz ILAHA diucapan sambil kepalanya dimiringkan ke arah belikat kanannya;

3. Sambil kepala ditekan ke arah hati sanubarinya, lafaz ILA ALLAH diucapkan dengan penekanan pada sudut kiri bawah dada.

TIGA TAHAP BERDZIKIR

Ada tiga tahap adab berdzikir.
Pertama, ada lima perkara sebelum berdzikir.
Kedua, dua belas perkara pada saat mengerjakan zikir dan ketiga, ada tiga perkara setelah berdzikir.

Lima perkara yang harus dilakukan sebelum berdzikir adalah sebagai berikut:

1. Bertaubat kepada Allah SWT
2. Mandi atau mengambil air wudhu
3. Diam sambil mengkonsentrasikan diri pada zikir dengan mengikhlaskan hati sebelum berdzikir
4. Hatinya meminta tolong kepada para wali-wali Allah
5. Hatinya meminta tolong kepada Nabi Muhammad SAW

Sedangkan dua belas perkara saat berzikir adalah sebagaoi berikut:

1. Duduk bersila di tempat yang suci
2. Meletakkan kedua tangan di atas kedua paha
3. Membuat bau harum di tempat zikir
4. Memakai pakaian yang halal dan pakai wangi-wangian
5. Pilih tempat yang tenang dan sunyi
6. Pejamkan mata
7. Bayangkan wajah wali Allah di antara kedua mata agak maju ke depan
8. Tetap istiqomah baik dalam keadaan ada orang maupun sepi
9. Tulus ikhlas hatinya saat berdzikir
10. Dzikir utama adalah LA ILAHA ILLA ALLAH
11. Berusaha menghadirkan ALLAH SWT dalam setiap mengucapkan dzikir LA ILAHA ILLA ALLAH
12. Meniadakan wujud lain selain Allah.

Sedangkan tiga macam adab lainnya setelah selesai berdzikir adalah:

1. Diam sejenak sesaat setelah usai melakukan dzikir dan tetap diam di tempat
2. Mengatur dan mengembalikan nafas seperti semula
3. Menahan diri untuk minum air

Sangat dianjurkan untuk melakukan pemutihan diri dari semua amalan negatif sebelum menjalankan ritual dzikir.
Caranya adalah menjalankan PUASA selama 7 hari.
Usai menjalankan puasa baru kemudian menjalankan amalan zikir rutin.
Bagi para pejalan spiritual yang ingin lebih mendalami laku suluknya, maka disarankan untuk melakukan dzikir dengan cara:

1. BERTAPA (Uzlah).
Ini adalah syarat agar laku suluk kita semakin bagus. Uzlah adalah mengasingkan diri untuk sementara waktu dari keramaian dan dari pergaulan sehari-hari.
Ini biasa dilakukan oleh murid-murid tarekat di masa silam.
Bila anda berkesempatan untuk uzlah, silahkan pergi ke gunung atau hutan dan carilah sebuah gua. Siapkan bekal makan dan minum yang cukup untuk sekian lama Anda inginkan. Pedoman selesainya uzlah adalah KEMANTAPAN HATI setelah bertemu dengan apa yang dicari.
Namun kini, uzlah dianggap terlalu berat sehingga sebagai penggantinya adalah menjauhkan diri dari segala bentuk perbuatan maksiyat dan terlarang syariat.

2. NGAWULO (Mengabdi). Mengabdi pada “sang guru” selama berbulan-bulan atau mungkin juga hingga bertahun-tahun.
Dalam konteks sekarang, cukup kita mengabdi kepada instruksi-instruksi yang diyakini benar dan tawadhu’ (merendahkan diri) untuk tidak mengaku dirinya paling benar dibanding diri yang lain.

3. AMAL SHOLDAQOH. Mengadakan amal shodaqoh dan infaq sesuai dengan kemampuan.
Ini sebuah bentuk pengorbanan dan kerelaan melepaskan apa yang dimiliki karena sesungguhnya kita hakekatnya tidak memiliki apa-apa.
Hanya DIA yang Maha Memiliki.

Dalam keadaan bersih lahir batin dan untuk sementara mengosongkan diri dari pengaruh duniawi itulah kita menghadap Sang Khalik Yang Maha Suci. Saat bersuluk ini, kita diharapkan untuk selalu menjauhi pikiran kotor dan suci dari batin yang penuh prasangka negatif (suudzon) dan menggantinya dengan prasangka baik (husnudzan) kepada Allah dan kita yakin bahwa hanya DIA-lah sebaik-baiknya tempat bergantung.
HASBUNA ALLAH WA NI’MAL WAKIL, NI’MAL MAULA WA NI’MA N-NASIR (Cukuplah Allah sebagai tempat bersandar bagi kami dan Dialah tempat memohon pertolongan manusia).

Apa yang akan terjadi bila kita sudah melengkapi laku suluk mulai Dzikir dan Uzlah secara lengkap? Silahkan ditunggu kejadian-kejadian gaib luar biasa yang akan merubah hidup Anda selamanya.

🙏🙏🙏WaSalam..

RAHASIA MANUNGGALING KAWULA GUSTI

          "Rahasia Manunggaling Kawula Gusti"

Diyakini bahwa karena belas kasih-Nya maka sejak manusia diciptakan, Tuhan selalu menyertai manusia sebagai ciptaan paling sempurna yang diutus menjadi “kepanjangan tangan Tuhan” supaya hidup rukun dengan sesama dan alam semesta sebagaimana diteladankan Tuhan, untuk memuliakan nama-Nya. Karena kasih-Nya (katresnan Dalem Gusti), Tuhan tidak otoriter tetapi menghargai manusia sebagai pribadi utuh yang diberi kebebasan. Kebebasan inilah yang membuat perjalanan hidup manusia menjadi berbeda satu dengan yang lain.
Upaya diri pribadi manusia yang terbuka hatinya menanggapi “Manunggaling Gusti Kawula” ini dilakukan secara sendiri-sendiri atau berkelompok dengan laku glenikan sehingga menghasilkan ngelmu klenik yang disebut ajaran (piwulang atau kawruh) “Manunggaling Kawula Gusti”, sebagai berikut :

· Sesungguhnya pengetahuan manusia tentang “dirinya sendiri” masih sangat dangkal daripada “diri sendiri sejati” yang diberikan Sang Pencipta. Atau dengan kata lain Sang Pencipta mengenal diri manusia lebih baik daripada manusia mengenal dirinya sendiri, Tuhan welas asih kepada manusia lebih daripada manusia mengasihi dirinya sendiri.

· Bahwa perbuatan yang selama ini dilakukan kepada Tuhan, sesama dan alam semesta yang menurut manusia sudah baik ternyata masih sebatas ragawi yang kasad mata penuh pamrih dan pilih kasih (mbancindhe mbansiladan) hanya untuk kepentingan manusia (dirinya sendiri). Contoh : Ketika seseorang beribadah kepada Tuhan menganggap yang dilakukan sudah cukup (karena sikap dan perbuatannya tidak berubah), tetap melakukan kekerasan phisik / non phisik, pemarah, dlsb karena dilakukan secara normatif, agamis tanpa hati sejati. Demikian pula ketika perbuatan baik kepada sesama tidak mendapatkan balasan, tanggapan semestinya atau bahkan sama sekali tidak ditanggapi menjadi kecewa, marah, tersinggung, dlsb. Padahal kasih yang diteladankan Tuhan tidak pernah menuntut balas dan pilih kasih : oksigen untuk bernapas manusia, hangatnya matahari, segarnya air hujan diberikan kepada setiap orang secara cuma-cuma tanpa membedakan status, etnis/ warna kulit, agama, dlsb.

· Untuk menggali kesadaran diri hati sejati diperlukan percaya sejati kepada Tuhan. Percaya sejati berarti berserah diri tanpa reserve, melepaskan nafsu ingin memiliki dan kemauan sendiri kepada, kehendak Tuhan, semua yang ada dipersembahkan sebagai alat-Nya memuliakan nama-Nya.

· Niat berserah diri atau pasrah kepada Tuhan hanya dapat diwujudkan dengan laku batin meneng atau diam terpusat di hati : tersenyum, rileks melepaskan semua ketegangan tubuh dan pikiran. Laku meneng mengarahkan hati kepada Tuhan dilakukan secara tekun tanpa target, tanpa pamrih dan tidak memaksakan diri, batin menjadi wening (jernih). Rasa ati wening ini menumbuhkan kesadaran hati sejati bahwa Tuhan sungguh hadir mengasihi dirinya. Buahnya hati sejati menjadi dunung (mengerti) bahwa hidupnya harus menyatu dengan Sang Pencipta. (makna kebatinan).

· Kesadaran Manunggaling Kawula Gusti berarti harus mau meneladani kasih-Nya yang diungkapkan dalam hidup sehari-hari semakin berbelas kasih sejati kepada sesama dan alam semesta ; memaafkan kesalahan, menyesal dan mohon maaf kepada Tuhan dan sesama atas segala kesalahan (yang sering membuat tertekan hatinya), menerima orang lain dan keadaan / peristiwa seperti apa adanya, tidak akan mempengaruhi orang lain dengan paksa, merubah sikap kekerasan menjadi tanpa kekerasan, dari permusuhan menjadi damai, dari hidup dengan berbagai kepalsuan menjadi jujur dan apa adanya, dari sombong, egois dan menonjolkan diri menjadi rendah hati dan peka akan perasaan orang lain, dari serakah menjadi ikhlas untuk berbagi, berbela rasa, melestarikan alam semesta, tidak pernah mengadili orang lain, mengritik, memaksakan kehendak, dlsb. Relasi spiritual Kawula Gusti ini harus bermuara pada sikap hormat atau ngajeni sesamining gesang. Sikap ini membuahkan relasi welas asih sejati dalam persaudaraan.

· Laku batin mutlak harus dilakukan, karena tanpa laku batin terpusat di hati (bukan konsentrasi pikiran yang menegangkan) maka orang hanya mengerti sebatas wacana tetapi tidak menghayati. Tuhan hanya dapat diabdi dengan cinta dalam perbuatan nyata, tidak hanya dipikirkan. Hanya dengan perbuatan belas kasih sejati Tuhan dapat diperoleh, tetapi dengan pikiran tidak mungkin. Sebagai pengandaian, untuk memperoleh prestasi olah raga diperlukan ketekunan latihan, demikian pula untuk dapat menanggapi kasih-Nya diperlukan ketekunan olah batin yang diawali dengan senyum, sikap rileks menghilangkan ketegangan tubuh dan pikiran tanpa memaksakan diri, untuk dapat menyadari kehadiran-Nya.

· Sikap percaya dan berserah diri manunggal dengan Tuhan ini bisa diandaikan sebagai hak dan kewajiban, ketika orang telah memenuhi kewajibannya dengan baik pasti haknya akan diperoleh. Apabila orang sungguh percaya kepada Tuhan, mengarahkan hati sejati kepada-Nya yang diungkapkan dengan perbuatan baik penuh welas asih, maka orang akan dengan tegar dapat menerima setiap keadaan tanpa harus melawan dengan memaksakan kehendak, segala sesuatu yang negatif dari luar dirinya diterima dengan senyum sebagai hiburan, karena percaya bahwa kuasa welas asih & katresnan Dalem Gusti yang berkarya, diiringi ucapan syukur. Tidak ada rasa irihati, , takut, kuatir, tegang, dihantui rasa bersalah, melainkan percaya Tuhan pasti akan mengatur memberikan kesejahteraan sejati bagi hidupnya. Demikian juga ketika berdoa memohon kepada-Nya, yakin segala permohonannya telah dikabulkan. Semua ini membuahkan rasa hati gembira, berani menghadapi kenyataan hidup, dalam segala hal selalu bersyukur (sumringah bingah, menapa menapa wantun, syukur lan beja ingkang langgeng).

· Seseorang yang sudah mampu menjalani hidup menyatu dengan Tuhan atau “Manunggaling Kawula Gusti” berarti sudah menanggapi “Manunggaling Gusti Kawula” dengan baik. Buahnya orang menjadi sehat secara psikis karena selalu berpikir positip dan tenang atau sareh. Secara emosi menjadi lebih sabar, tidak pemarah, tidak akan putus asa, kecewa dan tidak mudah tersinggung karena yakin semua yang negatif dari luar tidak akan mempengaruhi dirinya (nyawang karep). Secara sosial menjadi mudah bergaul dan menerima orang lain dan keadaan seperti apa adanya tanpa menimbulkan emosi negatip. Akhirnya, dengan didukung pola makan yang benar dan gerak badan cukup, semua sikap tersebut menyehatkan raga karena metabolisme tubuh normal tanpa diganggu emosi negatip yang mengakibatkan peredaran darah tidak lancar, detak jantung tidak teratur, tekanan darah naik.

· Meskipun ajaran ini tentang relasi pribadi manusia dengan Tuhan, tetapi memiliki nilai sosial dan kemanusiaan tinggi, karena sikap berserah diri kepada Tuhan selalu diungkapkan dengan perbuatan belas kasih kepada sesama dan alam semesta, dengan hati sejati sebagai nakhodanya. Ajaran ini juga upaya mengakhiri kekerasan, karena sesungguhnya kekerasan yang dilawan dengan kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru. Ajaran “Manunggaling Kawula Gusti” ini sangat pas untuk bekal hidup jaman ini dimana orang hanya dibiasakan menggunakan otak kiri / kognisi yang menarik manusia kepada hitung-hitungan tambah dan kurang, konsumerisme, hedonisme, normatif yang hanya ragawi dan kasad mata tanpa hati sejati. Akibatnya orang ingin cepat memperoleh hasil secara instant mengabaikan proses, untung rugi, yang disadari atau tidak mempengaruhi hidup spiritual keagamaan, persaingan, kalah menang, pembenaran diri, egoisme yang berbuntut konflik dengan kedok agama, suku dan ras, penguasaan sumberdaya alam tanpa ada kemauan melestarikan dan berbagi, kekerasan dlsb yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan sejati yang adil dan beradab…

🙏🙏🙏wasalam..

2. SEDULUR PAPAT LIMO PANCER

              2    "Sedulur Papat Lima Pancer"
     
Sedulur Papat Lima Pancer
Sejak zaman kuno, spiritualitas Jawa mengakui bahwa setiap orang mempunyai saudara-saudara halus yang mendampinginya.
Mereka tentu tidak kelihatan oleh mata biasa ,karena mereka tidak berbadan fisik.
Mereka itu ada dan berbadan halus yang berujud sinar.
Dalam pemahaman spiritualitas universal dinyatakan bahwa setiap manusia selalu didampingi oleh spirit guide atau pengawal suksma, bisa satu pengawal bisa lebih.
Para guides atau pengawal juga berasal dari dunia suksma.
Seperti kita telah fahami bahwa manusia sejati adalah suksma yang memakai pakaian badan halus dan badan fisik yang sesuai. Suksma atau jiwa hidup langgeng atau immortal, yang rusak adalah raga.
Bila raga rusak, maka suksma/jiwa kembali kealam asal atau dalam bahasa sehari-hari disebut meninggal dunia.
Orang Jawa kuno bilang : Kembali kemula-mula, pulang keharibaan Gusti, Tuhan.
Manusia hidup yang berujud bleger- raga eteris dan fisik, didalamnya berupa suksma, yang dalam spiritualitas sering dipanggil pribadi sejati atau Higher Self dan pada penampilan luarnya berujud manusia yang beraga.
( Mengenai Pribadi Sejati atau Higher Self, ada sementara spiritualis muda kita, yang menyebutnya dengan “ Kembaran Saya”, mereka berdalih pada waktu ketemu dengan Pribadi Sejati, rupa dan bentuknya persis seperti dirinya).

Menurut kawruh Kejawen, pengetahuan spiritual Jawa yang merupakan satu kebenaran dan kenyataan, setiap manusia selalu didampingi oleh saudara-saudara halusnya.
Dari begitu banyak bibit kehidupan berupa sperma sehat calon Bapak yang masuk dalam gua garba ibu, hanya satu yang menjadi janin dan ketika sudah 9/sembilan bulan dikandungan ibu, terlahir sebagai bayi.
Bisa juga dua atau lima , kalau terjadi bayi kembar. Jadi banyak bibit kehidupan yang tidak mendapatkan kesempatan untuk terlahir sebagai bayi manusia.
Sedangkan yang telah menjadi bayi , tumbuh menjadi manusia untuk menjalani kehidupan didunia ini.
Oleh karena itu, kita yang menjadi manusia , wajib mensyukuri hidup ini dan mengisi kehidupan didunia ini dengan benar, baik dan berguna bagi sesama dan jagat ini.
Manusia dalam kiprahnya menjalani kehidupan dibumi , selalu didampingi oleh saudara-saudara Gaibnya kapanpun dan dimanapun dia berada.
Para saudara halus ini mendapatkan tugas dari Sang Pencipta Kehidupan, Gusti, Tuhan untuk membantu dan menjaga saudaranya yang pada saat ini menjadi manusia dibumi.
Siapa saja saudara Gaib itu ?
Sedulur alus yang tidak berbadan fisik itu menurut kepercayaan tradisional Jawa selalu membantu saudaranya yang manusia dengan jalan menyertai, melindungi, membantu supaya saudaranya yang manusia menjalani kehidupannya dengan selamat, sehat, sejahtera selama hidup dibumi ini.
Tugas sedulur alus tersebut sesuai dengan paugeran ketentuan dari Gusti.
Saudara Gaib itu jumlahnya banyak, mari kita coba mengenali mereka :
Mar dan Marti, biasa dipanggil Mar Marti.
Mereka adalah saudara manusia yang lebih tua.
Mereka tidak ikut dilahirkan melalui gua garba ibu.
Mar yang paling tua merefleksikan perjuangan ibu sewaktu melahirkan bayi.
Dia adalah daya, kekuatan yang kuat, hebat untuk hidup dan melindungi hidup.
Marti merefleksikan perjuangan ibu setelah melahirkan. Perjuangannya berhasil, lega rasanya.
Oleh karena itu Mar Marti tinggi pangkatnya, sebagai Raja dan Ratu.
Secara mistis warnanya berupa cahaya putih bersih dan kuning muda jernih.
Mar Marti membantu manusia yang dikawalnya ,hanya untuk hal-hal yang penting, dalam keadaan yang benar-benar diperlukan. Karena derajat Mar Marti adalah bagai Raja dan Ratu, maka manusia yang meminta bantuan mereka adalah yang punya perbuatan, pikiran dan rasa yang jernih.
Menurut istilah Kejawen adalah manusia yang telah melakukan tapabrata terlebih dahulu, yang sudah melakukan laku spiritual yang sungguh-sungguh.
Sedulur papat kalimo pancer
Saudara empat yang kelima pancer, yaitu :
»Kakang Kawah : Kakak Kawah, yang keluar dari rahim ibu, sebelum sibayi.
Warnanya putih, tempatnya di Timur.
»Adi Ari-ari : Adik ari-ari, yang keluar dari rahim ibu, sesudah si bayi.
Warnanya kuning, tempatnya di Barat.
»Getih : Darah yang keluar dari rahim ibu sewaktu melahirkan. Warnanya merah, tempatnya di Selatan.
»Puser : Pusar, yang dipotong sesudah kelahiran bayi.
Warnanya hitam, tempatnya di Utara.
»Pancer : Pancer adalah bleger ,wujud badan jasmani yang ada ditengah keempat saudara yang lain yang tidak punya raga fisik.
Sedulur papat kalimo pancer juga disebut Keblat papat, kalimo tengah ,artinya : Kiblat empat, yang kelima ditengah.
( Mengenai kiblat: Timur, Selatan, Barat, Utara dan Tengah, ini mengandung pemahaman tersendiri dalam spiritualitas Kejawen, yang akan diuraikan dilain kesempatan).
Para saudara halus ini mempunyai tugas untuk membantu manusia didalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Selanjutnya ada saudara-saudara halus yang dipanggil sebagai :
Kabeh kadang ingsun kang metu saka margo ino lan kang ora metu saka marga ino.
Semua saudaraku, yang ada melalui rahim ibu dan yang tidak melalui rahim ibu.
Kabeh kadang ingsun kang ora katon miwah kang ora karawatan.
Semua saudaraku yang tidak kelihatan dan tidak terawat.
Kabeh kadang ingsun kang lahir bareng sadino sawengine karo aku.
Semua saudaraku yang lahir siang malam bersamaku.
Jadi, memang benar saudara halus manusia itu ada banyak, mereka juga sering disebut sedulur sinarawedi- saudara terdekat.
Dari sudut kebatinan, ada yang menyebut mereka makdum sarpin.
Perlu dikenal
Para pinisepuh Kejawen mengajarkan supaya kita semua mengenal dan syukur kalau mau ngerteni memahami saudara halus kita.
Mereka itu selalu mengawal dan membantu kita, disadari atau tidak, karena mereka dapat tugas dari Gusti, Tuhan.
Tentunya ,si manusia juga harus berbuat dan berkemauan yang baik.
Perlu diketahui bahwa para saudara halus tersebut merasa senang kalau kita mengetahui kehadiran dan keberadaan mereka, terlebih kalau kita memperhatikan mereka.
Kalau mereka merasa dianggap dan diperhatikan tentu mereka akan lebih rajin dan giat membantu.
Mereka senang bila setiap saat diajak berpartisipasi dalam setiap kegiatan kita, seperti : makan, minum, belajar, bekerja, menyopir, mandi dsb.
Contoh mengajak saudara halus kita, katakan dalam batin :
“ Semua saudara halusku ( secara lengkap adalah : Kakang kawah, adi ari-ari, getih, puser, kadang ingsun papat kalimo pancer, kabeh kadang ingsun kang metu saka margo ino lan kang ora metu saka margo ino, kabeh kadang ingsun kang ora katon miwah kang ora karawatan, kabeh kadang ingsun kang lahir bareng sadino sawengine karo aku), saya mau makan, bantulah saya – Aku arep mangan, ewang-ewangono. Artinya supaya kita dibantu bisa makan dengan selamat dan makanan itu juga baik untuk kita.
“ Semua saudara halusku, bantulah saya menyopir mobil ini atau naik motor ini supaya selamat dan lancar sampai ke kampus atau ke kantor”.
Artinya supaya dibantu supaya tidak ada halangan maupun kecelakaan.
“ Semua saudara halusku, bantulah saya dalam bekerja, sehingga pekerjaan saya lancar dan benar”.
Perlindungan pada waktu tidur
Pada waktu tidur, kita tidak bilang supaya dibantu tidur.
Nanti mereka semua tidur dan tidur itu bukan kebutuhan mereka. Katakan dalam batin : “ Kabeh sedulur alusku, aku arep turu, reksanen aku sajerone turu, yen ana kang ngganggu utawa mbebayani tandangono utawa gugahen aku”.
Artinya :
“ Semua saudara halusku, saya mau tidur, lindungilah saya.
Kalau ada yang mengganggu atau membahayakan, kamu atasi atau kamu bangunkan aku”.
Sambil merebahkan badan ditempat tidur, sebelum menutup mata, letakkan telapak tangan kanan diatas dada , menyentuh jantung, katakan dalam batin : “Saya juga hidup “–“ Aku iyo urip”.
Berdasarkan pengalaman, biasanya tidur nyenyak, selamat, bangun tidur sehat, cerah.
Akrab dengan saudara halus
Hubungan akrab dengan semua saudara halus bisa dilakukan dengan biasa melakukan komunikasi.
Seperti juga dalam pergaulan antar manusia, kalau sering terjadi komunikasi, tentulah hubungannya menjadi lebih terbiasa dan bahkan menjadi akrab.
Kalau sudah akrab, bisa terjadi hubungan yang saling membantu.
Jalinan komunikasi pertama adalah : Anda sering menyebut nama mereka secara lengkap, satu per satu.
Ini anda lakukan karena anda perlu minta dibantu atau dilindungi. Dengan menyebut mereka dan minta bantuan itu artinya anda mengakui keberadaan mereka dan bahwa mereka adalah saudara-saudara anda yang anda sayangi dan perlukan.
Jadi menyebut mereka dan minta kerjasama mereka, itu tidak merendahkan mereka maupun anda, itulah kenyataan yang digariskan Gusti, sesuai Kejawen. Ini adalah tindakan terhormat karena anda dan saudara-saudara anda adalah dari satu sumber yang sama yaitu atas karsa Gusti.
Seandainya anda, tidak pernah menyapa mereka, maka sebagai sesama makhluk mereka juga merasa bahwa keberadaan mereka tidak anda perhatikan dan perlukan.
Mereka akan tidak antusias mendampingi, melindungi dan membantu anda, meskipun itu tugas alami mereka atas kehendak Gusti.
Maka jangan heran kalau kita lihat banyak teman, kenalan kita yang hidupnya kesandhung-sandhung – banyak menghadapi kendala, sial, nasib jelek dan sebagainya. Mungkin saja mereka tidak dibantu secara optimal oleh saudara-saudara halusnya sendiri, selain ada masalah karma.
Hendaknya diketahui bahwa para saudara halus itu berada didunia dengan tanpa raga fisik, itu adalah juga latihan bagi mereka, bila nanti satu ketika ,mereka diperbolehkan menjalani kehidupan sebagai manusia oleh Gusti, Tuhan.
Bila mereka bisa menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik, itu harapan lebih besar dan lebih cepat untuk muncul dibumi sebagai manusia.
Mereka juga senang kalau manusia yang dikawal sukses, maju dan baik kehidupannya. Sebaliknya ,bila yang dikawal tidak baik, tidak memahami mereka, mereka juga punya rasa bosan. Lalu timbul perasaannya :” Buat apa mendampingi lama-lama manusia seperti ini.
Lebih baik dia cepat dipanggil kembali kealam asal yaitu alam suksma dan kamipun juga bebas tugas dan juga kembali kealam suksma.
Disana kami menanti anugerah Gusti untuk diciptakan sebagai manusia dan boleh hidup dibumi sesuai ketentuan”.
Komunikasi dan ajakan kepada saudara halus yang utama adalah ketika kita manembah kepada Gusti.
Kita ajak mereka, disebut namanya satu persatu untuk membantu dan melindungi kita dan penyembahan kita, semadi kita, meditasi kita diperkenankan oleh Gusti.
Pendekatan kita yang kedua adalah ketika kita melakukan laku spiritual untuk memperteguh iman kita untuk percaya, berbakti dan mendekatkan diri kepada Gusti. Ajaklah saudara halus untuk membantu dan melindungi.
Pendekatan ketiga supaya akrab dengan saudara halus adalah supaya mereka membantu kita dalam menjalankan tugas kehidupan yang baik dan benar supaya berhasil dan tidak terkena halangan atau goda yang negatif.
Pendekatan yang lain ketika kita mengajak saudara halus kita membantu kita supaya kita berhasil mencapai cita-cita dan keinginan yang baik.
Menurut pengalaman para pinisepuh dan yang sudah akrab dengan saudara-saudara halus, sebenarnya mereka itu masing-masing punya kekhususan a.l .:
Mar Marti, hanya membantu dalam hal yang sungguh perlu dalam kehidupan seseorang. Kakang Kawah dan Adi Ari-ari adalah yang banyak membantu dalam memenuhi kehendak yang baik.
Kakang Kawah selalu membantu sebaik-baiknya terjadinya satu cita-cita/ keinginan, sedangkan Adi Ari-ari selalu mendukung dan menyenangkan.
Getih membantu menggerakkan gairah dan semangat, Puser memperhatikan kemauan dan kebutuhan duniawi.
Sedangkan bagi saudara-saudara spiritualis yang sudah serasi hubungannya dengan Pribadi Sejati atau Higher Self, Pribadi Sejati bukan untuk permintaan apapun ,apalagi yang bersifat keduniawian,tetapi untuk sumarah – berpasrah total kepada Gusti.
Pada tataran ini seorang manusia sejati sebenarnya telah memasuki tataran kesadaran spiritual yang jarang digapai oleh orang biasa.
Mengenai kesadaran- consiousness yang berupa bawah sadar, kesadaran normal dan kesadaran tinggi, akan kita bicarakan kemudian.

NB: . UNTUK MINTA BANTUAN SEDULUR PAPAT KELIMO PANCER
“Kakang kawah adi ari-ari sedulur tua papat lima pancer, sing dumunung ana ing awak ingsun, jungkungana laku ingsun, bisa kasembadan apa sing ana ati lan pikiran ingsun yaiku…(sebutkan permintaan anda apa contoh:bisa ketemu kelawan sira sedulur kabeh), kanti kalis ing sambekala padang panjang…Amien…”
Semakin lama belajar ajaran-ajaran leluhur Jawa, kita akan semakin terkagum-kagum pada para nenek moyang.
Ilmu yang mereka ajarkan tidak bertentangan dengan agama, bahkan sesuai dan memperkaya pemahaman agama yang kita anut.
Sayangnya banyak yang masih memandang sebelah mata ajaran para leluhur Jawa ini.
Bahkan ada yang menuduhnya sebagai syirik, khurofat dan takhayul.
Para penuduh ini mungkin lupa, bahwa ajaran Jawa disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami orang Jawa.
Memang, para leluhur kita kadang tidak fasih melafalkan kata-kata Arab.
Para leluhur ini juga orang yang masih gagap iptek.
Namun, jangan salah sangka dulu.
Dari segi kebijaksanaan, ngelmu batin dan olah rasa para nenek moyang kita dulu bisa diandalkan. Mereka adalah para waskita yang mampu membangun candi Borobudur, Prambanan dan mampu membuat sebuah bangunan dengan ketepatan geometris dan geologis.
Tidak kalah oleh nenek moyang bangsa Mesir yang mampu membangun piramida, atau nenek moyang suku Inca, bangsa Peru yang bisa membangun Manchu Picchu.
Saat agama Islam masuk ke nusantara, sementara di Jawa saat itu sudah berkembang agama Hindu, Budha dan berbagai kepercayaan animisme, dinamisme, politeisme.
Islam melebur secara pelan dan damai, berasimilasi serta berosmosis tanpa pertumpahan darah.
Islam agama damai dan tidak memaksa.
Orang Jawa bersifat pasrah, sumeleh, sumarah, ikhlas dan mengandalkan rasa pangrasa.
Jadi ? Klop sudah
Bagi orang Jawa, masuknya Agama Islam yang kaya dengan aspek kebatinan (tasawuf) sangatlah tepat.
Orang Jawa pun tidak kebingungan dengan ajaran-ajaran mistik yang ada di dalamnya.
Namun orang Jawa berhasil menyederhanakan ajaran-ajaran mistik ini dengan terminologi dan kalimat-kalimat sederhana dan mudah dimengerti.
Harap maklum saja, orang Jawa dulu mayoritas hidup di pedesaan yang sederhana dan tidak banyak berwacana ilmiah.
Salah satu ajaran Kejawen yang membahas tentang adanya malaikat pendamping hidup manusia adalah SEDULUR PAPAT LIMO PANCER.
Pancer adalah tonggak hidup manusia yaitu dirinya sendiri.
Diri kita dikelilingi oleh empat makhluk gaib yang tidak kasat mata (metafisik).
Mereka adalah saudara yang setia menemani hidup kita.
Mulai dilahirkan di dunia hingga kita nanti meninggal dunia menuju alam barzakh (alam kelanggengan).
Sebelum hadirnya agama Islam, orang Jawa tidak memahami konsep malaikat.
Maka mereka menyebut malaikat penjaga manusia dengan sedulur papat.
Konsep “sedulur papat” ini oleh orang Jawa ditamsilkan melalui sebuah pengamatan/niteni.
Mulai saat janin tumbuh di perut ibu, janin dilindungi di dalam rahim oleh ketuban.
Selanjutnya adalah ari-ari, darah dan pusar.
Itulah saudara manusia sejak awal dia hidup dan selanjutnya “empat saudara” ini kemudian dikubur. Namun orang Jawa Percaya bahwa “empat saudara” ini tetap menemani diri manusia hingga ke liang lahat.
Karena Air Ketuban adalah yang pertama kali keluar saat ibu melahirkan, orang Jawa menyebutnya SAUDARA TUA. Saudara ini melindungi jasad fisik dari bahaya.
Maka ia adalah SANG PELINDUNG FISIK.
Selanjutnya yang lebih MUDA adalah ari-ari, tembuni atau plasenta.
Pembungkus janin dalam rahim.
Ia melingkupi tindakan janin dalam rahim yang kemudian mengantarkan kita ke tujuan. Maka ia adalah SANG PENGANTAR.
Saudara kita selanjutnya adalah DARAH.
Darah ini membantu janin kecil untuk tumbuh berkembang menjadi bayi lengkap.
Darah adalah SARANA DAN WAHANA IRADAT-NYA pada manusia.
Darah bisa disebut nyawa bagi janin.
Maka, darah disebut dengan PEMBANTU SETIA MANUSIA MENEMUKAN JATI DIRINYA SEBAGAI HAMBA TUHAN, CERMIN TUHAN (Imago Dei).
Saudara gaib kita terakhir adalah pusar.
Menurut pemahaman Kejawen, pusar adalah NABI.
Pusar secara biologis adalah tali yang menghubungkan perut bayi dalam rahim dan ari-ari.
Pusar mendistribusikan makanan yang dikonsumsi ibu ke bayi. Pusar dengan demikian MENDISTRIBUSIKAN WAHYU “IBU” MANUSIA yaitu Gusti Allah SWT kepada diri kita.
Keempat saudara gaib ini sesungguhnya adalah EMPAT MALAIKAT PENJAGA manusia.
Yang berada di kanan-kiri, depan-belakang kita.
Maka, tidak salah bila Anda menyapa dan bersahabat akrab dengan mereka.
Secara gaib, Tuhan mmeberikan pengajaran tidak langsung kepada hati kita.
Namun melalui mereka pengajaran itu disampaikan.
Keempat penjaga (malaikat) itu adalah:
JIBRIL (Penerus informasi Tuhan untuk kita),
IZRAFIL (Pembaca Buku Rencana Tuhan untuk kita),
MIKAIL (Pembagi Rezeki untuk kita) dan
IZRAIL (Penunggu berakhirnya nyawa untuk kita).
Keempat malaikat itu oleh orang Jawa dianggap sebagai SEDULUR karib hidup manusia.
Bila kita paham bahwa perjalanan hidup untuk bertemu dengan Tuhan hakikatnya adalah perjalanan menuju “ke dalam” bukan “ke luar”.
Perjalanan menembus langit ketujuh hakikatnya adalah perjalanan “diri palsu” menuju “diri sejati” dan menemukan SANG AKU SEJATI, YAITU DIRI PRIBADI/ TUHAN.
Untuk menemukan SANG AKU SEJATI (limo pancer) itulah kita ditemani oleh EMPAT SAUDARA GAIB/MALAIKAT PENUNGGU (sedulur papat).
Lantas dimana mereka sekarang ? Mereka sekarang sedang mengawasi Anda.
Berdzikir mengagungkan asma-Nya.
Kita bisa menjadikan mereka sedulur paling akrab bila paham bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka.
Caranya ? Pejamkan mata, matikan seluruh aktivitas listrik di otak kiri dan kanan dan hidupkan sang AKU SEJATI yang ada di dalam diri Anda.
Ya, hanya diri sendirilah yang mampu untuk berkomunikasi dengan para sedulur gaib nan setia ini.
Bagaimana tidak setia, bila kemanapun kita berada disitu keempatnya berada.
Bila kita berjalan, mereka terbang. Bila jasad kita tidur, mereka akan tetap melek ngobrol dengan ruh kita.
Maka, saat bangun tidur di siang hari pikiran kita akan merasa fresh sebab ruh kita akan kembali menjejerkan diri kita dengan iradat-Nya.
Sayang, saat waktu beranjak siang polusi nafsu/ego lebih dominan sehingga kebeningan akal pikiran semakin tenggelam.

Ing Kekayon wayang purwa kang kaprahe kasebut Gunungan, ana kono gambar Macan, Bantheng, Kethek lan Manuk Merak.
Kocape kuwi mujudake Sedulur Papat mungguhing manungsa. Kewan cacah papat mau nggambarake nafsu patang warna yaiku : Macan nggambarake nafsu Amarah, Bantheng nggambarake nafsu Supiyah, Kethek nggambarake nafsu Aluamah, lan Manuk Merak nggambarake nafsu Mutmainah
SEDULUR PAPAT LIMA PANCER Njupuk sumber saka Kitab Kidungan Purwajati seratane , diwiwiti saka tembang Dhandanggula kang cakepane mangkene:
Ana kidung ing kadang Marmati Amung tuwuh ing kuwasanira Nganakaken saciptane Kakang Kawah puniku Kang rumeksa ing awak mami Anekakake sedya Ing kuwasanipun Adhi Ari-Ari ingkang Memayungi laku kuwasanireki Angenakken pangarah Ponang Getih ing rahina wengi Ngrerewangi ulah kang kuwasa Andadekaken karsane Puser kuwasanipun Nguyu-uyu sabawa mami Nuruti ing panedha Kuwasanireku Jangkep kadang ingsun papat Kalimane wus dadi pancer sawiji Tunggal sawujud ingwang Ing tembang dhuwur iku disebutake yen ” Sedulur Papat ” iku Marmati, Kawah, Ari-Ari, lan Getih kang kaprahe diarani Rahsa. Kabeh kuwi mancer neng Puser (Udel) yaiku mancer ing Bayi.
Cethane mancer marang uwonge kuwi.
Geneya kok disebut Marmati, kakang Kawah, Adhi Ari-Ari lan Rahsa kuwi ?.
Marmati iku tegese Samar Mati.. ! lire yen wong wadon pas nggarbini (hamil) iku sadina-dina pikirane uwas Samar Mati.
Rasa uwas kawatir pralaya anane dhisik dhewe sadurunge metune Kawah, Ari-Ari lan Rahsa kuwi mau, mulane Rasa Samar Mati iku banjur dianggep minangka Sadulur Tuwa.
Wong nggarbini yen pas babaran kae, kang dhisik dhewe iku metune Banyu Kawah sak durunge laire bayi, mula Kawah banjur dianggep Sadulur Tuwa kang lumrahe diarani Kakang Kawah. Yen Kawah wis mancal medhal, banjur disusul laire bayi, sakwise kuwi banjur disusul wetune Ari-Ari. Sarehne Ari-Ari iku metune sakwise bayi lair, mulane Ari-Ari iku diarani Sedulur Enom lan kasebut Adhi Ari-Ari Lamun ana wong abaran tartamtu ngetokake Rah ( Getih ) sapirang-pirang. Wetune Rah (Rahsa) iki uga ing wektu akhir, mula Rahsa iku uga dianggep Sedulur Enom.
Puser (Tali Plasenta) iku umume PUPAK yen bayi wis umur pitung dina.
Puser kang copot saka udel kuwi uga dianggep Sedulure bayi.
Iki dianggep Pancer pusate Sedulur Papat. Mula banjur tuwuh unen-unen ”SEDULUR PAPAT LIMA PANCER” Ing Kekayon wayang purwa kang kaprahe kasebut Gunungan, ana kono gambar Macan, Bantheng, Kethek lan Manuk Merak.
Kocape kuwi mujudake Sedulur Papat mungguhing manungsa.
Kewan cacah papat mau nggambarake nafsu patang warna yaiku : Macan nggambarake nafsu Amarah, Bantheng nggambarake nafsu Supiyah, Kethek nggambarake nafsu Aluamah, lan Manuk Merak nggambarake nafsu Mutmainah kang kabeh mau bisa dibabarake kaya ukara ing ngisor iki: Amarah : Yen manungsa ngetutake amarah iku tartamtu tansaya bengkerengan lan padudon wae, bisa-bisa
manungsa koncatan kasabaran,kamangka sabar iku mujudake alat kanggo nyaketake dhiri marang Allah SWT.
Supiyah / Kaendahan : Manungsa kuwi umume seneng marang kang sarwa endah yaiku wanita (asmara).
Mula manungsa kang kabulet nafsu asmara digambarake bisa ngobong jagad.
Aluamah / Srakah : Manungsa kuwi umume padha nduweni rasa srakah lan aluamah, mula kuwi yen ora dikendaleni, manungsa kepengine bisa urip nganti pitung turunan.
Mutmainah / Kautaman : Senajan kuwi kautaman utawa kabecikan, nanging yen ngluwihi wates ya tetep ora becik.
Contone; menehi duwit marang wong kang kekurangan kuwi becik, nanging yen kabeh duwene duwit diwenehake satemah uripe dewe rusak, iku cetha yen ora apik.
Mula kuwi, sedulur papat iku kudu direksa lan diatur supaya aja nganti ngelantur.
Manungsa diuji aja nganti kalah karo sedulur papat kasebut, kapara kudu menang, lire kudu bisa ngatasi krodhane sedulur papat.
Yen manungsa dikalahake dening sedulur papat iki, ateges jagade bubrah.
Ing kene dununge pancer kudu bisa dadi paugeran lan dadi pathokan.
Bener orane, nyumanggakake
Mbikak ing wasana suba
Agung ing nagri suka
Sabda ratuning nusa
Nunut anggentosi warso
Ibering si angkara
Njamasi tetangisin bangsa
Olo muksa jejeg praja
CIPTA TUNGGAL
cipta bermakna: pengareping rasa, tunggal artinya satu atau difokuskan ke satu obyek.
Jadi Cipta Tunggal bisa diartikan sebagai konsentrasi cipta.
1• Cipta, karsa ( kehendak ) dan pakarti ( tindakan ) selalu aktif selama orang itu masih hidup. Pakarti bisa berupa tindakan fisik maupun non fisik, pakarti non fisik misalnya seseorang bisa membantu memecahkan atau menyelesaikan masalah orang lain dengan memberinya nasehat, nasehat itu berasal dari cipta atau rasa yang muncul dari dalam. Sangatlah diharapkan seseorang itu hanya menghasilkan cipta yang baik sehingga dia juga mempunyai karsa dan pakarti/tumindak yang baik, dan yang berguna untuk diri sendiri atau syukur -syukur pada orang lain.
2• Untuk bisa mempraktekkan tersebut diatas, orang itu harus selalu sabar, konsestrasikan cipta untuk sabar, orang itu bisa makarti dengan baik apabila kehendak dari jiwa dan panca indera serasi lahir dan batin. Ingatlah bahwa jiwa dan raga selalu dipengaruhi oleh kekuatan api, angin, tanah dan air.
3• Untuk memelihara kesehatan raga, antara lain bisa dilakukan :
Minumlah segelas air dingin dipagi hari, siang dan malam sebelum tidur, air segar ini bagus untuk syarat dan bagian-bagian tubuh yang lain yang telah melaksanakan makarti.
Jagalah tubuh selalu bersih dan sehat, mandilah secara teratur di negeri tropis sehari dua kali.
Jangan merokok terlalu banyak.
Konsumsilah lebih banyak sayur-sayuran dan buah-buahan dan sedikit daging, perlu diketahui daging yang berasal dari binatang yang disembilah dan memasuki raga itu bisa berpengaruh kurang baik, maka itu menjadi vegetarian ( tidak makan daging ) adalah langkah yang positif.
Kendalikanlah kehendak atau nafsu, bersikaplah sabar, narima dan eling.
Janganlah terlalu banyak bersenggama, seminggu sekali atau dua kali sudah cukup.
4• Berlatihlah supaya cipta menjadi lebih kuat, pusatkan cipta kontrol panca indera.
Tenangkan badan ( heneng ) dengan cipta yang jernih dan tentram ( hening ) Bila cipta bisa dipusatkan dan difokuskan kearah satu sasaran itu bagus, artinya cipta mulai mempunyai kekuatan sehingga bisa dipakai untuk mengatur satu kehendak.
5• Buatlah satu titik atau biru ditembok atau dinding.
 duduklah bersila dilantai menghadap ke tembok, pandanglah titik itu tanpa berkedip untuk beberapa saat, konsentrasikan cipta, kontrol panca indera, cipta dan pikiran jernih ditujukan kepada titik tersebut.
Jangan memikirkan yang lain, jarak mata dari titik tersebut kira-kira tujuh puluh lima sentimeter, letak titik tersebut sejajar dengan mata, lakukan itu dengan santai.
6• Lakukan latihan pernafasan dua kali sehari, pada pagi hari sebelum mandi demikian juga pada sore hari sebelum mandi tarik nafas dengan tenang dalam posisi yang enak.
7• Lakukan olah raga ringan ( senam ) secara teratur supaya badan tetap sehat, sehingga mampu mendukung latihan olah nafas dan konsentrasi.
8• Hisaplah kedalam badan Sari Trimurti pada hari sebelum matahari terbit dimana udara masih bersih, lakukan sebagai berikut :
Tarik Nafas Tahan Nafas Keluarkan Nafas Jumlah
10 detik 10 detik 10 detik 30 detik
minggu I : 3 kali
15 detik 10 detik 15 detik 40 detik
minggu II : 3 kali
20 detik 10 detik 20 detik 50 detik
minggu III : 3 kali
26 detik 08 detik 26 detik 60 detik
minggu IV : 3 kali
9• Untuk memperkuat otak tariklah nafas dengan lobang hidung sebelah kiri dengan cara menutup hidung sebelah kiri dengan cara menutup lobang hidung sebelah kanan dengan jari, lalu tahan nafas selanjutnya keluarkan nafas melalui lobang hidung sebelah kanan, dengan menutup lobang hidung sebelah kiri dengan jari.
Tarik Nafas Tahan Nafas Keluarkan Nafas Jumlah
4 detik 8 detik 4 detik 16 detik
minggu I : 7 kali
10 detik 7 detik 10 detik 27 detik
minggu II : 7 kali
10 detik 10 detik 10 detik 30 detik
minggu III & IV : 7 kali
20 detik 20 detik 20 detik 60 detik
minggu V : 7 kali
10• Karsa akan terpenuhi apabila nasehat-nasehat diatas dituruti dengan benar, praktekkan samadi pada waktu malam hari, paling bagus tengah malam ditempat atau kamar yang bersih.
Kontrol panca indera, tutuplah sembilan lobang dari raga, duduk bersila dengan rilek, fokuskan pandangan kepada pucuk hidung. Tarik nafas, tahan nafas, dan keluarkan nafas dengan tenang dan santai, konsentrasikan cipta lalu dengarkan suara nafas. Pertama-tama akan dirasakan sesuatu yang damai dan apabila telah sampai saatnya orang akan bisa berada berada dalam posisi hubungan harmonis antara kawula dan Gusti ALLAH
11• Cobalah lakukan sebagai berikut :
Lupakan segalanya selama dua belas detik
Dengan sadar memusatkan cipta kepada dzat yang agung selama seratus empat puluh detik.
Jernihkan pikiran dan rasa selama satu, dua atau tiga jam ( semampunya )
12• Tujuh macam tapa raga, yang perlu dilakukan
Tapa mata, mengurangi tidur artinya jangan mengejar pamrih.
Tapa telinga, mengurangi nafsu artinya jangan menuruti kehendak jelek.
Tapa hidung, mengurangi minum artinya jangan menyalahkan orang lain
Tapa bibir, mengurangi makan artinya jangan membicarakan kejelekan orang lain
Tapa tangan, jangan mencuri artinya jangan mudah memukul orang
Tapa alat seksual, mengurangi bercinta dan jangan berzinah
Tapa kaki, mengurangi jalan artinya jangan membuat kesalahan
13• Tujuh macam tapa jiwa yang perlu dilakukan:
Tapa raga, rendah hati melaksanakan hanya hal yang baik
Tapa hati, bersyukur tidak mencurigai orang lain melakukan hal yang jahat
Tapa nafsu, tidak iri kepada sukses orang lain, tidak mengeluh dan sabar pada saat menderita
Tapa jiwa, setia tidak bohong, tidak mencampuri urusan orang
Tapa rasa, tenang dan kuat dalam panalongso
Tapa cahaya, bersifat luhur berpikiran jernih
Tapa hidup, waspada dan eling
14• Berketetapan hati:tidak ragu-ragu/selalu yakin orang yang kehilangan keyakinan atas kepercayaan diri adalah seperti pusaka yang kehilangan yoninya atau kekuatannya
15• Menghormati orang lain tanpa memandang jenis kelamin, kedudukan, suku, bangsa, kepercayaan dan agama, semua manusia itu sama : saya adalah kamu ( tat twan asi ).
Artinya kalau kamu berbuat baik kepada orang lain, itu juga baik buat kamu, kalau kamu melukai orang lain itu juga melukai dirimu sendiri.
16• Sedulur papat kalimo pancer
Orang Jawa tradisional percaya eksistensi dari sedulur papat ( saudara empat ) yang selalu menyertai seseorang dimana saja dan kapan saja, selama orang itu hidup didunia.
Mereka memang ditugaskan oleh kekausaan alam untuk selalu dengan setia membantu, mereka tidak tidak punya badan jasmani, tetapi ada baik dan kamu juga harus mempunyai hubungan yang serasi dengan mereka yaitu :
Kakang kawah, saudara tua kawah, dia keluar dari gua garba ibu sebelum kamu, tempatnya di timur warnanya putih.
Adi ari-ari, adik ari-ari, dia dikeluarkan dari gua garba ibu sesudah kamu, tempatnya di barat warnanya kuning.
Getih, darah yang keluar dari gua garba ibu sewaktu melahirkan, tempatnya di selatan warnanya merah
Puser, pusar yang dipotong sesudah kelahiranmu, tempatnya di utara warnanya hitam.
Selain sedulur papat diatas, yang lain adalah Kalima Pancer, pancer kelima itulah badan jasmani kamu. Merekalah yang disebut sedulur papat kalimo pancer, mereka ada karena kamu ada.
Sementara orang menyebut mereka keblat papat lima tengah, ( empat jurusan yang kelima ada ditengah ).
Mereka berlima itu dilahirkan melalui ibu, mereka itu adalah Mar dan Marti, berbentuk udara.
Mar adalah udara, yang dihasilkan karena perjuangan ibu saat melahirkan bayi, sedangkan Marti adalah udara yang merupakan rasa ibu sesudah selamat melahirkan si jabang bayi.
Secara mistis Mar dan Marti ini warnanya putih dan kuning, kamu bisa meminta bantuan Mar dan Marti hanya sesudah kamu melaksankan tapa brata ( laku spiritul yang sungguh-sungguh )
17• Tingkatkan sembah, menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa yang berarti juga menghormati dan memujaNYA, istilah lainnya ialah Pujabrata.
Ada guru laku yang mengatakan bahwa seseorang itu tidak diperkenankan melakukan pujabrata, sebelum melewati tapabrata.
a. Sembah raga
Ini adalah tapa dari badan jasmani, seperti diketahui badan hanyalah mengikuti perintah batin dan kehendak.
Badan itu maunya menyenag-nyenangkan diri, merasa gembira tanpa batas.
Mulai hari ini, usahakan supaya badan menuruti kehendak cipta yaitu dengan jalan: bangun pagi hari, mandi, jangan malas lalau sebagai manusia normal bekerjalah.
Makanlah makanan yang tidak berlebihan dan tidur secukupnya saja: makan pada waktu lapar, minum pada waktu haus, tidur pada waktu sudah mengantuk, pelajarilah ilmu luhur yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain.
b. Sembah cipta
1. kamu harus melatih pikiranmu kepada kenyataan sejati kawula engenal Gusti.
2. Kamu harus selalu mengerjakan hal-hal yang baik dan benar, kontrollah nafsumu dan taklukan keserakahan.
Dengan begitu rasa kamu akan menjadi tajam dan kamu akan mulai melihat kenyataan.
Berlatih cipta sebagai berikut :
1. Lakukan dengan teratur ditengah, ditempat yang sesuai.
2. Konsentrasikan rasa kamu
3. Jangan memaksa ragamu, laksanakan dengan santai saja
4. Kehendahmu jernih, fokuskan kepada itu
5. Biasakanlah melakukan hal ini, sampai kamu merasa bahwa apa yang kamu kerjakan itu adalah sesuatu yang memang harus kamu kerjakan, dan sama sekali tidak menjadi beban
Kini kamu berada dijalan yang menuju ke kenyataan sejati, kamu merasa seolah-olah sepi tidak ingat apapun, seolah-olah badan astral dan mental tidak berfungsi, kamu lupa tetapi jiwa tetap eling ( sadar ) itulah situasi heneng dan hening dan sekaligus eling kesadaran dari rasa sejati.
Ini hanya bisa dilaksanakan dengan keteguhan hati sehingga hasilnya akan terlihat.
c. Sembah jiwa
Sembah jiwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan rasa yang mendalam menggunakan jiwa suksma yang telah kamu temui pada waktu pada heneng, hening dan eling, ini adalah sembah batin yang tidak melibatkan lahir. Apabila kamu melihat cahaya yang sangat tenang tetapi tidak menyilaukan itu pertanda kamu sudah mulai membuka dunia kenyataan.
Cahaya itu adalah pramana kamu sendiri, kamu akan merasa yakin pada waktu bersamadi, kamu dan cahaya itu saling melindungi.
d. Sembah rasa artinya sejati (rasa sejati)
1. Kita bisa mengerti dengan sempurna untuk apa kita diciptkan dan selanjutnya apakah tujuan hidupmu.
2. Kita akan mengerti dengan sempurna atas kenyataan hidup dan keberadaan semua mahluk melalui olah samadi atau memahami Sangkan Paraning Dumadi, hubungan harmonis antara kawula dan Gusti layaknya seperti manisnya madu dan madunya, tidak terpisahkan.
Nyinau ngilmu kedah ngertos ilmunipun,Ilmu bebukanipun sarana pikir,Ngilmu lelabetan kalian laku,Olehipun sampurna kedah kekalih,Menawi sampun lajeng kagunakna,Adamel uruping sasamya,Samodraning guna agesang.
Belajar ilmu harus mengetahui ilmunya,ilmu pembukaannya dari alam pikiran,ilmu akan merasuk harus dengan menjalankan lelaku terlebih dulu,dapatnya kesempurnaan dengan dua hal tersebut,setelah semua dilakukan baru bisa digunakan,bisa membangkitkan semuanya,untuk segala keperluan hidup.
Intinya:Memelihara berdasarkan kekuasaannya.
Apa yang dicipta terwujud.
Ketuban itu menjaga badan saya.
Menyampaikan kehendak dengan kuasanya.
Adik ari-ari tersebut memayungi perilaku berdasar arahannya.
Darah siang malam membantu Allah Yang Kuasa.
Mewujudkan kehendak-Nya.
Pusar kekuasaannya memberi perhatian dengan kesungguhan untuk saya.
Memenuhi permintaan saya.
Maka, lengkaplah empat saudara itu.
Kelimanya sebagai pusat sudah jadi satu.
Manunggal (menyatu) dalam satu perwujudan saya.
Ingin menguasai keilmuan ini secara pratis, mudah, aman, dan materi langsung praktek silahkan.

1.SEDULUR PAPAT LIMO PANCER

                  " Sedulur Papat Lima Pancer"

SEDULUR PAPAT LIMA PANCER

Mengenai Sedulur Papat Lima Pancer….
Berdasarkan wejangan ( pesan ) para leluhur kita,diungkapkan tentang sedulur papat dan kalima pancer dengan perincian berikutini;

Ajaran para leluhur kita telah turun temurun, mengungkap adanya sedulur papat lima pancer, yg sering terlupakan oleh manusia, padahal mereka adalah unsur-unsur persenyawaan yang bisa bersama-sama lahir sehari dengan kita, sewaktu meninggalkan rahim ibunya melalui liang senggama atau menurut istilah Jawa Kuna adalah MARGA HINA.

Adapun empat sedulur dan kelima pancer itu ( berjumlah lima ) memiliki nama nama sendiri, yaitu :
•Mar dan Marti
•Kawah ( ketuban )
•Ari-ari ( plasenta )
•Rah ( darah )
•Puser ( pusar )

Kelima itu masing² memiliki rugas masing-masing dalam memangku tujuan menjaga keselamatan dan kesejahteraan kita, baik selaku umat manusia ,maupun makhluk hidup lainnya.

Mar dan Marti, Mendampingi dan memelihara hidup dan menumbuhkan daya cipta.
Kawah, Merawat badan, melahirkan hasrat kemauan.
Ari-ari, Menaungi perjalanan datau langkah hidup.
Darah, Membantu tingkah dan menciptakan atau cita-cita.
Pusar, Mendorong gerak dan gaya, mendatangkan keinginan.

Jikalau ini semua dapat dipelihara dan diatur sebaik-baiknya, maka besarlah arti dan manfaat dalam menciptakan kesejahteraan hidup. Terutama dengan memperingatinya pada hari lahirnya.

Sebaliknya jika sengaja atau tidak,kelima sedulur yg bersama sama lahir dg kita, diabaikan( tdk dikenal, disayang dan dipelihara ), dan kita buktikan sendiri dalam perjalanan hidup kita sehari-hari, akan dapat menimbulkan berbagai cobaan, baik kesehatan, karier, kesehatan dll.

Oleh sebab itu kita sebagai orang timur ( Jawa khususnya ) yg sejak turun temurun sudah ditinggali ilmu sejati untuk menjaga keselamatan dan menciptakan kesejahteraa hidup, sepatutnya menjunjung tinggi ajaran nenek moyang kita, terutama mempelajari mengakui dan memanfaatkan sedulur 4 dan ke - 5 pancer demi kesejateraan kita sendiri.

Ketika sang ibu mengandung sampai melahirkan bayi ia mengalami penderitaan yang bersifat seperti demam, ngilu seluruh tubuhnya atau dalam bahasa Jawa disebut EMAR.
Kecuali itu dirasakan pula seperti kejutan hati yg mengundang seribu perasaan tidak enak menjadi satu, sampai saat melahirkan bayi daro rahimnya, menurut ungkapan nenek moyang kita, lahirnya bayi adalah bersama-sama sedulur mudanya permepuan yg diberi istilah nama MAR - MARTI, keluar dari bagian dalam badan, sekitar dada, nama/istilah dengan waktu berpusatkan tenaga mendorong keluarnya bayi.

Air ketuban ( kawah ) yg kemudian disebut sedulur muda bersifat putih, disusul lahirnya jabang bayi.
Lalu menyusul ari-ari dibelakangnya berwarna kuning, kemudian disebut Adi Ari-ari.
Tahap berikutnya keluarlah darah, menjadi adik berwarna merah atau disebut juga sedulur ke empat.
Pada waktu putus pusar, pusar berwarna hituam, disebut sedulur ke lima.
Maka selesailah sudah lahirnya, sedulur empat kelima pancer.
MAR-MARTI, KAKANG KAWAH, ADI ARI-ARI, RAH ( darah ) PUSAT ( pusar ).
Inilah 4 sedulur ke 5 pancer yg lahir sama sehari, juga sama lewat jalan yg sama.
Empat sedulur dan kelima pancer yg ada tetapi selalu terlupakan seolah-olah tak pernah ada, yg diakui maupun tidak, selalu mendampingi, menjaga, turut menunjang mengingatkan, menyelamatkan, membela memberikan jasa-jasanya kepada kita setiap saat tidak memandang kapan dan dimana dan dalam situasi dan kondisi bagaimananpun, yg memiliki perasaan, kemauan, keampuhan, pengaruh,arti , kelemahan dan kekuatan, sifat baik dan sifat buruk yang kadangkala membantu kadangkala mengganggu kehidupan kita, merasa senang bila diperhatikan, diakui adanya dan dihargai jawa-jasanya dan bisa marah jikalau diabaikan.

Nenek moyang kita memiliki tradisi utk mengadakan selamatan bertujuan mengakui adanya dan menghargai arti dan jasa-jasanya, mengerti kehendak dan kebutuhannnya, dengan istilah umum yg disebut MEMULE atau MEMETRI. Memule atau Memetri sedulur tua dan sedulur muda, terdiri dari dua macam:

Untuk sedulur yg tidak keluar dari marga hina ( vagina ) berupa : Nasi Tumpeng, pecel ayam, sayur menir, daging, daging burung, daging ikan dari kolam, daging hewan ternak, sayur mayur, bunga rampai, sirih yg bagus, pisang yg bagus, minyak wangi dan air gula kelapa dicampur santan kelapa, minyak sundul langit, tape, kerupuk singkong yg dibakar.

Pengokohnya , logam timah.
Memule dan memetri sedulur yg keluar bersama-sama 1 hari lewat marga hina ( vagina ) berupa : 5 nasi tumpeng dituang dalam takir pontang, ikannya dari laut dan dari rawa-rawa, ikan sungai, gantal dg sumpet menjadi satu bungkus, bunga cempaka 5 pasang, pada tiap-tiap potong, dibubuhkan sepasang.

Pengokohnya berupa :
Logam timah dituangkan satu persatu.
Nenek moyang kita jaman dahulu selalu yakin, percaya bahwa jikalau setiap diadakan selamatan memule dan memetri dg cara demikian kepada sedulur empat kelima pancer itu, kesemuanya akan selalu membantu keselamatan dan kesejahteraan hidup siang maupun malam, tidak akan marah, masrqul, kecewa, jikalau diabaikan sehingga bisa mengganggu dan mempersulit kehidupan kita.

Bagi kita yg hidup di alam modern ini yg penting adalah kita mengakui adanya , dan mengakui bahwa sedulur empat dan lima pancer memiliki arti dan daya keampuhan membantu kita dan dapat memberikan pengaruh buruk bagi hidup kita jikalau diperhatikan kehadirannya disekeliling kita masing².
Tidaklah mutlak bagi kita mengadakan selamatan seperti tsb diatas, apalagi jika diingat pada kehidupan dewasa ini, dimana ekonomi kita terasa tidak mendukung untuk pelaksanaan selamatan sedemikian rupa.
Cukuplah kiranya jika kita tidak melupakan kehadirannya di sekeliling kita dalam keadaan apapun.
Kita sambut dan sebut sedulur papat kalima pancer sewaktu kita sedang makan, minum, tidur atau apapun kegiatan kita, agar mereka memberikan dukungan, supoort kepada kita guna mencapat tujuan dan cita-cita kita.

Bagi yang berminat untuk bertemu saudara kembar bisa dicoba amalan ini:
Bismillahirrohmanirrohiim,
Kun kata Allah, Fayakun kata Muhammad,
Robbukum kata Jibroil
Ya Jibroil Ya Mikail Ya Isrofil Ya Izroil
Yaiku Sang Ratu Kepyok Sang Ratu Herang putih
Kadulur bathin ka anak bathin kanu opat lima pancer
Ya Allah aku mohon diantar kedulur bathinku ke anak bathinku
yang hidup dalam satu hari satu malam
Wahai dulur bathinku anak bathinku ,
bantulah aku………….
berkat la ilaha illallah muhammadur rasulullah
aku tahu asalmu 204 sambungan
Hu Allah.
(dibaca 13x atau 75x setiap hari selama 7 hari berturut2)

Doa meminta bantuan sedulur papat lima pancer

kakang kawah adi arai-ari sedulur tuwa papat lima pancer sing dumunung ana ing awak ingsun jungkungana laku ingsun jabang bayine …….(sebutkan nama anda) bisa kasembadan apa sing ana ati lan pikiran ingsun yaiku….(sebutkan permintaan anda contoh: bisa ketemu kalawan sira sedulur kabeh) kanti kalis ing sambekala padang panjang…. Amin…

sebelumnya didahului dengan al fatihah bagi yang muslim, bapa kami bagi yang nasrani atau doa2 sejenis
"Sedulur papat kalima pancer".
Saudara Empat
Dalam ajaran Jawa dikenal istilah "Sedulur papat kalima pancer".
Pancer adalah diri kita.
Setiap diri manusia mempunyai empat saudara.
Ketika manusia masih berupa janin di dalam perut ibunya, keempat saudara ini nyata.
Kasat mata.
Bisa dilihat dengan mata kepala.
Dapat dilihat dengan mata telanjang. Lho, apa itu saudara empat?

Marilah kita simak bait tembang Sunan Kalijaga berikut ini.
"Ana kidung akadang premati among tuwuh ing kuwasanira nganakaken saciptane kakang kawah puniku,kang rumeksa ing awak mami anekakaken sedya pan kuwasanipun adhi ari-ari ika kang mayungi ing laku kuwasaneki anekaken pangarah,ponang getih ing rahina wengi angrowangi Allah kang kuwasa andadekaken karsane puser kuwasanipun nguyu-uyu sambawa mami nuruti ing panedha kuwasanireku jangkep kadang ingsun papat kalimane pancer wus dadi sawiji nunggal sawujudingwang".
Ada sabda tentang saudara kita yang merawat dengan sungguh-sungguh.
Yang memelihara berdasarkan kekuasaannya.
Apa yang dicipta terwujud.
Ketuban itu, yang menjaga badan saya.
Yang menyampaikan kehendak, dengan kuasanya.
Dinda ari-ari itu, yang memayungi semua tindakan berdasarkan kekuasaannya atau yang menyampaikan tujuan.
Sedangkan darah siang dan malam membantu Allah yang kuasa.
Mewujudkan Kehendak-Nya.
Pusar kekuasaannya, memerhatikan sungguh-sungguh diriku, memenuhi permintaanku. Kekuasaannya itu.
Maka, lengkaplah empat saudara saya, kelimanya sebagai pusat.
Sudah menjadi satu. Manunggal dengan wujudku.

Dari kedua bait kidung itu, jelas sudah apa yang dinamakan saudara empat. Semuanya merupakan saudara kandung ketika manusia masih berupa janin.
Mereka semua menjaga pertumbuhan manusia di dalam kandungan ibu.
Anak yang pertama tentu saja kakak dari sang janin, yaitu ketuban atau kawah.
Ketika seorang ibu melahirkan, yang pertama kali keluar adalah ketuban.
Karena itu disebut saudara tua.
Dia berfungsi sebagai penjaga badan sang janin di dalarn rahim.

Setelah itu, saudara sekandung yang lebih muda adalah ari-ari, tembuni atau plasenta.
Pembungkus janin di dalam rahim.
Dinyatakan bahwa ari-ari memayungi tindakan sang janin di dalam perut ibu.
Yang menyampaikan ke tujuan.
Begitu bayi lahir, maka ari-ari itu ikut ke luar.
la mengantarkan sampai ke tujuan.
Yaitu lahir dengan selamat disertai pengorbanan dirinya.

Nah, berikutnya adalah darah.
Inipun saudara sang janin.
Tanpa ada darah janin bukan saja tidak bisa tumbuh, tapi juga akan mengalami keguguran.
Dalam kata-kata Sunan, darah disebut membantu Allah siang dan malam.
Untuk mewujudkan kehendak Tuhan.
Jangan salah pengertian, lho
Allah sendiri hakikatnya tidak memerlukan bantuan siapa pun.
Ini dari segi hakikat.
Tapi dari segi syariat, dari segi mekanisme alamnya, kehendak Allah untuk menumbuh kembangkan janin hingga menjadi bayi itu dilewatkan darah. Seolah-olah darah itu nyawa bagi janin.

Saudara yang keempat adalah pusar.
Jawa: puser atau urudel.
Dalam bahasa Jawa Kuno, istilah untuk pusar adalah nabi.
Yang dimaksudkan dengan pusar, tentu saja tall pusar. Sedangkan pusar sendiri sebenarnya hanyalah bekas menempelnya tali pusar pada perut.
Ya, tali pusarlah yang menghubungkan antara perut bayi dalam rahim dan ari-ari.
Ia sebagai slat untuk menyalurkan makanan dari ibu ke bayi dalam kandungan.
Dengan tali pusar itu bayi mendapatkan pasokan makanan dari induknya.
Pusar berfungsi untuk memenuhi permintaan si jabang bayi.
Umumnya orang menganggap bahwa ketuban, ari-ari, darah, dan tali pusar itu hanya wahana.
Atau, alat yang diperlukan untuk pertumbuhan jabang bayi di dalam perut.
Begitu bayi dilahirkan, maka semua itu tak berfungsi lagi.
Beres sudah jika bayi telah lahir.
Tak ada sangkut-pautnya dengan kehidupan.
Dan, yang demikian ini merupakan pandangan materialistik.
Pandangan yang serba duniawi. Menurut pandangan ini apa yang bersifat spiritual itu tidak ada.
Ajaran saudara empat juga tidak terdapat di Jazirah Arabia.
Karena basis kepercayaan mereka sebelum kedatangan Islam, adalah pandangan dunia semata.

Lain dengan pandangan Jawa.
Pandangan yang telah diterima orang Jawa yang beragama apa pun.
Yang saya maksud, orang Jawa yang mengerti pandangan Jawa, meski beragama apa pun tetap mempercayai bahwa dalam hidup di dunia ini saudara empat itu tetap menjaga balk masih di kandungan maupun di alam nyata.
Yang kembali ke anasir-anasir bumi, air, udara, dan api hanyalah keempat jasadnya.
Begitu bayi lahir, jasad saudara empat itu kembali ke asalnya.
Air ketuban dan darah dibersihkan, begitu bayi dilahirkan.
Ari-ari dan potongan tali pusar dipendam atau dihanyutkan di sungai.
Jasad yang terlahir hidup adalah bayinya.
Sedangkan secara metafisik saudara empat kita itu tetap menjaga kita hingga kita mati.

Apa pandangan Jawa itu bertentangan dengan ajaran Islam?
Atau, pandangan Jawa itu tidak ada di dalam Islam? Yakinlah saudara, bahwa pandangan tersebut ada di dalam Alquran.
Alias, ada di dalam Islam.
Cuma, kita yang beragama Islam kurang mau memerhatikan ayat-ayat yang bernuansa metafisik.
Kita lebih mudah terjebak ayat yang bersifat lahiriah.
Coba, kita perhatikan ayat "In kullu nafsin lammd 'alayha hr2fzzh, setiap dirt niscaya ada penjaganya."' Atau, yang ada pada ayat lainnya: "Wa huwa al-qahir fawq abddih wa yursil
`alaykum hafazhah hattd id,za jd'a ahadakum al-mawt tawaffathu rusulund wa hum Id yufarrithun.'2

Dialah yang berkuasa atas semua hamba-Nya.
Dan Dia mengutus kepada kalian penjaga-penjaga untuk melindungimu.
Jika seseorang sudah waktunya mati, maka utusan-utusan Kami itu mewafatkannya tanpa keliru.
Nah, dari ayat itu gamblang sekali.
Jelas sekali keterangannya. Ternyata, dalam model kehidupan di alam ini, Tuhan memberikan penjaga-penjaga kepada setiap diri.
Meskipun sudah disebutkan di awal ayat bahwa Tuhan itu Mahakuasa atas segala hamba-Nya, tapi ada mekanisme alam yang telah ditetapkan-Nya.
Tuhan tidak bertindak secara langsung.
Ada beberapa penjaga yang dikirimkan kepada setiap orang.
Bukan satu penjaga buat seorang.
Tapi beberapa penjaga.
Tentu saja penjaga-penjaga ini tidak terlihat oleh mata jasmani.
Karena mereka berupa roh.
Kalau toh ada orang yang dapat melihat mereka, itu disebabkan yang bersangkutan berjuang keras untuk melihat mereka.
Atau, orang itu berada dalam situasi yang menyebabkan saudara rohaninya itu menampakkan diri.
Itupun hanya dirinya yang bisa melihat mereka.
Orang lain di sekitarnya tidak melihat mereka.

Dalam agama Kristen pun disebutkan bahwa setiap orang di dunia ini diiringi malaikat (Matius 18: 10; Kisah Rasul 12: 15). Malaikat menyertai manusia untuk menjaganya.
Untuk memberikan perlindungan, sepanjang manusianya sendiri berbuat kebajikan. Dijelaskan bahwa anak-anak kecil memiliki malaikatnya di surga. Mengapa di sebut anak kecil? Karena berbuat sesuai dengan nuraninya. Belum dipengaruhi oleh hawanafsu dan lingkungannya.
Anak kecil memang masih tulus hidupnya.
Karena itu kanjeng Nabi Isa a.s. bersabda bahwa seseorang dapat memasuki surga bila dia hidup bagaikan anak kecil.
Manusia yang tulus hatinya.

Penjaga itu bertindak secara akurat.
Tanpa keliru Jadi, tidak ada salah cabut nyawa dalam kehidupan.
Mengapa ? Karena mereka itu ada di sisi kita pada setiap saat, di mana saja.
Mbok meski kita bersembunyi di dalam gedung berlapis platina, ya mereka akan menunaikan tugas mereka dengan benar.
Karena mereka dari awalnya dicipta dan mendapatkan perintah Tuhan untuk menjaganya. Lho, bukankah selama ini yang mencabut nyawa itu malaikat Izrail seorang diri?

Coba perhatikan kedua ayat tersebut di atas.
Yang ada itu kata hdfzzh {bentuk tunggal} dan hafazhah {bentuk jamak} untuk kata penjaga.
Tidak disebut kata malaikat pada kedua ayat itu.
Ayat yang pertama menginformasikan bahwa setiap diri itu ada penjaganya.
Sedangkan yang kedua memberitahukan kepada kita bahwa ada beberapa penjaga, bukan cuma dua penjaga, yang akan mewafatkan seseorang bila sudah tiba masa ajalnya. Tanpa keliru.
Kata "mewafatkan" sendiri pada mulanya tidak berarti mematikan.
Arti asalnya itu menyem purnakan.
Jadi, kalau seseorang mati itu sebenarnya telah lunas apa yang diembannya.
Karena itu, mati bunuh diri karena putus asa dalam menempuh hidup di dunia ini diharamkan oleh setiap agama dan keyakinan. Meskipun di Jepang dulu ada sepuku, kewajiban bunuh diri karena tak mampu memikul tanggung jawab, tapi dalam keadaan normal orang Jepang dilarang untuk melakukan bunuh diri.

PAPAT LIMA PANCER
Ing Kekayon wayang purwa kang kaprahe kasebut Gunungan, ana kono gambar Macan, Bantheng, Kethek lan Manuk Merak.
Kocape kuwi mujudake Sedulur Papat mungguhing manungsa.
Kewan cacah papat mau nggambarake nafsu patang warna yaiku : Macan nggambarake nafsu Amarah, Bantheng nggambarake nafsu Supiyah, Kethek nggambarake nafsu Aluamah, lan Manuk Merak nggambarake nafsu Mutmainah.

Pertama Jibril .
tugas nya adalah penyampai informasi, didalam islam dikenal sebagai penyampai wahyu pada para nabi.
Dalam konsep islam Jawa Jibril diposisikan pada kekuatan spiritual pada KETUBAN.
Ada pandangan yang menyatakan setelah Nabi Muhammad wafat maka otomatik Jibril menganggur karena beliaulah orang yang menerima wahyu terakhir.

Tapi tidak demikian dalam pandangan Jawa, setiap orang di sertai malaikat jibril.
hakikatnya hanya ada satu Malaikt Jibril di alam raya ini tapi pancaran cahayanya ada dalam setiap diri. seperti Ruh tidah pernah dinyatakan dalam bentuk jamak didalam Al-Quran. Tetapi setiap diri mendapat tiupan ruh dari tuhan dan ruh tersebut menjadi si A, si B, si C Dst.. satu tetapi terpantul pada setiap cermin sehingga seolah2 setiap cermin mengandung Ruh, dan manusia sebenarnya adalah cermin bagi sang diri.
setiap diri menerima limpahan cahayanya.
Diantara limpahan cahayanya adalah Jibril yang menuntun setiap orang.

Jibril akan menuntun manusia kejalan yang benar.., yang telah membersihkan dirinya, membersihkan cerminya, membersihkan hatinya.
Jibril lah yang menambah daya agar teguh dan tebal keimanan seseorang. dalam khasanah jawa Jibril berdampingan dengan Guru sejati, bersanding dengan diri Pribadi.

Jibril tidak mampu mengantarkan diri Nabi ke Sidratul Muntaha dalam Mij'raj beliau juga diceritakan ketika Jibril menampakan diri kehadapan rasul selalu ditemani malaikat mulia Lainya yaitu Mikail isrofil Izrail...

Jelas kiranya bahwa kahadiran ketuban ketika membungkus janin ternyata disertai saudara2nya yang lain.
Ditinjau dari kedudukannya yang keluar paling awal maka disebut sebagai kakak atau kakang ( saudara tua ) si bayi.
begitu bayi lahir maka selesailah sudah tugas ketuban secara fisik.
tetapi exsistensi ketuban secara ruhaniah ia tetap menjaga dan membimbing bayi tersebut sampai akhir hayat.

secara extensi Jibril diciptakan setelah malaikat Mikail. dan Tali Pusar ada lebih dulu dari pada selaput yang membungkus janin di pintu rahim (cervix)

Yang ketiga adalah Malaikat Mikail, Salah satu malaikat yang menjadi pembesar para malaikat.. Tugas malaikat Mikail adalah Memelihara Kehidupan.
Dalam hadis diceritakan bahwa malaikat Mikail mengemban tugas memelihara pertumbuhan pepohonan, kehidupan Hewan juga Manusia.. Dialah yang mengatur angin dan hujan dan membagi rejeki pada seluruh mahluk.

Pada konsep sedulur papat yang sudah di sesuaikan dengan ajaran Islam, Tali Pusar merupakan Lokus, tempat dudukan bagi malaikat Mikail dia merupakan tali penghubung bagi kehidupan manusia.
Zat zat makanan, Oksigen dan Zat yang perlu dibuang dari tubuh janin agar tidak meracuni tubuh janin.
Subhanallah.. dia telah mengatur kehidupan manusia dalam rahim melalui malaikat malaikatnya..

Mikail dipandang orang jawa sebagai saudara yang memberikan sandang, pangan dan papan, Jika seseorang memohon perlindungan tuhan maka Mikail yang akan menjalankan perintah Tuhan untuk melindunginya.

Ke Empat adalah Malaikat Izrail.
Malaikat Maut yang dipercaya sebagai yang bertanggung jawab akan Kematian.
Kehadirannya amat ditakuti Manusia.. Jika ajal telah tiba maka ia akan Me wafatkan manusia sesuai waktunya..

Dalam konsep sedulur papat (saudara 4)
Malaikat maut ini ternyata saudara Manusia sendiri bukan orang lain dan ia tidak akan menyalahi tugasnya.. bila seseorang belum sampai ajalnya dia tak akan mewafatkannya.. Dia hadir untuk meringankan penderitaan manusia, saudara sejati pasti melindungi bila yang bersangkutan selalu dijalan yang benar..
Bayangkan bila manusia tidak bisa mati tetapi hidupnya menderita..?
apa tidak tersiksa..? bayangkan bila ada orang yang maumati aja sulitnya bukan main.. Nauzubillah..

Izrail disebut sebagai kekuatan Tuhan yang berada didalam Darah, Dalam kehidupan sehari hari Izrail bertugas untuk menjaga hati yang suci, Jika hati terjaga kesuciannya maka ketakutan akan hidup menderita dan kematian akan tak ada lagi.

Jika ajal telah sampai maka Izrail mengorganisasi malaikat lainnya, mengorganisasi saudara saudara lainnya untuk mengakhiri hidupnya.
Permana yang memberikan kekuatan pada sang Jiwa diangkat keluar tubuh, sehingga tubuh tak dapat lagi dikendalikan oleh jiwa. Ruh penyambung hidup kita lepas.. tubuh menjadi lunglai tak berdaya dan ini bentuk umum kematian bagi manusia..
Nah yang tidak umum yaaa.. bila Sang Diri Sejati manusia mampu memimpin saudara-saudaranya untuk melepaskan Jiwa manusia kealam Gaib..
Orang demikian sudah mempu menyongsong kematiannya dengan benar, dia memberitahukan pada sanak dan saudaranya kapan kematiannya akan datang..

Semua saudara ghaib ini sudah menjadi satu dengan tubuh kita, ketika dalam rahim sendiri-sendiri wujudnya.
tapi ketika sang Bayi sudah lahir hanya ada satu wujud.
Empat saudara kita tetap menyertai kita dalam wujud Ruh.. dan Tidak terlihat Mata..

Ada kutipan Ayat dalam Al-Quran yang perlu di simak..
" In Kullu nafsin lamma alayha hafizh "
Setiap diri niscaya ada penjaganya'
Atau
" Wa huwa al-qahir fawq iba'dih wa yusril alaykum hafazhah hatta idza ja'a ahadakum al-mawt tawaffathu rusuluna wahum la yufarrithun "
Dialah yang berkuasa atas semua hambanya.
Dan dia mengutus kepada kalian Penjaga-Penjaga untuk melindungimu.
Jika seseorang sudah waktunya mati, maka utusan-utusan kami itu mewafatkannya tanpa keliru"
Keberadaan kita hidup di dunia ini tidak sendiri.
Semenjak pertama kali kita diturunkan ke alam dunia lewat rahim ibu, Tuhan sudah menitahkan adanya penjaga-penjaga yang senantiasa mendampingi kita hidup di alam dunia. Dan sesuai dengan perintah Tuhan, para penjaga-penjaga itu dengan setia senantiasa berada di sekeliling kita.

Sedulur Papat Antara Kejawen dan Islam

Keberadaan kita hidup di dunia ini tidak sendiri.
Semenjak pertama kali kita diturunkan ke alam dunia lewat rahim ibu, Tuhan sudah menitahkan adanya penjaga-penjaga yang senantiasa mendampingi kita hidup di alam dunia. Dan sesuai dengan perintah Tuhan, para penjaga-penjaga itu dengan setia senantiasa berada disekeliling kita.
Bagi orang Jawa, khususnya orang yang memahami tentang Kejawen,adanya para penjaga tersebut dikenal dengan sebutan
“Sedulur Papat”.
Siapa saja Sedulur Papat itu? Sedulur papat yang dikenal masyarakat yang memahami Kejawen adalah:
1. Kakang Kawah (Air Ketuban)
2. Adhi Ari-Ari (Ari-ari)
3. Getih (Darah)
4. Puser (Pusar)

»Kakang Kawah
Yang disebut dengan Kakang Kawah adalah air ketuban yang menghantarkan kita lahir ke alam dunia ini dari rahim ibu.
Seperti kita ketahui, sebelum bayi lahir, air ketuban akan keluar terlebih dahulu guna membuka jalan untuk lahirnya si jabang bayi ke dunia ini.
Lantaran air ketuban (kawah) keluar terlebih dulu, maka masyarakat Kejawen menyebutnya Kakak/Kakang (saudara lebih tua) yang hingga kini dikenal dengan istilah Kakang Kawah.

»Adhi Ari-Ari
Sedangkan yang disebut dengan adhi ari-ari adalah ari-ari jabang bayi itu sendiri.
Urutan kelahiran jabang bayi adalah, air ketuban terlebih dulu, setelah itu jabang bayi yang keluar dan dilanjutkan dengan ari-ari.
Karena ari-ari tersebut muncul setelah jabang bayi lahir, maka masyarakat Kejawen biasanya mengenal dengan sebutan Adhi/adik Ari-ari.

»Getih
Getih memiliki arti darah.
Dalam rahim ibu selain si jabang bayi dilindungi oleh air ketuban, ia juga dilindungi oleh darah.
Dan darah tersebut juga mengalir dalam sekujur tubuh si jabang bayi yang akhirnya besar dan berwujud seperti kita ini.

»Puser
Istilah Puser adalah sebutan untuk tali pusar yang menghubungkan antara seorang ibu dengan anak yang ada dalam rahimnya.
Dengan adanya tali pusar tersebut, apa yang dimakan oleh sang ibu, maka anaknya pun juga ikut menikmati makanan tersebut dan disimpan di Ari-Ari.
Disamping itu, pusar juga digunakan oleh si jabang bayi untuk bernapas.
Oleh karena itu, hubungan antara ibu dengan anaknya pasti lebih erat lantaran terjadinya kerjasama yang rapi untuk meneruskan keturunan.
Semuanya itu atas kehendak dari Gusti Allah Yang Maha Kuasa.

Ketika seorang jabang bayi lahir ke dunia dari rahim ibu, maka semua unsur-unsur itu keluar dari tubuh si ibu.
Unsur-unsur itulah yang oleh Gusti Allah ditakdirkan untuk menjaga setiap manusia yang ada di muka bumi ini.
Maka bila masyarakat Kejawen hingga kini mengenal adanya doa yang menyebut saudara yang tak tampak mata itu secara lengkap yaitu

“KAKANG KAWAH, ADHI ARI-ARI, GETIH, PUSER, KALIMO PANCER”.

»Pancer
Lalu siapakah yang disebut dengan istilah Pancer?
Yang disebut dengan istilah Pancer itu adalah si jabang bayi itu sendiri.
Artinya, sebagai jabang bayi yang berwujud manusia, maka dialah pancer dari semua ‘saudara-saudara’nya yang tak tampak itu.

Kesamaan Dengan Islam
Antara ajaran Kejawen dengan Islam ada kesamaannya.
Dalam Islam disebutkan bahwa setiap manusia dijaga oleh malaikat-malaikat yang ditugaskan oleh Tuhan.
Siapa saja malaikat-malaikat itu? Malaikat-malaikat yang ditugaskan oleh Gusti Allah untuk setiap manusia itu antara lain, Jibril, Mikail, Izroil dan Isrofil.

Nah, kesamaan antara ajaran Kejawen dan Islam tersebut yakni Kakang Kawah yang disebutkan sebagai pembuka jalan si jabang bayi, itu di Islam dianggap sama dengan Jibril (Penyampai Wahyu). Malaikat Jibril lah yang membuka jalan bagi keselamatan sang bayi hingga lahir ke dunia.

Sedangkan Adhi Ari-ari yang disebut-sebut di dalam ajaran Kejawen, di dalam Islam dianggap sama dengan Mikail (Pembagi Rezeki).
Karena lewat Ari-Ari itulah si jabang bayi dapat hidup dengan sari-sari makanan yang didapatkan dari seorang ibu.

Sementara Getih (darah) , bagi orang Kejawen, pada pemahaman orang Islam dianggap sama dengan keberadaan malaikat Izroil (pencabut nyawa). Buktinya, jika tidak ada darahnya, apakah manusia bisa hidup?

Yang terakhir adalah Puser.
Dalam pemahaman masyarakat Kejawen, Puser adalah sambungan tali udara (napas) antara sang ibu dengan anaknya.
Nah, pada pemahaman Islam, Puser ini dianggap sama dengan Isrofil (Peniup Sangkakala).
Meniup sangkakala menjelang kiamat Qubro (kiamat Besar) adalah dengan napas.

Oleh karena itu, kita wajib mengenali siapa penjaga-penjaga tak nampak yang sudah diperintahkan Gusti Allah untuk senantiasa mendampingi kita.
Dengan kita mengenali keberadaan mereka, akhirnya mereka nantinya bisa mawujud (berwujud).
Dan yang perlu diingat lagi, jika kita sudah melihat wujud mereka, maka hendaknya kita senantiasa memuji atas kebesaran Gusti Allah yang Maha Agung.
Karena atas titah Gusti Allah-lah kita semua bisa hidup berdampingan dengan penjaga-penjaga yang disebut dengan Sedulur Papat, Kalimo Pancer.
Ingin menguasai keilmuan ini secara pratis, mudah, aman, dan materi langsung praktek langsung silahkan.

GARIS KETURUNAN ARAB

Suku Arab-Indonesia adalah penduduk Indonesia yang memiliki keturunan etnis Arab dan etnis pribumi Indonesia. Pada mulanya mereka umumnya ...